Jangan Salahkan Pria Karena Wanita Selalu Benar (Mengenai Tari Hudoq)
I love culture.
Saya sangat mencintai budaya, tidak hanya Indonesia tercinta, tapi juga kebudayaan luar. Itulah alasannya kenapa saya selalu menyelipkan sedikit unsur budaya dalam beberapa cerbung yang saya post di facebook, meskipun saya yakin, tidak semua pembaca cerbung saya menyerapi apa-apa yang saya tulis, kecuali quote-quote cinta yang menurut mereka indah (maaf).
Entah kenapa saya merasa budaya adalah satu kesatuan yang seharusnya mendarah daging dalam diri kita, karena sebagai bangsa Indonesia dari budayalah kita berasal, kita dikenal, dan kita disegani. Namun, pada kenyataannya, di era EGP (emang gue pikirin) saat ini, banyak orang-orang, atau anak muda/kaum remaja khususnya yang tidak mengenal/tidak tahu budaya mereka sama sekali. Sebagai contoh, ada yang bertanya--yang tidak perlu saya sebutkan namanya di sini--(karena toh kalian tidak kenal juga, dan selain itu saya takut dituntut karena pencemaran nama baik).
"Kamu lagi baca apaan?" Dan saya jawab, "referensi tentang tarian khas Kaltim, tari hudoq." Dan dengan seenak jidatnya, dia nyeletuk, "Masa sih tari hudoq itu dari Kaltim?"
Bukan salah dia, bukan salah siapa-siapa, bukan juga salah pria karena wanita selalu benar. Ini hanyalah ketidaktahuan yang amat sangat disayangkan.
Saya tidak menjawab pertanyaannya dengan kata-kata, karena kalau udah jengkel rasanya malas banget buat ngomong selain memperlihatkan bacaan saya padanya, dan dia ber "oh" saja.
Ya, karena hal itu, dan juga keresahan saya, akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentang Tari Hudoq, sebuah tarian khas Kalimantan Timur.
Gambar from google
Tari Hudoq adalah tarian khas Kalimantan Timur yang sering ditarikan oleh sub etnis dayak Bahau, Busang, Modang, Ao'heng, dan Panihing. Menurut kepercayaan mereka, Hudoq adalah 13 hama yang merusak tanaman seperti tikus , singa,
gagak, dan lain-lain.
Dalam festival tersebut Hudoq dilambangkan oleh penari yang mengenakan topeng yang mewakili hama dan kostum yang terbuat dari daun pisang.
Festival hudoq sendiri, diadakan setiap selesai menugal (menanam padi) di ladang. Tepatnya, kisaran antara September-Oktober setiap tahunnya. Makna dari festival ini sendiri yaitu, memohon berkat Tuhan agar padi yang ditanam nanti berlimpah ruah hingga membawa kemakmuran bagi masyarakat.
Penari Hudoq biasanya berjumlah 13 orang, yang melambangkan 13 dewa pelindung Hunyang Tenangan, yaitu dewa yang memelihara tanaman padi.
Tarian Hudoq merupakan salah satu tarian tradisional suku Dayak yang sangat kental dengan nuansa mistis. Namun, seiring berjalannya waktu, Tari Hudoq tidak saja diselenggarakan setelah menanam padi, melainkan juga pada acara-acara adat tertentu, bahkan kini sudah menjadi sarana hiburan di kalangan masyarakat.
Mengenai gerakan tariannya sendiri, saya tidak bisa jelaskan secara detail karena belum pernah nonton Tari Hudoq (tutup muka=malu) mungkin, lain kali, kalau saya jalan-jalan ke daerah hulu mahakam lagi.

Comments
Post a Comment