Pengantin Dari Masa Lalu
Saya seneng banget, karena semenjak hape saya hilang ... Ya sekitar 2 mingguan yang lalu, saya nggak bisa masuk blog karena lupa passwordnya. Makanya sekarang seneng banget karena udah bisa masuk lagi, meski nggak ngerti tadi caranya gimana. Asal ketik, tau-tau masuk ke blog. Alhamdulillah.
Setelah cukup lama libur nulis, untuk kesempatan kali ini saya mau nge-share salah satu cerpen. Bukan cerpen terbaru sih, cerpen lama juga, dan udah pernah terbit di website pesantren penulis. Tapi mungkin masih banyak yang belum baca ya, so ... Check thia out!
Puchri memicingkan matanya sekali lagi. Mengerjap. Mengerjap lagi. Memastikan sosok seorang pria yang duduk di depan meja bar di tengah keremangan cahaya lampu club. Tiba-tiba bahunya melorot, Puchri menarik napas dalam, menangkap aroma masa lalu dari udara yang dihirupnya. Suara di dalam hatinya mengumpat. Sialan, itu memang dia!
"Berhenti melakukan hal itu!" Suara cadel seorang pria mengejutkannya.
Puchri menoleh. Seorang pria berambut lemon yang hampir satu bulan ini menjadi suaminya menatapnya nanar. Puchri Mengernyitkan kening, mengangkat bahu, kemudian mereguk minumannya seolah tak mengerti apa pun.
"Kau mencuri pandang pada pria itu, dan dia juga melakukan hal yang sama!" tuding pria berambut lemon tersebut, menunjuk ke arah pria di depan meja bar.
"Perasaanmu saja," kilah Puchri acuh tak acuh.
Puchri melempar pandang ke sisi lain club, menggoyang-goyangkan kepala mengikuti hentakan musik, menyaksikan puluhan orang berjoged, dan tak sengaja melihat sepasang kekasih bermesraan. Begitu asyiknya, Puchri tidak sadar kalau suaminya sudah tidak di sampingnya, hingga dia mendengar sedikit keributan dari arah meja bar.
"Dia istri saya!!!" teriak pria berambut lemon tersebut.
"Nick, apa-apaan sih?!" Lekas Puchri menarik bahu suaminya, membawanya menjauh, tapi pria yang dipanggilnya Nick tersebut menepis tangannya.
Tanpa sengaja, mata Puchri menangkap bola mata pria itu, yang tadi mencuri pandang padanya hingga membuat Nick cemburu.
"Jadi orang asing ini suamimu?" tanya pria itu, yang terdapat percikan api di dalam matanya.
"Bukan urusanmu!" sahut Puchri ketus.
"Kau mengenalnya?!"
Tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan suaminya, Puchri berusaha menyeret Nick keluar dari club, namun pria bule itu enggan beranjak dari sana sebelum mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya.
"Kau mengenal istriku?" Kali ini Nick bertanya pada pria itu. Puchri kembali menarik lengan suaminya, tapi kembali ditepis.
"Ya," jawab pria itu, yang membuat Puchri menghentikan usahanya untuk membawa Nick pergi, dan malah menatap wajah pria tersebut. "Hanya seseorang di masa lalu, dan tidak terlalu berarti."
Puchri meledak, tanpa dia duga sebelah tangannya sudah mendarat di pipi pria itu, dan entah bagaimana, tahu-tahu dia sudah berada di toilet club.
Napasnya terburu dan tangannya masih gemetar. Puchri mengamati wajahnya di cermin yang terpasang di dinding toilet, membasuhnya dengan air dari keran di wastafel. Selepas itu, dia bergeming, membiarkan benaknya meloncat keluar dari tempurung kepala. Berjalan mundur ke masa lalu yang seharusnya tidak perlu diingat.
Nama pria itu Razieb. Dulu, atau tepatnya dua tahun yang lalu, Puchri dan Razieb pernah berada dalam satu frame kehidupan. Mereka sempat merasakan manisnya percintaan. Menikmati sore di pantai hingga senja bertandang, menghabiskan malam dengan obrolan-obrolan ringan tentang masa depan hubungan mereka, dan banyak kenangan manis lainnya yang mengakar di dalam tempurung kepala.
Malam itu, tiba-tiba saja Razieb mengatakan ingin menyudahi segala yang pernah terjadi di antara mereka. Puchri terkejut karena sore sebelumnya Razieb masih baik-baik saja, hingga Solihin--sahabat masa kecilnya yang gila--berkunjung dari kampung halaman dan membawa kekasihnya pergi ke suatu tempat. Sekembalinya, sikap Razieb berubah. Entah apa yang terjadi saat itu. Puchri tidak mengerti, begitu pula dengan malam ini. Dia tidak mengerti mengapa Razieb berada di club malam.
Di mata Puchri, malam ini Razieb terlihat seperti "orang asing" di tengah kerumunan orang asing. Pria itu seolah tersesat. Salah alamat. Ini bukanlah kebiasaan Razieb yang biasanya lebih senang menghabiskan sabtu malam di kamar kost. Puchri mengenal Razieb sebagai sosok yang introvert. Senang menyendiri, dan tidak punya banyak teman dekat selain Solihin. Jelas waktu telah mengubah segala, bahkan kebiasaan dan perasaan pria itu kepadanya, kecuali satu hal: kebencian Razieb pada orang asing.
Puchri ingat betapa sinis komentar Razieb mengenai turis asing saat pertama kali menjajakkan kaki di tanah pata dewa, kampung halaman Puchri. Komentarnya bahkan selalu sarkas, tak heran Razieb bereaksi seperti itu saat mengetahui dia menikah dengan orang asing. Memang tidak dikatakan langsung, tapi sorot mata selalu bisa membocorkan segalanya.
Sekembalinya dari toilet, Razieb sudah tidak ada, yang tertinggal hanya Nick, duduk tenang di depan meja bar sembari memejamkan mata dengan scotch di tangan. Puchri menghampiri dan mengajak Nick pergi ke tempat lain, tapi suaminya itu menolak. Puchri memutuskan keluar dari club sendirian. Kepalanya pusing, perutnya mual, dan perasaannya terlanjur buruk setelah pertemuan dengan Razieb tadi.
Sambil menahan pening Puchri meringis, perutnya mengaduk-aduk seolah ingin muntah. Dia bersandar pada sebuah mobil di parkiran club. Tubuhnya basah oleh butir-butir keringat sebesar biji jagung meski malam itu angin berembus kencang dan dingin. Dengan langkah lesu, dia membelah jalan di antara orang-orang yang berlalu lalang, menembus keramaian hingga akhirnya tiba di bibir pantai.
Langit gelap. Tanpa bintang. Tanpa bulan. Hanya angin yang menggigit, meski sayup-sayup juga terdengar suara obrolan beberapa orang yang disertai dengan tawa sumbang mereka dan keriuhan lainnya. Puchri duduk bersila di pasir pantai. Diam.
Dalam benaknya, Puchri mendengar suara-suara yang berbisik halus menyapu gendang telinga. Suara Razieb yang berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Puchri meludah, kemudian tersenyum sinis.
Setelah keadaanya sedikit membaik, Puchri memutuskan untuk kembali ke club menemui suaminya. Di perjalanan, Puchri melihat sosok Razieb lagi. Pria itu berdiri di atas trotoar di pertigaan jalan, ada sebuah mobil berhenti di depan Razieb. Pria itu terlihat bercakap-cakap dengan seseorang di dalam mobil tersebut.
Seharusnya aku tidak perlu melihatnya lagi, gumam Puchri dalam hati. Entahlah, melihat pria itu, Puchri merasa seperti ditarik-tarik dua kekuatan tak kasat mata. Antara perasaan ingin mendekat hingga tak berjarak, dengan perasaan ingin kabur jauh-jauh dan bersembunyi ke dalam perut bumi.
Puchri masih sibuk dengan pikirannya ketika mobil itu bergerak dan melintas melewatinya. Puchri mengamati, dan melihat dari kaca pintu mobil yang terbuka. Dia kenal dengan pria yang mengemudikan mobil itu. Pria itu adalah Solihin, yang membuat sikap Razieb berubah kepadanya. Orang gila yang suka merendahkan orang lain, berlagak sok suci, dan semua ucapan Solihin berbau seperti kentut. Kebenciannya pada Solihin tak berkurang sedikitpun. Puchri sangat yakin Solihin-lah biang kerok dari kandasnya hubungan yang dia jalin bersama Razieb dulu.
Mobil itu kembali berhenti di depan club. Solihin turun, disusul oleh pria lain yang tak dikenal Puchri. Keduanya berpelukan sebelum akhirnya pria satu lagi menerima kunci dari Solihin dan mengambil alih kemudi, kemudian pergi.
"Dasar homo!" umpat Puchri lirih.
Puchri tersentak begitu merasa seseorang menepuk pundaknya. Dia berbalik dan melihat Razieb. Dadanya kembali menggelegak, disusul oleh umpatan bertubi-tubi yang keluar dari mulutnya. Namun, pria itu tak membalas. Razieb diam saja hingga Puchri lelah dengan semua makian yang ia lontarkan, barulah Razieb angkat bicara.
"Aku memang sampah, atau apa pun hinaan yang baru saja kau lontarkan padaku." Jeda sejenak, "sejak kita berpisah aku belum pernah minta maaf, karena itu di pertemuan tak terduga ini, aku ingin minta maaf padamu," ujar Razieb tulus, penuh sesal.
"Segampang itu berkata maaf? Kau pergi begitu saja, lebih memilih Solihin daripada aku! Memang apa bagusnya dia?"
"Pilihanku waktu itu adalah yang terbaik."
"Terbaik untuk siapa? Untukmu, bukan untukku!"
"Nyatanya sekarang kau baik-baik saja, bahkan sudah menikah, meskipun dengan orang asing," kata Razieb memberikan penekanan pada dua kata terakhir.
"Dia suamiku, kau yang orang asing," balas Puchri.
Perdebatan itu terhenti. Seorang pria berperwakan tinggi yang dikenal Puchri sebagai Solihin menghampiri, menambah kacau suasana hatinya. Dia dan pria itu saling beradu pandang, kemudian Solihin tersenyum meremehkan. Pria itu berdiri di samping Razieb, dan merangkul bahunya. Puchri kembali mual. Saat itu juga dia ingin muntah.
"Ayo, Zieb, sudah hampir tengah malam," kata Solihin sambil memerhatikan jam tangannya.
"Aku mohon maafkanlah aku," pinta Razieb sekali lagi.
"Kau membuatku muak!" seru Puchri dengan suara pelan yang ditekankan.
Puchri melihat Razieb mengangguk. Itu artinya pria tersebut mengerti bahwa sampai kapan pun dia tidak akan pernah memaafkan, kemudian kedua pria itu angkat kaki dari hadapannya. Sayup-sayup Puchri mendengar ucapan Solihin.
"Di surga nanti, wanita seperti dia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bidadari-bidadari yang disediakan untuk kita."
Puchri terkekeh, menyadari bahwa kegilaan Solihin dari dulu sampai sekarang belum juga sembuh. Puchri kembali merasa mual, dia ingin minum sesuatu yang hangat, maka bertolaklah Puchri menuju kafe yang berlainan arah dengan club yang dimasuki Razieb dan Solihin, di mana suaminya juga ada di dalamnya.
Malam itu cukup bising, namun sayup-sayup Puchri mendengar jarum jam tangannya berdetak maju. Sementara itu, tidak jauh dari pusat kota, ada sesuatu yang berdetak mundur. Sebuah pemicu yang terhubung langsung dengan sesuatu yang tersembunyi di balik rompi Razieb dan Solihin.
***

Comments
Post a Comment