Om Zikron dan Pohon Jambunya



Om Zikron dan Pohon Jambunya
Mega Ayu Rullysha


Saat aku masih bocah, teman-teman mengenalku sebagai pemanjat pohon yang ulung. Mereka mengandalkan kemampuanku untuk mengambil buah-buahan langsung dari pohonnya. Aku tidak tahu apakah mereka mempercayai kemampuanku atau hanya memanfaatkan, tapi aku tidak pernah keberatan. Tanpa diminta aku akan tetap memanjat, karena ketika berada di atas pohon rasanya jauh lebih menyenangkan.

Ada beberapa pohon yang pernah kupanjat: pohon kersen di belakang rumah Bibi  Tini, pohon rambutan yang banyak semutnya, dan pohon mangga di halaman depan rumah nenek. Namun, pohon kersen-lah yang paling sering kupanjat karena buah kersen tidak tumbuh menyesuaikan musim. Dalam seminggu aku akan berburu buah kersen bersama teman-teman sebanyak dua hingga tiga kali.

Sepanjang masa kanak-kanak, ada satu pohon yang membuatku begitu penasaran dan ingin sekali memanjatnya, yaitu pohon jambu air.

Pohon jambu air itu tumbuh menjulang tinggi dan kokoh di samping rumah Om Zikron. Batangnya berwarna cokelat gelap serta ditumbuhi lumut di beberapa bagian. Daunnya yang rimbun membuat pohon itu tampak nyaman dijadikan tempat berteduh di kala siang dan menyeramkan di saat malam. Daun-daunnya yang kering kerap jatuh menyeraki halaman samping rumah Om Zikron. Membuat halaman itu tak pernah terlihat bersih.

Bila tiba saatnya pohon itu berbuah, ramai anak-anak kecil sepertiku dan teman-teman memunguti buah jambu air yang jatuh oleh embusan angin. Jika Om Zikron tidak ada di rumahnya, aku menggunakan kayu panjang untuk menjangkau buahnya yang  rata-rata belum terlalu matang. Kadang, aku juga menggunakan batu-batu kecil dan melontari buahnya agar terjatuh.

Tidak ada yang berani mengambil buah jambu air yang masih bergelantungan di pohon. Tidak ada juga yang berani memanjat pohon itu, termasuk aku. Om Zikron, si pemilik pohon tidak keberatan jika aku dan teman-teman memunguti buah jambu air yang sudah jatuh. Tapi, Om Zikron selalu memberi peringatan agar tidak ada yang melempari buah jambunya dengan batu atau memanjat pohon jambu airnya tersebut. Laki-laki yang mungkin saat itu sudah berusia lima puluh tahunan tersebut mengumbar desas desus tentang hantu kuntilanak yang sering mangkal di atas pohonnya. Itu membuat anak-anak takut dan tak ada yang berani mendekati pohon itu bila sendirian.

Saat aku menceritakannya pada ibu, beliau malah membenarkan kata-kata Om Zikron. Ibu bilang, beliau tidak pernah melihat langsung hantu kuntilanak tersebut, tapi pohon jambu air itu sudah ada sejak beliau kecil. Ibu bilang, pohon yang sudah berusia puluhan, atau bahkan ratusan tahun tak jarang akan menjadi tempat tinggal dedemit.

Apa pun yang dipercayai ibu dan apa pun yang dikatakan Om Zikron, aku tetap tidak percaya kalau pohon itu ada penunggunya. Menurutku itu hanya akal-akalan Om Zikron agar tidak ada yang mengambil buah jambu airnya. Aku dan teman-teman tahu kalau Om Zikron tidak suka miliknya diusik orang lain. Lelaki yang hampir seluruh rambutnya memutih itu juga tidak menyukai anak-anak.

Om Zikron tinggal seorang diri. Dia tidak pernah menikah, dan aku juga tidak tahu apakah dia punya keluarga atau tidak. Tapi, jika dilihat dari perangainya yang selalu bersikap kasar pada orang lain, aku yakin dia tidak punya siapa pun yang mau menganggapnya keluarga.

Lelaki yang kesehariannya bekerja sebagai penjual air ledeng keliling tersebut sering sekali memarahi anak kecil jika bermain di depan halaman rumahnya, apalagi jika ada yang ketahuan berusaha memanjat pohon jambu airnya. Om Zikron tidak akan segan mengusir sambil melempar sandal atau apa saja yang ada di dekatnya. Perangai buruknya itu tak jarang membuat Om Zikron berada dalam masalah. Kadang, ada saja orangtua dari anak yang dimarahinya tak terima dan melabrak balik Om Zikron. Tidak hanya itu. kadang ada juga beberapa anak kecil yang dendam dan membalasnya dengan mengempeskan ban gerobak yang sering digunakan Om Zikron untuk menjajakan air ledeng yang ia jual.

Namun, dibalik sikap kasar dan perangai buruknya, di beberapa kesempatan Om Zikron juga pernah berbuat baik dan ramah pada orang lain. Salah satunya aku. Saat itu aku baru pulang sekolah bersama Dahlia. Dari kejauhan aku melihat Om Zikron yang berusaha  turun dari pohon jambunya. Ia terpeleset saat menuruni pohon tersebut, tapi beruntung tidak sampai terhempas ke tanah. Aku dan Dahlia menertawakannya. Saat Om Zikron menatap ke arahku, mulutku langsung bungkam. Tawaku terpaksa kutelan kembali. Kulihat ditangannya yang berurat, Om Zikron menenteng kantung kresek bening berukuran besar berisi jambu air.

Warna-warna dari jambu air yang merah cerah, serta ukurannya yang terbilang cukup besar menerbitkan air liurku hingga tak sadar aku telah menelan ludah. Aku yakin, saat itu Dahlia juga pasti mengalami hal yang sama denganku.

Saat melintasi halaman rumah Om Zikron, aku dan Dahlia sengaja mempercepat langkah. Aku tidak mau kena bentak hanya karena tadi telah tertangkap basah menertawakannya yang hampir terjatuh. Namun, di luar dugaan Om Zikron memanggilku dan Dahlia dengan nada suaranya yang ramah. Tidak biasanya.

Ragu-ragu aku dan Dahlia menghampiri Om Zikron. Ia meminta kami menunggu sebentar, sementara ia masuk ke rumah. Setelah beberapa saat Om Zikron kembali keluar sambil menenteng beberapa kantung kresek yang lebih kecil dan membagikannya kepadaku dan Dahlia.

“Ini buat kalian berdua. Sisanya tolong bagikan sama yang lain.”

Aku menatapnya tak percaya. Pikirku, mungkin Om Zikron baru saja dapat kabar bahagia, atau mungkin dia baru saja dapat banyak rezeki, makanya mendadak jadi baik seperti itu. Atau mungkin, aku hanya sedang bermimpi? Entahlah, yang pasti kantung kresek berisi jambu air ada di tanganku.

“Lihat kan, kalau buahnya sudah matang semua, baru boleh diambil. Kalau begini kan bisa dimakan sama-sama,” katanya lagi, dengan senyum mengembang lebar di bibirnya.

Aku dan Dahlia hanya mengangguk. Usai mengucapkan terima kasih, gegas kami berlari dengan kantung-kantung kresek berisi jambu air untuk dibagikan kepada teman-teman yang lain.

Begitulah Om Zikron. Dia punya pola pikir yang rumit untuk bisa dipahami oleh anak-anak sepertiku saat itu. Namun setelah puluhan tahun berlalu, barulah aku mengerti apa alasan Om Zikron tidak memperbolehkan buah jambunya yang masih di pohon dipetik sebelum waktunya. Dia juga tidak memperbolehkan anak-anak memanjat pohonnya karena pohon itu sudah terlalu tua dan berlumut sehingga licin. Dia tidak ingin ada anak-anak yang celaka.

Om Zikron sudah lama almarhum. Aku bahkan tidak tahu apa penyebab kematiannya. Aku sudah tidak tinggal di sana saat ia meninggal. Namun sesekali aku datang berkunjung ke kampung halaman. Semuanya berubah. Rumah Om Zikron sudah tidak ada lagi, berganti bangunan ruko berlantai dua. Begitu juga dengan pohon jambu airnya. Pohon yang selalu membuatku penasaran, bagaimana rasanya ketika memanjat dan berada di atas pohon itu.(*)

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3