Posts

Showing posts from 2016

White Death Bab Satu

Percayalah, kau tak ingin mengetahui apa pun tentangku. Dunoon, Skotlandia Pemakaman itu berlangsung khidmat. Tidak banyak tamu yang datang, hanya beberapa tetangga dan teman dekat, itu karena orang-orang begitu ketakutan untuk menghadiri pemakaman itu.  Berita tentang kematian Ashley memang menggegerkan banyak orang, bahkan tersiar sampai ke surat kabar. Diberitakan tubuhnya terkoyak menjadi beberapa bagian, polisi bahkan sampai sulit mengenali wajahnya. Sepasang bola matanya memutih dan kulit wajahnya terkelupas. Bahkan manusia terbejat sekali pun tidak akan melakukan itu. Jadi, jika bukan manusia lalu siapa, atau apa yang begitu tega sekali melakukan hal tersebut kepada Ashley? Kematian itu pun begitu tiba-tiba. Dari penuturan beberapa tetangga, Ashley terlihat sehat dan segar bugar sore itu. Dia membuat cake muffin yang lezat dan membagi-bagikannya kepada beberapa tetangga di blok tempat tinggalnya. Ashley memang terkenal sebagai wanita yang baik hati dan ramah. ...

Om Zikron dan Pohon Jambunya

Image
Om Zikron dan Pohon Jambunya Mega Ayu Rullysha Saat aku masih bocah, teman-teman mengenalku sebagai pemanjat pohon yang ulung. Mereka mengandalkan kemampuanku untuk mengambil buah-buahan langsung dari pohonnya. Aku tidak tahu apakah mereka mempercayai kemampuanku atau hanya memanfaatkan, tapi aku tidak pernah keberatan. Tanpa diminta aku akan tetap memanjat, karena ketika berada di atas pohon rasanya jauh lebih menyenangkan. Ada beberapa pohon yang pernah kupanjat: pohon kersen di belakang rumah Bibi  Tini, pohon rambutan yang banyak semutnya, dan pohon mangga di halaman depan rumah nenek. Namun, pohon kersen-lah yang paling sering kupanjat karena buah kersen tidak tumbuh menyesuaikan musim. Dalam seminggu aku akan berburu buah kersen bersama teman-teman sebanyak dua hingga tiga kali. Sepanjang masa kanak-kanak, ada satu pohon yang membuatku begitu penasaran dan ingin sekali memanjatnya, yaitu pohon jambu air. Pohon jambu air itu tumbuh menjulang tinggi d...

Ingatan yang Hilang

Image
Selamat malam. Ingatan yang hilang. Judul cerpen ini saya pilih ketika saya merasa bahwa ada sebagian dari ingatan saya yang hilang. Entah hilang ke mana. Padahal kepala saya tidak terbentur. Tidak juga mengalami kepikunan. Cerpen ini tersiar di Minggu Pagi di Minggu ke IV November 2016. Atas permintaan beberapa teman, akhirnya cerpen ini saya posting di blog. Ini versi asli yang saya tulis, tapi menurut redakturnya ada sedikit yang beliau edit. Selamat membaca. Ingatan yang Hilang Oleh: Mega Ayu Rullysha             “Alena, jika kau ingin mendapatkan kembali sebagian ingatanmu yang hilang, temui aku malam ini, pukul tujuh di koridor timur Stasiun Tawang,” kata seorang lelaki di seberang saluran.             Alena bergeming dengan gagang telepon di genggaman. Dia tidak tahu siapa lelaki yang meneleponnya. Berulang kali ia bertanya, tapi l...
Image
Puisi-puisi Oleh: Mega Ayu Rullysha Pukul 1 Dini Hari Aku terbangun pukul 1 dini hari dan tak bisa tidur lagi Melihat ke luar jendela Menatap lampu-lampu gedung apartement yang dipadamkan pemiliknya Desau angin Desing kendaraan yang melaju di tengah jalan ibu kota Terdengar seperti merapal namamu Kau hilang, Sayang Bayangmu pintang Beserta semua kisah tentang kita yang tertinggal dan aku menamakannya kenangan. Samarinda, 5 Agustus 2016 Tercerai Berai Aku tercerai berai di sini Bagai noktah jingga di ujung aksa Yang jelaskan rasa tanpa asa Lihatlah fajar yang terbit di Timur sana Dia membawa wajahmu dalam kenang Dan aku sendirian Terlelap dalam perut sunyi, dipintal rindu yang memabukkan Aku tercerai berai di sini Tanpamu, aku tak pernah utuh Tanpamu, aku tak pernah satu Selalu rupa raga ambigu Samarinda, 19 Agustus 2016

Pengantin Dari Masa Lalu

Image
Saya seneng banget, karena semenjak hape saya hilang ... Ya sekitar 2 mingguan yang lalu, saya nggak bisa masuk blog karena lupa passwordnya. Makanya sekarang seneng banget karena udah bisa masuk lagi, meski nggak ngerti tadi caranya gimana. Asal ketik, tau-tau masuk ke blog. Alhamdulillah. Setelah cukup lama libur nulis, untuk kesempatan kali ini saya mau nge-share salah satu cerpen. Bukan cerpen terbaru sih, cerpen lama juga, dan udah pernah terbit di website pesantren penulis. Tapi mungkin masih banyak yang belum baca ya, so ... Check thia out! Puchri memicingkan matanya sekali lagi. Mengerjap. Mengerjap lagi. Memastikan sosok seorang pria yang duduk di depan meja bar di tengah keremangan cahaya lampu club. Tiba-tiba bahunya melorot, Puchri menarik napas dalam, menangkap aroma masa lalu dari udara yang dihirupnya. Suara di dalam hatinya mengumpat. Sialan, itu memang dia! "Berhenti melakukan hal itu!" Suara cadel seorang pria mengejutkannya. Puchri menoleh. Seo...

Jangan Salahkan Pria Karena Wanita Selalu Benar (Mengenai Tari Hudoq)

Image
I love culture. Saya sangat mencintai budaya, tidak hanya Indonesia tercinta, tapi juga kebudayaan luar. Itulah alasannya kenapa saya selalu menyelipkan sedikit unsur budaya dalam beberapa cerbung yang saya post di facebook, meskipun saya yakin, tidak semua pembaca cerbung saya menyerapi apa-apa yang saya tulis, kecuali quote-quote cinta yang menurut mereka indah (maaf). Entah kenapa saya merasa budaya adalah satu kesatuan yang seharusnya mendarah daging dalam diri kita, karena sebagai bangsa Indonesia dari budayalah kita berasal, kita dikenal, dan kita disegani. Namun, pada kenyataannya, di era EGP (emang gue pikirin) saat ini, banyak orang-orang, atau anak muda/kaum remaja khususnya yang tidak mengenal/tidak tahu budaya mereka sama sekali. Sebagai contoh, ada yang bertanya--yang tidak perlu saya sebutkan namanya di sini--(karena toh kalian tidak kenal juga, dan selain itu saya takut dituntut karena pencemaran nama baik).  "Kamu lagi baca apaan?" Dan saya jawab,...

Himne Bapak

Image
Tersiar di Koran Sastra Dinamikanews 29-3-2016 Ibu mengobati rasa sakit hatinya dengan pindah rumah. Di lingkungan baru ini, tidak ada seorang pun mengenali kami, juga tidak ada seorang pun yang mengenali bapak. Jika ada yang bertanya pada ibu ke mana suaminya, ibu akan bilang suaminya sudah meninggal. Begitu pula ibu berpesan padaku, jika ada orang yang bertanya kemana bapakku, aku harus mengatakan kalau bapak sudah meninggal. Aku menanyakan alasannya, dan ibu bilang itu yang terbaik, agar tidak ada lagi orang-orang yang menghina bapak. Jadi, jika ada yang bertanya mengenai bapak, aku akan menjawab bahwa bapak sudah meninggal, meskipun belum. Seperti yang ibu bilang, ini demi kebaikan bapak, bukan karena takut menanggung malu dengan menceritakan keadaan bapak yang sebenarnya, tapi lebih dari itu, aku dan ibu menyayangi beliau, hingga tidak tahan rasanya jika mendengar atau membayangkan seseorang memburukkan bapak di belakang. *** Profesi bapakku bukanlah p...

Kolam Teratai Ibu (Terinspirasi oleh cerpen AA Navis, Rubuhnya Surau Kami)

Image
Sudah lama saya tidak menulis di blog, karena terlalu disibukkan dengan kegiatan menulis lanjutan-lanjutan cerbung yang saya posting di facebook, juga karena akhir-akhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca cerpen dan novel. Karena kebanyakan membaca dan menulis cerbung, jatuhnya saya jadi eneg sama kata-kata. Ternyata memang benar kata orang (yang tidak saya kenal) bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak terlalu baik.  Beruntung selama dua hari berturut-turut ini ada yang kembali membangkitkan semangat saya untuk kembali menulis--termasuk menulis di blog. Itu karena dua cerpen saya akhirnya terbit. Ini cerpen pertama dan kedua yang saya tulis dengan nama pena--di luar dari nama pemberian orangtua. Saya akan share cerpen-cerpen itu nantinya di blog ini, tapi bukan sekarang, melainkan suatu hari nanti aku akan kembali untuk mempertanyakan cintanya. Loh?! Hihihi ... By the way, hari ini saya mau share satu cerpen yang saya tulis agustus tahun lal...