Himne Bapak

Tersiar di Koran Sastra Dinamikanews 29-3-2016


Ibu mengobati rasa sakit hatinya dengan pindah rumah. Di lingkungan baru ini, tidak ada seorang pun mengenali kami, juga tidak ada seorang pun yang mengenali bapak. Jika ada yang bertanya pada ibu ke mana suaminya, ibu akan bilang suaminya sudah meninggal. Begitu pula ibu berpesan padaku, jika ada orang yang bertanya kemana bapakku, aku harus mengatakan kalau bapak sudah meninggal.

Aku menanyakan alasannya, dan ibu bilang itu yang terbaik, agar tidak ada
lagi orang-orang yang menghina bapak. Jadi, jika ada yang bertanya mengenai
bapak, aku akan menjawab bahwa bapak sudah meninggal, meskipun belum.

Seperti yang ibu bilang, ini demi kebaikan bapak, bukan karena takut
menanggung malu dengan menceritakan keadaan bapak yang sebenarnya, tapi lebih dari itu, aku dan ibu menyayangi beliau, hingga tidak tahan rasanya jika mendengar atau membayangkan seseorang memburukkan bapak di belakang.

***

Profesi bapakku bukanlah polisi, pilot, dokter, karyawan kantor, atau profesi baik lainnya yang bisa aku banggakan di depan teman-teman ketika dengan bangganya mereka menceritakan profesi bapaknya di depan kelas. Mereka akan bilang "bapakku hebat, pekerjaan bapakku bagus". Lalu, jika sudah tiba giliranku untuk maju ke depan, aku akan pura-pura sakit perut
dan ibu guru langsung menyuruhku istirahat di UKS.

Sebenarnya, bapakku juga hebat. Beliau pandai mencuci baju hingga bersih
dan wangi, rajin membersihkan rumah, dan masakan yang bapak buat rasanya
sangat enak. Namun, itu bukanlah segala yang harus dikerjakan seorang
kepala rumah tangga. Bapakku adalah seorang pengangguran, artinya tidak
bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ibu—sang pemilik
tulang rusuk—yang menjadi tulang punggung kami.

Ibu bekerja sebagai buruh di pabrik pembuatan roti, tapi aku tidak akan
menceritakan soal ibu sekarang. Aku akan menceritakan soal bapak, karena
ini kisah bapak.

Sepengetahuanku, bapak adalah sosok yang hebat, ramah, tapi juga keras untuk di beberapa kondisi. Misalnya, ketika bapak menyuruhku berhenti
bermain dan pulang untuk tidur siang atau mandi sore. Jika aku menolak, maka bapak akan mendatangiku di lapangan sambil membawa sapu atau sabuk yang bapak gunakan untuk mengancam. Jika sudah begitu, aku akan kejer dan langsung berlari pulang.

Bapak juga punya banyak teman yang menyeganinya. Bapak sangat terkenal di kampung dan ditakuti banyak orang. Setiap kali beliau melintas, jika berpapasan dengan seseorang, maka orang itu akan menyapa sambil tersenyum ramah pada bapak. Entah itu senyum asli atau palsu, tapi aku sering mendengar orang-orang itu membicarakan hal-hal buruk mengenai bapak di belakang.

Setiap hari rumahku selalu ramai dikunjungi teman-teman bapak. Selalu ada saja teman-teman bapak yang datang untuk menonton TV, bermain kartu dengan sejumlah uang sebagai taruhan sambil membicarakan sesuatu yang tidak aku fahami, dan juga menikmati bergelas-gelas obat penawar yang rasanya pahit. Bapak bilang, jika meminum itu, semua sakit di kepala akan sembuh.

Aku pernah mencicipinya tanpa sepengetahuan bapak ataupun teman-temannya. Waktu itu, aku melihat salah seorang teman bapak datang membawa sebuah kantung kresek hitam dan memberikannya pada bapak. Bapak membawa kantung kresek itu ke dapur dan aku mengikuti. Isi kantung kresek itu adalah sebuah botol, berwarna putih bening dengan gambar kepala laki-laki bertopi miring.

Bapak membuka tutupnya, dan meluruhkan semua isi dalam botol itu ke sebuah teko.

"Itu apa, Pak?" tanyaku ingin tahu.

"Ini air obat penawar sakit kepala." Begitulah jawaban bapak.

“Bapak sakit kepala?”

“Iya, sakit sekali. Bapak pusing.”

“Teman-teman bapak juga? Soalnya aku lihat teman-teman bapak juga minum obat itu.”

Bapak tertawa tanpa suara, hanya memerlihatkan barisan giginya yang agak kuning.

“Bapak dan teman-teman bapak, semuanya sakit kepala,” kata bapak
meninggalkanku dengan teko berisi obat penawar sakit kepala di meja makan.

Aku penasaran pada obat penawar sakit kepala itu, dan kebetulan saat itu
dahiku memar karena terantuk bingkai jendela, sehingga ketika bapak pergi
ke kamar mandi, aku menuangkan sedikit obat penawar sakit kepala itu ke
dalam gelas dan menenggaknya sambil menahan napas karena aromanya yang
aneh. Aku pernah minum obat. Sebagaimana seharusnya kebanyakan obat rasanya pahit, namun obat penawar sakit kepala satu ini sangatlah pahit dan tidak enak. Cekat dan panas di tenggorokan. Aku sampai harus berkumur berulang-ulang untuk menghilangkan rasanya yang menjejak di lidah. Setelah itu kuputuskan, aku tidak pernah ingin mencicipi obat penawar sakit kepala itu lagi. Beberapa hari kemudian—setelah aku menceritakannya pada ibu—barulah
aku tahu bahwa itu bukan obat penawar sakit kepala, melainkan whisky. Minuman memabukkan.

Ya, bapakku pemabuk, bahkan lebih dari itu, beliau juga seorang penjudi.
Setiap malam, ketika tiba giliran ibu memomong anaknya, bapak akan bersiap pergi. Berpakaian rapi dengan kaus berkerah yang dimasukan ke dalam celana jeans-nya. Tak lupa bapak memakai sabuk kulit yang membuat penampilannya jadi lebih necis, lalu memakai wewangian sebagai sentuhan akhir. Aku hafal betul aroma wewangian yang dipakai bapak. Aku suka aromanya.

Wewangian itu berupa sachet, berisi tissue basah yang disapukan bapak ke
baju, tengkuk, bahkan rambut. Aku selalu meminta sisa wewangian itu untuk kemudian kusapukan ke baju, tengkuk, dan rambutku. Aku merasa tak kalah keren dari bapak, meskipun aku anak perempuan.

"Bapak mau ke mana?" tanyaku.

"Bapak mau kerja, cari duit buat makan," balasnya sambil memastikan sekali lagi kesempurnaan bayangan dirinya di depan cermin.

Mataku berbinar mendengar jawaban itu. Akhirnya aku bisa berbangga hati
menceritakan tentang pekerjaan baru bapak di depan teman-teman dan ibu guru nanti.
"Bapak jadi apa? Kerja di mana? Kok malam?"

"Jadi wakar di Rombong, kerjanya emang cuma malam."

Aku tidak mengerti wakar itu apa. Aku juga tidak tahu Rombong itu di mana,
yang pasti aku bahagia mengetahui bahwa bapak sudah bekerja, bukan
pengangguran lagi seperti yang sering pamanku bilang.

Selama ini, Paman Yanto, adik dari ibuku yang paling bungsu adalah orang
nomor satu yang begitu menggebu-gebu mengurusi kehidupan bapak. Aku sering mendengar paman mengatai bapak pemabuk, penjudi, dan juga pembohong jika sedang bertandang ke rumah nenek. Meskipun masih kecil, tapi aku mengerti dengan semua hinaan itu. Tak pelak hatiku perih mendengarnya. Aku berlari pulang dari rumah nenek dan mengurung diri di kamar. Menangis sambil membekap wajah dengan bantal. Jika bapak bertanya, aku selalu bilang tidak apa-apa, karena aku tidak mau jika bapak dan paman sampai berkelahi lagi
karena aduanku.

Aku masih ingat, cerita ini kudapat dari paman juga. Sejak dulu paman memang tidak pernah menyukai bapak karena menurutnya bapak adalah seorang pemalas yang tidak mau mengubah nasib. Sejak awal menikah hingga punya seorang anak—aku—kerjaan bapak selalu menyusahkan mertua. Tidak bisa menafkahi anak istri dan hanya bermalas-malasan di rumah. Keluar pada malam hari dan pulang di pagi buta dalam keadaan teler. Hal itu memancing emosi paman hingga akhirnya bapak dan paman adu jotos.

Sejak saat itu pula bapak dan ibu keluar dari rumah nenek dan menyewa rumah
sendiri. Masih di kampung yang sama, tidak jauh dari rumah nenek. Ibu diterima bekerja di sebuah pabrik pembuatan roti dan meninggalkanku
yang saat itu masih berusia tiga tahun dalam penjagaan bapak. Tak heran jika hubunganku dan bapak jauh lebih baik ketimbang dengan ibu.

Bapak membungkukkan sedikit tubuhnya yang tinggi dan besar. Dengan sorot hangat berbingkai bulu mata lentik, bapak menatapku. Mengusap rambut, kemudian mencium keningku dengan sayang.

"Kamu minta dibelikan apa sama bapak?"

"Boneka berbie, yang kayak punya Desi, Pak," jawabku bersemangat.

Aku sudah lama ingin punya boneka berbie. Pernah memintanya sekali pada
ibu, tapi tidak dibelikan dengan alasan masih banyak kebutuhan yang lebih penting daripada boneka berbie. Aku tidak tahu kebutuhan yang lebih penting itu seperti apa. Yang kutahu, yang paling penting hanyalah boneka berbie, karena jika kau tidak punya mainan yang sedang ramai dimainkan anak-anak saat itu, maka kau akan terasingkan.

"Beres. Besok bapak beliin." Bapak berjanji, sekali lagi dia mencium keningku, lalu menyapukan kumisnya yang hitam dan lebat ke pipi hingga aku
tergelitik dan geli.

"Janji ya, Bang, besok beliin anakmu boneka berbie. Jangan sampai nggak dibeliin, nanti dia nangisnya ke aku!" tandas ibu yang baru saja keluar dari kamar.

"Iya. Pokoknya, besok, habis pulang sekolah kita jalan beli boneka berbi."

Dan ternyata, bapak tidak pernah membelikannya. Kata ibu uangnya habis digunakan untuk taruhan judi dan mabuk-mabukan. Untuk pertama kalinya aku meyakini kata-kata Paman Yanto mengenai bapak memang benar. Bapak pembohong.

***

Apakah sudah kukatakan bahwa bapak juga sosok yang penyayang? Benar,
bapakku juga seorang yang penyayang. Dia menyayangiku, menyayangi ibu, juga menyayangi teman-temannya. Namun, menurutku bapak lebih menyayangi teman-temannya, karena jika beliau lebih menyayangiku dan ibu, tentu bapak akan bekerja keras untuk membahagiakan kami.

Subuh itu aku terbangun karena tangisan ibu. Setengah mengantuk aku melihat ibu mengeluarkan beberapa lembar pakaian bapak dari dalam lemari dan memasukkannya ke tas besar yang pernah digunakan bapak sewaktu pergi ke rumah kakaknya di Palu.

Kuhampiri ibu dan duduk di dekatnya sambil menguap dan mengucek mata. Aku mengamati ibu dengan perasaan takut. Ini pertama kalinya aku melihat ibu menangis. Sekilas beliau menatapku sambil terus menangis. Kenapa orang dewasa seperti ibu harus menangis? Padahal sudah besar, tapi masih menangis. Namun, tentu ada sebab yang membuat ibu menangis, kan?

"Ibu kenapa nangis?" Aku memeluk ibu.
Ibu tidak menjawab dan malah langsung memelukku juga. Raungnya semakin nyaring. Sesengukkan mengatur napas sambil sesekali menyedot kembali ingusnya yang ikut meleleh.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membujuk ibu agar berhenti menangis. Biasanya bapak akan memeluk dan mengusap rambut juga punggungku jika aku menangis, dan itu mujarab untuk menghentikan kesedihanku akibat mendengar hinaan paman terhadap bapak. Tapi masalahnya, bapak tidak ada. Bapak belum pulang. Dalam keadaan seperti ini, aku berharap bapak sudah ada di rumah dan membujuk ibu.

"Kak, mana lakimu?"

Aku dan ibu dikejutkan dengan kedatangan Paman Yanto di ambang pintu kamar. Rahangnya yang panjang mengatup rapat, memperlihatkan keangkuhannya. Paman berdiri sambil bertolak pinggang seperti orang menantang.

"Aku nggak tahu, tadi Zainal datang ke rumah ngasih kabar soal keributan
itu dan nyuruh aku nyiapain pakaian kakakmu. Katanya dia mau ke Palu."

"Mau kabur lagi? Hem, percuma, tuh di depan ada banyak polisi nyariin dia!"
balas paman sinis. "Lagian, dia itu bukan kakakku!"

Tubuhku bergetar begitu mendengar paman mengatakan ada polisi yang mencari bapak. Setahuku, polisi bertugas untuk menangkap penjahat, lalu kenapa polisi datang ke rumah mencari bapak? Apa bapakku penjahat?

Aku memeluk tubuh ibu lebih kuat sambil menangis histeris. Aku tidak tahu apa alasanku menangis sedemikian rupa, yang pasti aku ketakutan. Kutahan tubuh ibu agar tidak menemui para polisi itu, tapi paman malah menjauhkanku dari ibu, dan sekilas kulihat paman tersenyum.

Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya, bahkan setelah kejadian
subuh itu, aku tidak pernah bertemu bapak lagi. Beliau menghilang. Setiap
kali aku menanyakan keberadaan bapak pada ibu, aku hanya menerima bentakan.

Ibu tidak pernah mau mengatakan apa pun lagi mengenai bapak, tapi paman
bilang bapakku di penjara karena telah membunuh seseorang. Alasannya, hanya karena membela teman. Bapak sangat menyayangi teman-temannya sampai rela berkorban demi mereka.

Meskipun ibu selalu marah setiap kali aku menanyakan soal bapak, tapi aku
tahu ibu menyayangi bapak. Selama berbulan-bulan aku selalu mendengar ibu menangis hampir di setiap malam. Kadang, diam-diam aku mengintip dengan mata yang setengah terkatup. Ibu tidak tahu kalau aku sedang mengintip. Ibu pikir aku tidur. Aku mendengar ibu menyebut-nyebut nama bapak sambil sesekali bicara pada Tuhan bahwa dia sudah tidak tahan. Akan apa? Aku tidak tahu, yang pasti aku juga sudah tidak tahan. Aku tidak tahan dengan olok-olokan salah satu teman di kelas yang selalu menghina-hina bapak. Sama seperti Paman Yanto, temanku itu bilang kalau bapakku pemabuk, penjudi, pembohong, dan ... satu hinaan lagi yang paling kejam. Pembunuh.

Bapakku mungkin seorang pembunuh. Namun, bagaimanapun bapak, aku tetap menyayanginya, meski dia telah membunuh seseorang dan dihukum seumur hidup.

***

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3