Ingatan yang Hilang
Selamat malam.
Ingatan yang hilang. Judul cerpen ini saya pilih ketika saya merasa bahwa ada sebagian dari ingatan saya yang hilang. Entah hilang ke mana. Padahal kepala saya tidak terbentur. Tidak juga mengalami kepikunan. Cerpen ini tersiar di Minggu Pagi di Minggu ke IV November 2016.
Atas permintaan beberapa teman, akhirnya cerpen ini saya posting di blog. Ini versi asli yang saya tulis, tapi menurut redakturnya ada sedikit yang beliau edit.
Selamat membaca.
Ingatan yang
Hilang
Oleh: Mega Ayu
Rullysha
“Alena, jika kau ingin mendapatkan
kembali sebagian ingatanmu yang hilang, temui aku malam ini, pukul tujuh di
koridor timur Stasiun Tawang,” kata seorang lelaki di seberang saluran.
Alena bergeming dengan gagang
telepon di genggaman. Dia tidak tahu siapa lelaki yang meneleponnya. Berulang
kali ia bertanya, tapi lelaki misterius itu tak mau memperkenalkan diri selain
mengatakan bahwa sebagian ingatan Alena yang hilang ada padanya.
Sebulan
yang lalu, Alena terbangun dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar di
rumah sakit. Kedua orangtuanya tersenyum
menyambutnya. Alena bertanya apa yang terjadi, dan ayahnya menjelaskan bahwa
Alena mengalami kecelakaan, tapi Alena tak mengingatnya. Dia bahkan tidak ingat
apa yang telah dilewatinya sebelum kecelakaan itu terjadi. Alena hanya
mengingat orangtuanya, beberapa teman dekat, dan momen saat ia wisuda tiga
bulan sebelumnya. Lewat dari masa itu, Alena tak mengingat apa pun lagi. Amnesia anterograde, itulah diagnosis
dokter pada Alena.
“Sebenarnya
kau itu siapa sih?!” desak Alena, mengentaskan rasa penasaran yang membuncah.
“Mungkin
kau akan tahu jika kita sudah bertemu, tapi jangan katakan pada siapa pun,
bahkan orangtuamu soal pertemuan kita. Bagaimana?”
“Aku harus pastikan dulu, apa setelah kau mengembalikan sebagian ingatanku, aku akan kembali mengingat semuanya?”
“Mungkin.” Lelaki itu terdengar ragu. “Soalnya saat kecelakaan kepalamu terbentur keras dan membuat sebagian ingatanmu terpental keluar dari kepala dan terserak ke mana-mana. Aku sampai kesulitan mengumpulkannya, dan semoga tak ada yang tertinggal.”
Kening Alena melukis kerut. Bagaimana bisa ingatannya terserak ke mana-mana? Memang ingatannya serupa kaca yang mudah pecah? Dia yakin, lelaki yang meneleponnya ini hanyalah orang iseng, namun sesuatu dalam dirinya sangat menginginkan ingatan itu kembali. Selama ini, Alena tersiksa dengan sebagian ingatannya yang hilang, dan dia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya tanpa ingatan itu.
“Baiklah, koridor timur Stasiun Tawang, pukul tujuh.”
***
“Kau selalu tampak mempesona,” ujar Alena memandang kagum pada bangunan rancangan arsitek Belanda Sloth Blauwboer di depannya. Bentuknya yang unik dan klasik selalu menimbulkan kekaguman pada siapa pun yang memandangnya. Atap kubahnya berpendar hijau disorot lampu, menambah pesona dan kecantikan stasiun kereta api yang hampir berusia satu abad tersebut.
Sebuah pertunjukan live musik akustik menyambut kedatangan Alena di lobi Stasiun Tawang yang bangunannya sangat kental dengan aroma Eropa abad pertengahan. Ia berhenti dan menikmati pertunjukan itu sejenak sebelum kembali berjalan menuju tempat janji temu.
Di koridor timur, Alena menyibukkan matanya mengawasi setiap lelaki yang melintas. Satu per satu, dan perhatiannya jatuh pada sosok lelaki yang berdiri di depan pintu masuk mini market tak jauh dari sana.
Tubuh lelaki itu tinggi dan tegap, rambutnya ikal. Lelaki itu memakai jaket kulit murahan berwarna hitam yang sudah kubas, membawa sebuah peti kayu berukuran kecil di tangan kanan, dan tengah memperhatikan Alena. Pandangan mereka bersirobok.
Dari tempatnya berdiri, Alena melihat lelaki itu tersenyum padanya, kemudian berjalan menghampirinya. Alena tak menghindar dan tak merasa takut sedikit pun. Melihat lelaki misterius itu, Alena justru merasa dekat, padahal semenjak kehilangan sebagian ingatan Alena selalu takut bila didekati lelaki yang tak ia kenal, apalagi yang mengaku mengenalnya.
“Apa kabar, Alena?” Lelaki itu menyapanya, tapi Alena tak menjawab.
“Kau yang tadi siang meneleponku?”
Lelaki itu mengangguk, kemudian mengulurkan tangan kanannya ke depan. “Ini sebagian ingatanmu. Sesuai janji akan kukembalikan jika kita bertemu.”
Alena menerima peti kayu yang terdapat ukiran di setiap sisinya tersebut. Matanya tak lepas memandang wajah si lelaki. Dia berharap akan mengingat wajah itu. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, wajah itu tetap asing di memorinya yang tersisa. Alena membuka kotak peti tersebut dan tergemap saat melihat isinya. Sebuah bola kristal yang bentuknya tidak utuh bulat, dan terdapat banyak bekas perekat. Alena merasa dipermainkan. Riak wajahnya berubah kesal.
“Apa-apaan ini?!”
“Itu ingatanmu yang hilang. Butuh waktu cukup lama dan lem yang banyak untuk menyatukan serpihan sebagian ingatanmu itu.” Lelaki itu tersenyum lagi pada Alena. “Kau mungkin tidak percaya kalau itu adalah sebagian dari ingatanmu, tapi jika kau memperhatikannya lebih dalam, mungkin kau akan menemukan aku di dalamnya. Kebersamaan kita sebelum kecelakaan itu membuatmu melupakanku.”
Cukup sudah. Alena mundur selangkah. Dia menyesal sudah datang menemui lelaki itu. Kini, lelaki asing itu mengaku pernah menjalani kebersamaan dengannya. Itu membuat Alena jeri. Kebersamaan seperti apa yang dimaksud? Ah, lagi-lagi Alena merasa kesal karena ketidak-mampuanya mengingat sebagian memori.
“Kita berkenalan di sini. Dulu, aku seorang pelancong yang datang untuk menjelah Semarang, dan kau membawaku menjelajahi Kota Lama. Kita pergi ke banyak tempat. Menebar kenangan di mana-mana. Kau mengatakan setiap tempat indah yang kita singgahi adalah remah kenangan yang suatu hari nanti akan kita kumpulkan lagi untuk mengingatnya kembali.”
“Alena, ingatkah kau, dulu aku memintamu menjadi kekasihku di depan Gereja Blenduk dan kau berterima kasih pada Hpa De Wilde dan W Westmas yang telah merancang tempat seindah itu. Apa kau mengingat kenangan itu?”
Alena menggeleng. Tak ada satu pun dari cerita lelaki itu yang diingatnya. Sesaat Alena memandangi sekitarnya dan merasa aneh karena orang-orang memperhatikannya. Dia juga mulai merasa takut pada lelaki asing itu.
“Saat itu kau marah padaku karena menurutmu aku ini pengecut. Menyerah begitu saja karena orangtuamu tidak merestui hubungan kita. Aku memutuskan pulang ke Bandung, dan kau datang menyusulku ke stasiun ini. Kau berteriak memanggilku, kemudian lari menyeberang jalan dan sebuah mobil hampir menabrakmu jika aku tak segera mendorongmu mundur.”
Kedua alis Alena terangkat. Kali ini dia tak percaya pada cerita lelaki asing itu. Jika dia hampir tertabrak, lalu kenapa bisa hilang ingatan? Alena menggeleng berkali-kali. Langkahnya terus diseret mundur. Dia harus pergi. Itu yang dipikirkannya. Alena takut lelaki itu akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Alena balik badan dan gegas pergi meninggalkan lelaki tersebut. Sesekali ia berbalik, memastikan kalau lelaki itu tidak mengikutinya.
Peti yang berisi sebagian ingatannya masih dipegangnya. Alena menyeberang ke polder yang berada di seberang stasiun. Terengah-engah, Alena kembali membuka peti itu dan mengeluarkan isinya. Bola kristal yang bentuknya tak utuh tersebut menyala redup. Samar, Alena melihat gambar-gambar bergerak seperti potongan klip film yang memperlihatkan kebersamaannya dengan lelaki tadi. Sulit dipercaya, namun itulah yang ia lihat. Beberapa jenak kemudian benda itu lebur seperti daun kering yang diremukkan dan ditiup angin.
Air mata Alena berderai. Benda itu ternyata memang sebagian dari ingatannya yang hilang, yaitu kekasih hatinya.
Sebagian ingatan Alena yang hilang kini telah kembali. Dia berlari ke tempat semula, dan menemukan lelaki itu masih berdiri di sana. Tersenyum, melambaikan tangan seraya mengucapkan salam perpisahan yang belum sempat terucapkan.
Alena tak ingin mempercayai apa yang dilihatnya dari ingatan yang menjelma bola kristal. Di dalam bola kristal tadi dia melihat bagaimana sang kekasih hati mendorong Alena dan mengorbankan diri ditabrak mobil, sementara Alena tersungkur di bahu jalan dan kepalanya terbentur trotoar.
Sebelum lelaki itu kembali menghilang, Alena sudah lebih dulu menyeberang jalan. Kali ini dia tidak akan membiarkan sang kekasih meninggalkannya untuk yang kedua kali.
Tanpa peringatan, seberkas cahaya bergerak menyorot wajah Alena. Ia bergeming, Sesuatu yang keras menghantam tubuhnya. Alena tersungkur di badan jalan. Sayup-sayup Alena mendengar riuh rendah suara beberapa orang yang menjerit ketakutan. Seberkas cahaya yang tadi menyorot wajahnya lenyap berganti hitam. Dalam pekat, Alena melihat sang kekasih hati mengulurkan tangan padanya.(*)

Comments
Post a Comment