White Death Bab Satu

Percayalah, kau tak ingin mengetahui apa pun tentangku.

Dunoon, Skotlandia

Pemakaman itu berlangsung khidmat. Tidak banyak tamu yang datang, hanya beberapa tetangga dan teman dekat, itu karena orang-orang begitu ketakutan untuk menghadiri pemakaman itu. 

Berita tentang kematian Ashley memang menggegerkan banyak orang, bahkan tersiar sampai ke surat kabar. Diberitakan tubuhnya terkoyak menjadi beberapa bagian, polisi bahkan sampai sulit mengenali wajahnya. Sepasang bola matanya memutih dan kulit wajahnya terkelupas. Bahkan manusia terbejat sekali pun tidak akan melakukan itu. Jadi, jika bukan manusia lalu siapa, atau apa yang begitu tega sekali melakukan hal tersebut kepada Ashley?

Kematian itu pun begitu tiba-tiba. Dari penuturan beberapa tetangga, Ashley terlihat sehat dan segar bugar sore itu. Dia membuat cake muffin yang lezat dan membagi-bagikannya kepada beberapa tetangga di blok tempat tinggalnya. Ashley memang terkenal sebagai wanita yang baik hati dan ramah. Dia juga senang berbagi dan menolong orang. Semenjak bercerai dengan Peter dua tahun lalu, dia tinggal bersama anak laki-lakinya, Samuel, bocah imut berusia 8 tahun yang selalu ceria. Ashley merawat anaknya dengan baik. Dia tak pernah terdengar mengeluh saat mendidik anak itu.

Tak ada seorang pun yang bisa mengungkap misteri di balik kematian Ashley. Polisi pun angkat tangan. Mereka malah mengaitkannya dengan sebuah mitos. Mitos apa? Tidak akan kukatakan di sini. Aku masih belum mau menceritakannya. Biarkan saja cerita ini mengalir sampai akhirnya nanti kau mengetahuinya sendiri.

Aku hanya akan menceritakan detik-detik sebelum kematian memanggil Ashley. Hanya sedikit. 

Sore itu, Gina, wanita muda yang tinggal di seberang rumahnya mengalami sakit perut yang teramat sangat. Gina tengah mengandung, dan diduga ia akan melahirkan.  Suaminya tidak ada di rumah, dan Ashley pun mengambil tindakan. Ia membawa Gina ke rumah sakit. Para tetangga memuji ketanggapan Ashley dalam mengambil tindakan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di rumah sakit setelah itu. Malamnya, Nyonya Gugingham melihat  Ashley pulang dengan wajah pucat dari balik tirai jendela rumahnya. Dia menduga Ahsley kurang enak badan. Ashley berjalan cepat-cepat sambil menggandeng tangan Samuel. Keduanya masuk dan tidak keluar lagi. Esoknya, Ashley ditemukan tewas oleh Harry, suami Gina, yang datang ingin berterima kasih padanya.

Kematian Ashley sulit dipercaya, dan lebih mencengangkan lagi karena Samuel baik-baik saja. Bocah berusia 8 tahun itu ditemukan selamat bersembunyi di dalam lemari pakaian. Tidak ada luka sedikit pun, tapi dia terlihat begitu trauma. Menurutku wajar jika Samuel trauma. Dia baru saja menyaksikan hal terburuk yang terjadi pada ibunya. Samuel begitu ketakutan. Para tetangga dan beberapa polisi membujuk dan mencoba menanyainya, tapi Samuel hanya mengatakan, “Percayalah, kau tidak ingin tahu  apa yang terjadi.”. Dan itu membuat mereka juga merasakan ketakutan yang sama seperti yang dialami Samuel.

***

“Kau sudah mendengar beritanya? Tubuhnya terkoyak, kedua bola matanya memutih. Aku yakin dia yang melakukannya.”

“Siapa yang kau maksud, Nyonya Gugingham?”

“Kau tahu siapa yang kumaksud Nyonya Martha. Siapa lagi kalau bukan dia.”

“Hentikan! Jangan menyebut nama itu. Aku tidak ingin mendengarnya.”

Lindsay pun tak berniat untuk mendengarnya, tapi ia tak sengaja mendengar percakapan bisik-bisik oleh kedua tetangga Ashley. Lindsay tak percaya, di upacara pemakaman Ashley masih saja ada orang yang membicarakan kematiannya. Memang kematian Ashley begitu menarik untuk dibicarakan, bahkan sudah beberapa hari ini koran lokal terus menerbitkan beritanya. Kematian itu masih menjadi misteri. Awalnya beberapa orang mengaitkan kematian itu dengan perampokan, tapi fakta yang ada, menunjukkan bahwa tidak ada yang hilang atau diambil di rumah Ashley. Semua masih ada pada tempatnya. Satu-satunya kunci yang mengetahui benar peristiwa kematian Ashley hanyalah Samuel, tapi anak itu tak mau menceritakannya pada siapa pun, bahkan lebih senang mengurung diri di kamar. Meringkuk di balik selimut.

“Kau melihat Sam?’ tanya Peter pada Lindsay yang baru selesai dari menyalami beberapa tamu.

“Sam di kamarnya. Dia terus meringkuk di balik selimut. Sebaiknya kau menemuinya, mungkin dia membutuhkanmu. Biar aku yang mengurus tamu-tamu ini,” kata Lindsay pengertian. Peter berterima kasih dan mengecup pipi kanan Lindsay, kemudian ia naik ke lantai dua dan mendatangi Sam di kamarnya.

Pintu diketuk. Peter tak perlu menunggu jawaban Sam untuk membuka pintunya. Dia memutar kenop dan mendorong pintu itu hingga terbuka. Dari atas kasur terlihat Sam sedang bergerak risih. Peter menghampiri Sam dan duduk di pinggir ranjang.

“Sam, kau baik-baik saja?”

“Tidak,” jawab Sam dingin.
Peter jadi mati kutu. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Sam yang saat ini begitu terguncang. Dia sendiri tidak bisa membayangkan seandainya dia yang menjadi Sam, dan melihat sendiri bagaimana seseorang itu, atau sesuatu itu menghabisi ibunya.

“Kau ingin sesuatu yang manis? Aku akan mengambilkannya di bawah.” Peter baru saja akan beranjak, dan Sam menyembulkan kepalanya dari balik selimut dan menahan kepergian Peter.

“Aku mohon, jangan ke mana-mana. Temani saja aku.”
Peter duduk kembali. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Sam. Sudah lama dia tidak mencurahkan kasih sayangnya untuk Sam. Tepatnya hampir 2 tahun ini. Sam rebah di dadanya, dan Peter merangkulkan kedua tangannya mendekap tubuh Sam.

“Percayalah, Sam, setelah ini semua akan baik-baik saja.”

***

New York

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata New York? Gedung-gedung tinggi, kota yang tak pernah tidur, orang-orang yang berjalan kaki dengan cepat, atau Hermes, Prada, dan glamour? Aku? Kematian. 

Di tengah hiruk pikuk kau merasa jauh lebih aman dibanding ketika kau sendirian, tapi di situlah dia berada, bersembunyi di balik keramaian, berbaur dengan banyak orang, sehingga perasaanmu yang paling halus pun tak akan sanggup mencium baunya.

Sam selalu menoleh ke belakang dari taksi yang ditumpanginya bersama Peter dan Lindsay. Dia memastikan bahwa orang itu, atau sesuatu itu sudah tidak mengikutinya lagi. Sam selalu merasa diikuti setelah kematian ibunya malam itu. Sam kembali berbalik. Dia gelisah. Wajahnya pucat. Ada lingkar abu-abu di bawah matanya yang membuatnya terlihat seperti orang sakit. Sam memeluk boneka teddy-nya lebih erat. Boneka teddy buatan sang ibu, yang sangat disayanginya.

Peter membawa Sam ke New York karena tidak mungkin meninggalkan Sam di Skotlandia. Sam tidak punya siapa pun lagi di sana selain dirinya sebagai satu-satunya orangtua Sam yang hidup. Lindsay pun terlihat senang. Berulang kali ia memandangi Sam sambil tersenyum. Ada bintik-bintik hitam kecil di wajah Sam, dan Lindsay merasa itu sangat menggemaskan. Sudah satu tahun lebih usia pernikahannya dengan Peter, tapi dia belum juga dikarunia anak. Dengan adanya Sam di rumah mereka, akan ada banyak kebahagian. Setidaknya itulah yang dibayangkannya. Lindsay sudah membayangkan hari-harinya yang nanti akan menyenangkan bersama Sam. Dia punya alasan untuk berteriak di pagi hari membangunkan Sam, mengurus sarapan anak itu, dan mengantarnya sekolah. Dia juga punya alasan untuk pulang cepat dan memastikan segalanya telah tersedia untuk Sam. Meskipun Sam bukan anak yang keluar dari rahimnya, tapi Sam adalah anak Peter, pria yang dicintainya, dan sama seperti Ashley, dia akan menyayangi Sam sepenuh hati.

Sam mendongakkan kepalanya melihat gedung 20 lantai yang berdiri di depannya. Ada beberapa anak yang sedang bermain lompat tali di depan gedung tersebut, juga sepasang pohon birkin dengan daun-daunnya yang berwarna hijau pucat di sisi kiri kanan tangga yang terhubung dengan beranda. Lindsay meraih dan menggenggam tangan Sam. 

“Kita sudah sampai.” Wanita itu terdengar bahagia sekali, tapi Sam hanya tersenyum sekadarnya. Keningnya berkerut. Dia belum pernah ke New York sebelumnya, hanya beberapa kali mendengar namanya dari sang ibu, dan Sam sangat asing dengan kota terbesar di dunia itu. New York terlalu ramai, terlalu bising, terlalu sibuk, dan tampak tak bersahabat.

Orang-orang berjalan cepat sambil bercuap-cuap dengan ponsel atau earphone di telinga mereka, bahkan ada yang berlari, dan orang-orang tidak saling peduli pada apa yang ada di dekat mereka. Klakson-klakson kendaraan berteriak, pengendara sepeda begitu ugal-ugalan dengan menyelip di antara taksi-taksi yang terjebak kemacetan.

Sam menjatuhkan perhatiannya pada beberapa  anak seumurannya yang sedang bermain lompat tali tidak jauh di depannya. Seorang anak laki-laki duduk mengamati Sam dari tangga semen, yang terhubung dengan beranda gedung apartement sederhana tersebut.

“Siapa dia, Lindsay?” tanya anak laki-laki yang mengamatinya itu. Anak itu terdengar sedikit berteriak, mungkin dia khawatir suaranya akan kalah oleh klakson mobil yang dibunyikan bersamaan.

“Dia Samuel, anakku. Kami baru menjemputnya dari Skotlandia. Kuharap kalian bisa menjadi teman baik untuk Sam,” sahut Lindsay kegirangan.

Anak-anak yang sedang bermain lompat tali tersebut menghentikan kegiatan mereka sejenak dan melambai kepada Sam sambil menyapanya. “Hay, Sam.” Tapi Sam tak berminat untuk membalas sapaan tersebut, namun dia ikut melambaikan tangan, agar tidak dikira sombong.

Sam berbalik, melihat Peter mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi belakang taksi, dan Sam terlonjak kaget di tempatnya. Seorang bocah perempuan dengan gaun lusuh dan kotor berdiri di belakang Peter. Wajahnya tanpa ekspresi. Sam kembali berbalik. Menutup mata rapat-rapat. Makhluk itu … ternyata makhluk itu mengikutinya. 

***

Setelah makan malam, Lindsay mengantar Sam ke kamarnya. Ini malam pertamanya di New York, dan Sam tidak bisa tidur. Kamarnya begitu gelap. Lindsay mematikan lampu ruangan itu sebelum ia keluar dari kamar.

Perasaan Sam sedikit lebih tenang, tapi pikirannya begitu kacau. Makhluk itu … Sam mengira makhluk itu tidak akan mengikutinya sampai ke New York. Dia berpikir, bagaimana mungkin makhluk itu bisa berada di New York? Bagaimana caranya? Apakah makhluk itu juga menumpang sebuah pesawat sepertinya? Tapi, pesawat macam apa yang membawa penumpang seorang hantu? Hantu! Sam terperanjat setelah menyadari bahwa makhluk itu adalah hantu. Sam mulai berpikir, ya, mungkin dia menumpang dengan pesawat hantu. 

Sam bermain-main dengan pikiran polosnya. Jari-jarinya mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada. Jantungnya berdebar. Perasaannya mulai goyah. Sam ketakutan. Ia menarik selimut itu hingga menutupi seluruh wajahnya. Dia meringkuk, menautkan kedua tangannya erat-erat, menutup mata, dan berdoa … semoga ibunya melindunginya. 

***

Peter sedang membaca buku ketika Lindsay keluar dari kamar mandi sehabis membasuh wajah dan menggosok gigi. Dia menuju tempat tidur, dan berbaring di samping Peter.

“Kau senang akhirnya Sam berada di New York bersama kita kan?” Lindsay mengajak Sam bicara. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya.

“Aku senang dia ada di sini, tapi alasan kenapa dia berada di sini sekarang … itu sangat menyedihkan,” jawab Peter yang kembali teringat Ashley.

“Menurutmu, apa yang terjadi dengan Ashley? Saat acara pemakaman, aku mendengar beberapa tetangga membicarakan tentang kematiannya yang misterius dan mengenaskan. Mereka seperti mengait-ngaitkan ini dengan sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang membuat tidak seorang pun mau mendengar atau membicarakannya. Kau tahu apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan, Peter? Kau pernah tinggal di sana selama lima tahun. Kau mungkin tahu sesuatu.”

Peter menutup buku dan meletakkannya di atas nakas. Ia menatap lurus ke depan, dan mengerutkan kening. Peter sedang berpikir, apa yang sebenarnya sedang dibicarakan Lindsay?

“Aku tidak mengerti maksudmu,” ucapnya pada akhirnya.

Lindsay mengangkat bahunya.

“Sama, aku juga. Aku hanya merasa ... aneh. Semua ini aneh dan membingungkan.”

“Bisakah kita tidak membicarakan tentang ini lagi? Aku selalu sedih setiap kali menyadari bahwa Ashley meninggal dengan cara yang aneh.”

“Baiklah, maafkan aku ya.”
Peter mengangguk. Dia mengecup kening Lindsay, kemudian berbaring memunggungi istrinya. “Ini sudah larut. Kita tidur saja. Selamat malam.”[]

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3