Kolam Teratai Ibu (Terinspirasi oleh cerpen AA Navis, Rubuhnya Surau Kami)

Sudah lama saya tidak menulis di blog, karena terlalu disibukkan dengan kegiatan menulis lanjutan-lanjutan cerbung yang saya posting di facebook, juga karena akhir-akhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca cerpen dan novel. Karena kebanyakan membaca dan menulis cerbung, jatuhnya saya jadi eneg sama kata-kata. Ternyata memang benar kata orang (yang tidak saya kenal) bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak terlalu baik. 

Beruntung selama dua hari berturut-turut ini ada yang kembali membangkitkan semangat saya untuk kembali menulis--termasuk menulis di blog. Itu karena dua cerpen saya akhirnya terbit. Ini cerpen pertama dan kedua yang saya tulis dengan nama pena--di luar dari nama pemberian orangtua.

Saya akan share cerpen-cerpen itu nantinya di blog ini, tapi bukan sekarang, melainkan suatu hari nanti aku akan kembali untuk mempertanyakan cintanya. Loh?! Hihihi ...

By the way, hari ini saya mau share satu cerpen yang saya tulis agustus tahun lalu, dan pernah terbit di Koran Kaltim Post pada bulan september. Lupa tanggal terbitnya kapan, karena saya nggak beli korannya waktu itu. Yup, langsung saja.



KOLAM TERATAI IBU

Jika engkau berkunjung ke kampung halamanku beberapa tahun yang lalu, Kanda, aku akan membawamu ke rumah masa kecilku. Setelah turun dari angkot di Jalan Kenangan, di sana akan kau temui sebuah gang kecil tepat di depan sebuah jembatan kayu yang di bawahnya dialiri sungai yang warna airnya coklat. Cantik berkilauan ketika disepuh sinar mentari. 

Kau masuk saja ke gang itu. Kau akan temukan rumah bangsal berjeret lima dengan hijau sebagai warna catnya.  Di samping kanan rumah bangsal itu ada sebuah rawa yang ditumbuhi daun beluntas dan pandan. Ada bermacam-macam hewan di rawa itu; capung, kodok, ikan kecil-kecil, nyamuk beserta jentiknya. Lurus saja dari rumah bangsal itu kau akan menemukan sebuah belokan kecil yang jalannya dibuat dari kayu. 

Jika engkau sudah masuk ke belokan itu, di ujung jalan ada sebuah belokan lagi yang menuju ke kanan, ikuti saja jalan setapaknya. Di ujung jalan setapak itu ada sebuah rumah kayu reot yang berada di tengah kolam kecil. Di sekeliling kolam itu ditumbuhi puluhan bunga teratai di atasnya. Itulah rumah masa kecilku.

Setiap malam kuncup-kuncup teratai akan mekar. Bundar dan oval bentuk kelopaknya. Putih dan merah muda warnanya, serta harum wanginya. Daunnya mengapung serupa mengkuk yang menjadi alas bagi si teratai keluar dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada di dalam lumpur pada dasar kolam. Banyak orang-orang di kampung yang menyukai pemandangan sekeliling rumah masa kecilku. Dari yang muda hingga yang tua, bahkan anak-anak. Satu dua bahkan lebih dari anak-anak itu kadang memetik kelopak-kelopak bunganya. Ibu marah jika mengetahui hal itu. 

“Keindahannya akan hilang.” Begitulah katanya.

Ibu sangat takut bunga-bunga teratai yang tumbuh di kolam di bawah rumahnya akan hilang kecantikannya. Setiap hari yang ia kerjakan hanya mengawasi teratai-teratai itu. Bunga teratai itu sendiri sudah ada sejak Ibu masih kecil. Ada yang mati, tapi kemudian tumbuh lagi yang baru. Terus seperti itu hingga Ibu dewasa, menikah, dan punya anak. Aku.

Tak pernah bisa kuukur rasa cinta Ibu kepada teratai-teratai itu, bahkan aku saja pernah tak diberi makan setengah harian karena dia sedang mengawasi beberapa anak tetangga yang bermain-main di dekat kolam teratai nya.

Tak segan-segan Ibu akan mengusir anak-anak tetangga itu jika kedapatan sekadar memasukan tangannya ke dalam kolam. Yang ada di pikiran Ibu hanyalah, anak itu akan memetik bunga teratainya. Padahal belum tentu seperti itu.

Tak urung ia juga pernah berkelahi dengan tetangga yang tak terima anaknya dimarahi dan diusir dengan garang oleh Ibu. Semua hanya karena sekolam teratai, begitu pula akhirnya Ayahku meninggalkan Ibu. Ayah menganggap Ibu gila. Wanita yang tergila-gila dengan teratainya.

Tapi, kini kolam teratai itu sudah tak berair lagi. Kering serupa tanah tandus yang tertimbun berton-ton pasir, membunuh kecantikannya. Rumah reot itu pun ikut melebur bersama Ibu.

Kanda, kau pasti ingin tahu apa yang terjadi, bukan? Baiklah, dari sini akan aku mulakan ceritanya.

Suatu hari aku pulang sekolah dan mendapati Ibu yang tengah duduk termenung di atas kursi kayu di dekat jendela. Sorotnya yang kuyu lurus memanah kolam teratai itu lekat-lekat. Melihatnya seperti itu, aku sudah menduga ada sesuatu yang terjadi. Penasaran, aku pun bertanya.

“Ada apa, Bu?”

“Mereka.”

“Siapa?”

“Orang-orang berseragam yang tadi pagi datang ke sini.”

“Iya, mereka siapa?” tanyaku tak sabaran.

“Tak tahulah, mereka bilang ingin menggusur kita dan membangun taman di tanah ini.”

Tak bisalah aku berbohong, aku panik mendengar jawaban Ibu. Jika benar digusur, lalu ke mana akan pergi berlindung dari panas dan hujan yang tak pernah pasti datangnya kapan? Ke mana pula akan merebahkan badan ketika dirasa sendi-sendi mulai lelah dan menegang?

Tak puas aku dengan jawaban Ibu, bertolaklah aku ke rumah Sindi, sahabatku. Di sana aku bertanya pada Ibunya, Mbok Ros. Sambil tersedu-sedu Mbok Ros menjawab.

“Tanah ini milik pemerintah, katanya akan dibangun taman di tempat ini. Kita cuma dikasih waktu satu minggu untuk pindah.” 

Pilu semakin pilu. Air mataku ikut tumpah di situ. Ke mana aku dan Ibu akan pergi? Sementara, tak ada tempat selain gubuk reot itu sebagai wadah bernaung.

“Panggil Ayahmu!” seru Ibu sekembalinya aku dari rumah Sindi.

Aku kebingungan. Bagaimana bisa aku memanggil Ayah, sementara dia sudah terlampau lama meninggalkan kami. Apa Ibu memang benar gila? Kenapa dia tak jua sadar setelah sekian lama, bahwa suaminya tak lagi bersamanya. Kudekati Ibu dan kujelaskan padanya bahwa Ayah sudah pergi meninggalkannya.

“Ah, tak setialah Ayahmu itu. Dengan teratai saja dia cemburu.” Ibu meneteskan air mata di pipinya, meskipun tak tergambar seraut sedih di sana. “Teratai-teratai itu telah menemaniku sepanjang hidupku, tak salahlah bila aku menyayangi mereka,” katanya datar.

***

Siang menjelang sore, tidurku dikejutkan dengan ketukan pintu oleh seseorang. Segera aku beranjak dan berlari membuka pintu.

“Ibumu … Ibumu …,” kata Sindi tak jelas dan tampak ketakutan.

“Kenapa Ibuku?”

“Ada orang-orang datang mengecek lokasi, Ibumu bersama orang-orang kampung melakukan aksi penolakan untuk pindah dari sini, tapi Ibumu malah mengamuk. Dia menantang sambil membawa kayu dan berteriak, jangan kau curi terataiku!” cerita Sindi sambil memperagakan gaya Ibu.

Bersama Sindi aku berlari mendatangi Ibu. Wanita tua itu berdiri di tengah jalan dengan sebuah kayu di masing-masing lengannya. Dia berteriak-teriak seperti pejuang yang menuntut kemenangan, “Jangan kau curi terataiku!”. Wajahnya tampak garang, matanya melotot lebar, nyalang dan siap menerkam siapa saja yang mendekat.

Aku berlari menghampiri Ibu, memeluknya erat-erat, dan mencoba melepaskan kayu-kayu yang digenggamnya kuat. Ibu meronta-ronta, semakin jadi, seolah ia tak mengenaliku sebagai anaknya. Dibantu oleh beberapa tetangga, akhirnya amukan Ibu bisa dikuasi, dan aku membawanya pulang. Ada apa dengan ibuku? Sepertinya dia memang gila. Persis seperti kata Ayah.

***

Lepas tengah malam, setelah banyak mata yang terkatup dan lelah yang luruh. Panas melanda kampungku. Tak tahu di mana datangnya kobaran api itu. Angin kencang membuatnya semakin tangguh, berputar, menjilat apa saja yang dilaluinya, tak terkecuali rumah Ibu.

Kami berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak “Api … api …” tapi baru satu jam kemudian petugas pemadam datang.

Semua berhasil meloloskan diri, tanpa mengeluarkan harta benda, hanya membawa pakaian yang melekat di badan. Namun, aku merasa kurang. Tak ada Ibu, padahal aku yakin kami keluar dari rumah bersama-sama. Esoknya, barulah kudapati tubuh ibuku. Damai bersama teratainya yang layu.

***



Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3