Unforgetable Love

A story by Langit Rinjani

Pic from google

Ada yang diam-diam mencuri siluet wajahmu dari ingatanku. Sudah beberapa tahun berlalu, namun aku tidak benar-benar bisa melupakanmu. Meski hati berkata 'semua sudah berakhir', dan lidah telah bertutur 'aku merelakanmu', nyatanya aku masih terjebak di sini. Di ruang yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan? Apa yang sebenarnya kulakukan? Menunggu, dan terus menunggu dengan sebuah keyakinan tabu. Aku takut mati karena lelah, tapi juga tak ingin lengah. Bagaimana jika suatu hari nanti kamu kembali, dan aku tidak ada di sana menunggumu?
Dua tahun yang lalu, sebelum almanak menciptakan hari ini, untuk pertama kalinya kita bertemu. Sepupuku Susanti mengajak pergi ke pengajian di mushola dekat rumahnya. Aku bukan tipe wanita yang bisa pergi ke pengajian seperti Susanti. Shalat lima waktu saja masih bolong-bolong. Berbeda dengan Susanti, dia wanita sholeha, berparas cantik idaman setiap pria. Kerudung syar'i-nya senantiasa menghias kepala, tutur lembut dari bibirnya yang alami merah muda, dan juga cerlang jernih dari sepasang mata yang tak perlah lelah memanjatkan doa membuatnya terlihat bak bidadari surga yang dihukum untuk menghuni bumi.
"Ayolah, Selvi ... mumpung kamu di rumahku kenapa tidak ikut ke mushola saja," bujuk Susanti untuk yang keseratus kalinya.
Aku terkekeh mengejek. Dia masih giat saja mengajak, padahal sudah berulang kali aku tolak.
"Aku suka ngantuk kalau dengar pengajian. Lagian yang hadir pasti kebanyakan bapak-bapak sama ibu-ibu. Kalaupun ada yang muda-muda seperti kita, paling nggak banyak. Bisa dihitung jari."
Susanti tersenyum. Dia berjalan menuju meja belajar dan mengambil beberapa keperluan yang ia persiapkan untuk dibawa ke pengajian.
"Anak muda zaman sekarang banyak juga kok yang ke pengajian. Kamu belum tahu aja, di pengajian ini kebanyakan yang hadir itu anak muda seperti kita-kita," kilahnya, "katanya pengen dapet cowok alim. Kalau mau punya cowok alim, nyarinya di masjid, mushola. Sapa tahu aja entar di sana dapat kenalan cowok cakep dan alim," tambah Susanti.
Sebagai sepupu yang paling dekat denganku, Susanti memang tahu betul apa yang selalu menjadi minatku. Setelah gagal menjalin hubungan berkali-kali, aku lantas menjadi orang yang sinis kepada hampir setiap pria. Rata-rata mereka telah menyakiti hatiku. Ada yang berselingkuh, meninggalkan waktu lagi sayang-sayangnya, dan ada juga yang tidak tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik. Gara-gara kejadian itu terus berulang, aku jadi malas berhubungan dengan pria, khususnya pria-pria metropolitan yang selalu terlihat keren dari segi penampilan.
"Aku pengen cari cowok religius aja, San," ceritaku suatu hari pada Susanti. Dan, pada kesempatan ini, dia menggunakan dogma itu untuk menyeretku ke mushola di dekat rumahnya.
Siapa yang menyangka bahwa Susanti benar-bemar berhasil membawaku ke mushola. Aku seperti tersesat berada di ruang dengan bentuk persegi bercat putih dan kombinasi hijau itu.
Susanti mengenalkanku dengan teman-temannya. Kebanyakan teman Susanti adalah wanita-wanita yang penampilannya sama seperti Susanti. Gamis longgar dan jilbab syar'i yang kebesaran. Benar apa yang dikatakan ungkapan lama, teman-temanmu mencerminkan pribadimu. Maka, semakin sempurnlah dogma dalam diriku yang menganggap bahwa aku telah tersesat.
Aku berbeda dengan anak-anak muda yang hadir di pengajian. Aku satu-satunya peserta pengajian yang datang mengenakan T-shirt lengan panjang ketat dan celana jeans. Kerudungku seadanya menutup kepala. Beberapa orang memerhatikan dengan pandangan entah, dan jujur aku risih sekali. Dengan penampilan mereka yang seperti itu, kuharap mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan dan berhenti berpikiran buruk mengenaiku. Sungguh pakaianku memang salah, tapi mereka bukan hakim yang pantas memvonis aku salah. Seharusnya aku mengikuti anjuran Susanti untuk mengenakan gamis.
"Aku ngerasa kurang nyaman. Orang-orang pada ngeliatin, pasti gara-gara pakaianku, kan?" bisikku di telinga Susanti.
Sebagai sepupu, tentu Susanti akan mengatakan, "Nggak apa-apa. Ini kan yang pertama kalinya kamu ke pengajian. Anggap aja sedang beradaptasi. Aku mahfum kok, dan kurasa yang lain juga sama," katanya, dan aku berharap sekali saja Susanti membuka matanya lebar-lebar, atau setidaknya sekali saja berpikiran buruk mengenai seseorang, dan melihat bagaimana berpasang-pasang mata itu menatapku, bahkan beberapa pria pun memerhatikan sambil berbisik-bisik.
Semua kegamangan itu perlahan luntur saat seseorang masuk ke mushola seraya mengucapkan salam. Semua membalas salam itu, kemudian berganti senyap.
Seorang pria, mengenakan baju koko berwarna putih bersih. Pecinya hitam. Wajahnya putih bening, terlihat bercahaya, lengkap dengan dua lengkung alisnya yang hitam.
Pria itu maju ke depan. Duduk bersila, dan tersenyum ke arah kami. Aku merasa ada sebagian dari diriku yang melompat ke luar saat melihat senyum itu, dan kurasa itu adalah sepotong hati. Ya, itu memang sepotong hati yang melompat keluar dari dada kemudian berlari ke arah pria yang baru saja datang dan menggantungkan dirinya di dada sang pria, meminta masuk. Oh My God, hatiku!!!
Pandangan kami bertemu. Keningnya mengernyit menggambarkan kebingungan, dan dadaku memanas dengan semua kejadian itu.
"Maaf, Ustadz Zaki, Ini Selvi ... sepupu saya." Kudengar Susanti memperkenalkan diriku padanya.
"Oh, sepupumu. Mau ikut pengajian juga ya, Mba?" tanya pria itu yang dipanggil Ustadz Zaki oleh Susanti. Tunggu! Apa tadi? Ustadz?!
Sontak wajahku memanas dua kali lipat dari sebelumnya, dan jantungku marathon di dalam dada. Pria setampan dan semuda dia ternyata seorang ustadz. Tak heran kenapa yang menghadiri pengajian ini hampir seluruhnya anak-anak muda, dan hampir tujuh puluh lima persen di antaranya adalah wanita.
Malu-malu aku mengangguk. Tak sanggup lagi rasanya beradu pandang dengan seorang ustadz. Padahal, tadinya aku sempat berencana untuk meminta Susanti memperkenalkannya padaku seusai pengajian nanti.
Setelah dua jam yang hampir membuatku mati penat, akhirnya pengajian itu usai. Tak banyak yang kusimak karena fokusku teralihkan oleh wajah ustadz tampan itu. Aku hanya mendengar beberapa hal kecil saja, misalnya mengenai adab berpakaian seorang wanita. Sebaik-baiknya seorang muslimah adalah seseorang yang bisa menjaga dirinya dari pandangan pria. Yaitu, dengan cara menutup aurat, karena aurat adalah perhiasan wanita yang paling berharga. Kemudian ia mengulang lagi kalimat itu hingga tiga kali, dan pada yang ketiga kalinya ... dia mencatut namaku di akhir kalimat lengkap dengan penekanan, seolah ada banyak tanda seru menyertainya.
"Gunakan pakaian syar'i untuk menutup auratmu. Jangan menjadi golongan orang-orang yang berpakaian tapi telanjang ... Selvi!!!"
Jelas sekali dia menyindirku, dan setelah itu ramai suasana mushola berganti dengan cekikikan-cekikikan kecil dan bisikan-bisikan tipis.
***
Seharusnya, setelah apa yang terjadi waktu itu membuatku enggan untuk kembali ke pengajian. Namun, ternyata tidak demikian. Minggu berikutnya aku datang lagi. Kali ini aku mengenakan pakaian syar'i seperti yang dikenakan Susanti. Dan setelah pengajian usai, Ustadz Zaki memuji penampilanku. Oh tidak, aku bagai terbang ke awan.
Minggu-minggu berikutnya aku jadi rajin menghadiri pengajian. Tak pernah absen malah. Teman-teman Susanti kini juga menjadi temanku. Jika berkumpul, kami akan membicarakan perkara ilmu agama, dan berkat itu, jadi banyak pengetahuan yang kudapat.
Selain mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan, hubunganku dan Ustadz Zaki juga sangat baik. Di beberapa kesempatan dia meluangkan waktu untuk mengajariku mengaji, lalu di beberapa kesempatan aku dan yang lain akan membantunya melaksanakan kegiatan amal. Biasanya pergi ke panti asuhan atau panti jompo. Mengadakan pengajian bersama dengan anak-anak yatim piatu dan orang tua jompo yang diasingkan oleh anak kandungnya sendiri.
Sesekali aku mencuri waktu untuk berduan dengan Ustadz Zaki, dia tidak keberatan dan malah mengatakan bahwa dia sangat senang bisa membantuku belajar lebih banyak lagi perkara agama.
Banyak hal yang terjadi, dan semua itu mengarah pada kebaikan. Aku sama sekali tidak menyesal menghadiri pengajian itu.
"Kenapa Ustadz belum menikah?" tanyaku iseng di suatu hari.
"Menikah sih ingin, jodohnya yang belum ada. Tapi, saya memang belum memikirkan pernikahan sekarang. Ada sesuatu yang ingin saya capai sebelum menikah."
"Apa itu?"
Ustadz Zaki hanya tersenyum, dan aku semakin menggila karenanya. Senyum itu seperti doping yang membangkitkan semangat. Seperti moodbooster.
"Kamu sendiri kenapa belum menikah? Masih belum dapat jodoh juga?" tanyanya iseng, balas menjahiliku.
"Um ... iya nih, habisnya jodoh saya masih belum memikirkan pernikahan," cetusku bercanda, tapi kelihatannya Ustadz Zaki tidak menanggapi itu sebagai candaan.
Senyum di bibirnya seketika berubah menjadi sebuah garis lurus yang terasa hambar.
"Saya cuma becanda." Cepat aku menimpali sebelum dia beranggapan aneh mengenaiku, dan bibir itu kembali tersenyum.
Suatu hari aku memberitahukan Susanti perihal perasaanku pada Ustadz Zaki. Dia terkejut.
"Astagfirullah, Selvi, kamu harus bisa menjaga hati. Memikirkan seseorang yang bukan mahrammu adalah zina. Zina hati dan pikiran, dan jangan lupa, perbuatan zina adalah dosa!"
Aku mati kutu divonis telah berbuat zina oleh sepupu sendiri. Dan, ini juga sedikit membingungkan. Susanti tidak pernah mendikteku seperti ini saat aku menceritakan pria-pria yang dulu pernah dekat denganku, tapi ... kenapa mendadak dia berubah? Aku jadi kepikiran, mungkinkah?
"Jangan nodai hati dan pikiranmu dengan memikirkan lelaki yang bukan mahram. Tujuan kamu mengahadiri pengajian seharusnya untuk menuntut ilmu agama, untuk ibadah, bukan malah menjadikannya sebagai ajang mencari jodoh," timpal Susanti lagi, dan itu semakin membuatku meyakini prasangkaku padanya.
Padahal, dulu, kalau bukan karena Susanti yang menyarankan untuk ikut pengajian agar bisa mendapat jodoh yang baik, mungkin aku tidak akan pernah pergi ke pengajian itu. Tapi, setelah aku menemukan calon pujaan hati, merasa klop, dan mengutarakannya pada Susanti ... dia malah bersilat lidah.
"Lupakan saja Ustadz Zaki. Dia terlalu sempurna untukmu. Kalian nggak akan cocok!"
Kalimat terakhir itu terasa sangat nyelekit di hati. Aku tidak terima Susanti bicara seperti itu.
"Jadi, maksud kamu pria sempurna sepertinya hanya cocok untuk wanita yang juga sempurna?" jeda sebentar, "sepertimu mungkin?" Dan entah mengapa pernyataan itu mengalir dari mulutku.
Susanti bungkam. Matanya yang indah itu mengerjap-ngerjap, menyembunyikan kekhawatiran. Menatapku sebentar kemudian pergi. Melarikan diri. Oh tidak, aku semakin yakin kalau Susanti juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.
***
Minggu berikutnya aku datang lagi ke pengajian. Ada yang berbeda kali ini, entah hanya perasaanku saja atau benar adanya, tapi Susanti menghindariku. Dia bahkan pindah ke tempat lain saat aku duduk di sampingnya.
Kuputuskan untuk membicarakan hal tersebut. Usai pengajian aku memblokir jalan pulangnya, lalu menyeret Susanti ke belakang mushola. Ke tempat wudhu pria.
"Sebenarnya ada apa?" tanyaku.
Susanti terlalu lugu untuk menjadi orang munafik, dan dia juga terlalu jujur untuk berbohong. Matanya yang cerlang menghindari tatapku. Menunduk seolah mencari sesuatu yang tercecer di bawah sana.
"Kamu nggak bakal nemuin jawaban apa pun di bawah sana, Susanti!" seruku tegas.
Kali ini, wanita berwajah bulat dengan rona merah pada kedua pipinya itu menatapku lekat. Bibirnya berkedut-kedut seolah ingin mengucapkan sesuatu, tapi kehalusan hatinya kalah oleh kegentaran. Susanti tidak mengatakan apa pun, jadi aku yang menyimpulkan.
"Kamu menyukai Ustadz Zaki kan?"
Dia terkejut. Tiba-tiba napasnya berembus cepat, dan gerak geriknya terlihat kikuk. Aku hanya bisa tersenyum sinis setelahnya.
"Jadi, kita menyukai orang yang sama?"
"Aku sudah lama menyukainya," tuturnya jujur.
"Dan aku jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama," ucapku tak mau kalah. "Rasanya aneh harus bersaing sama saudara sendiri," lanjutku menghela napas ringan, dan itu mengejutkan Susanti.
"Kamu ... kamu nggak cocok sama Ustadz Zaki!" bentaknya kemudian.
Susanti berlari pergi, di tikungan langkahnya terhenti, begitupula dengan napasku. Terhenti untuk sepersekian detik. Pria yang kami bicarakan ada di sana. Berdiri di tikungan. Diam menyaksikan.
"Ustadz Zaki? Ustadz mau ngapain?" Susanti tampak panik.
"Saya mau wudhu," jawabnya tenang.
Sesaat aku tertegun, saat dua bola mata coklat terangnya menatapku. Cepat-cepat kualihkan pandang, dan mengendalikan degup jantung. Menutup mata dan mengatur napas.
"Susanti, maaf, saya mau wudhu dulu." Lembut suaranya terdengar olehku.
Sejenak kuberanikan untuk menoleh. Susanti pergi, dan Ustadz Zaki berjalan ke arahku, atau tepatnya ke tempat wudhu pria di mana aku berada sekarang.
"Kamu mau wudhu juga? Tempat wudhu wanita di samping mushola," katanya lembut. Biasa saja, seperti tidak ada apa pun yang dia dengar.
Aku menggelengkan kepala. "Emang mau shalat apa?" Pertanyaanku terlalu bodoh.
"Sebentar lagi ashar." Kami terdiam, lalu dia kembali bicara. "Mending ambil air wudhu, habis itu ikut shalat ashar berjamaah."
Mau tak mau aku menganggukkan kepala. Padahal perasaanku sedang tegang-tegangnya. Kurasa shalat memang jalan keluar terbaik. Setidaknya setelah shalat perasaanku jadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku sudah tenang.
"Selvi!" panggil Ustadz Zaki saat aku bersiap mengeluarkan motor dari tempat parkir.
Setengah berlari dia menghampiriku. Keningku berkerut heran. Tidak biasanya Ustadz Zaki terburu-buru seperti itu, padahal selama ini aku mengenalnya sebagai sosok yang selalu tenang dalam bersikap.
Di luar dari gerbang mushola, Ustadz Zaki menoleh ke arah pintu mushola, seolah meyakinkan sesuatu kemudian menghela napas pelan. Di bibirnya terukir seceruk lengkung. Senyuman yang sangat indah. Aku berdosa memikirkannya, dan jantung ini kembali tak bisa kukendalikan.
"Kamu mau pulang?"
"Iya,"
"Minggu depan ke sini lagi?"
Aku menatapnya aneh, kemudian tersenyum. Kenapa dia bertanya seperti itu?
"Iya," jawabku malu-malu.
Kami sama-sama terdiam. Ustadz Zaki seolah kehabisan ide untuk melanjutkan obrolan aneh itu, lantas dia menyuruhku pergi ke taman kota, dan dia akan mengikuti dari belakang. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan, tapi tidak bisa dibicarakan di tempat itu. Dia tidak mau kebersamaan kami menjadi ghibah.
"Ada yang mau saya tanyakan, dan saya nggak akan tenang kalau belum mendengar ini dari mulut kamu sendiri," katanya tanpa banyak basa basi setelah tiba di taman kota.
"Mengenai apa?"
"Saya dengar semua obrolan kamu sama Susanti." Napasku tercekat. "Apa itu benar?"
"Mengenai Susanti?" Aku memastikan.
"Bukan, tapi mengenai ucapanmu." Napasku semakin mencekat. "Apa benar kamu menyukaiku?"
Wajahku spontan merah padam. Harus ke mana kusembunyikan?
"Um ... i-itu ... um ... sebenarnya saya masih nggak yakin, tapi ... saya minta maaf, tapi memang itu yang saya rasakan."
"Nggak apa-apa," balasnya kemudian. Dia menatapku lembut. "Sebenarnya saya juga suka sama kamu. Kamu orang yang jujur, cepat belajar, dan pintar. Tapi, bisa kita sama-sama menjaga perasaan ini?"
Aku tak tahu harus bersikap seperti apa, yang kulakukan hanya diam tergugu. Apa dia barusan mengatakan suka? Semudah itu melafal suka?
"Maksud Ustadz?" tanyaku gugup.
"Saya masih punya nadzar. Kalau kamu bersedia menunggu, mungkin kamu mau memberi saya waktu untuk melanjutkan pendidikan S2 di Kairo, sekembalinya nanti saya akan bicarakan dengan orangtua saya mengenai kita."
"Ki-kita?"
Dia benar-benar membuatku hampir mati saat itu juga. Apa ini tidak terlalu cepat? Baiklah, aku faham. Tidak ada pacaran dalam kamus Ustadz Zaki. Dia adalah pribadi yang begitu mengedepankan ajaran agama. Aku pun mengerti dengan keinginannya. Sebuah janji suci. Sebuah pernikahan, tapi ... bagaimana dengan Susanti?
***
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Minggu berikutnya aku datang ke mushola. Susanti tidak ada, dan lagi-lagi Utadz Zaki memintaku ke taman kota. Apa ini sebuah kencan? Hem, lucu rasanya membayangkan cara berkencan seorang ustadz.
"Semalam, orangtua saya meminta agar saya melamar Susanti."
Kurasakan satu pembuluh darahku pecah, tepatnya di mana aku tidak tahu. Tapi terasa sakit sekali di dada. Jangan-jangan jantungku yang pecah.
"Dan kamu bilang apa?" tanyaku tegang.
"Saya pikirkan dulu."
"Pikirkan?" Darahku naik ke ubun-ubun. "Kamu bilang suka sama saya, kenapa nggak bilang nggak aja!" Mendadak aku jadi resah.
"Menurut orangtua saya, Susanti adalah wanita yang cocok untuk saya. Sepadan. Agamanya baik, berasal dari keluarga baik-baik, pandai, dan baik pula budi pekertinya."
"Lalu, menurutmu bagaimana?"
"Saya setuju."
Aku mengerutkan kening dalam. Setuju dia bilang? Kenapa mudah sekali bicara tanpa memikirkan perasaan orang lain? Emosiku membuncah, kurasakan sesuatu mengaduk perutku hingga ingin muntah.
"Minggu lalu kamu bilang kalau kamu suka sama saya, dan sekarang kamu setuju dengan pandangan orangtua kamu terhadap Susanti. Kamu itu gimana sih?" Dan aku menjadi diriku sendiri. Berteriak. Melotot.
Tidak ada lagi Selvi yang lemah lembut. Emosi jelas menguasi diriku, dan aku tidak tahu bagaimana cara mengendalikannya.
"Saya cuma setuju dengan pandangan orangtua saya mengenai Susanti, dan saya tetap suka sama kamu," katanya tetap tenang, sama sekali tak terpancing dengan emosiku.
"Kalau gitu bilang nggak dong!"
Dia tak berkomentar lagi setelahnya. Membiarkanku menikmati ketidaknyamanan itu seorang diri. Aku jadi sebal padanya. Dia terlihat seperti orang bodoh karena tak bisa mengambil sikap.
"Bukan perkara mudah mengatakan "nggak". Masalah jodoh adalah sesuatu yang serius. Jodoh adalah orang yang akan menghabiskan sisa waktunya bersama kita selamanya, karena itu sudah sewajibnya mencari jodoh yang baik."
Aku merasa menjadi bukan siapa-siapa ketika mendengar dia bicara demikian. Aku tak punya kelebihan apa pun yang bisa kubandingkan dengan Susanti. Terlalu banyak kekurangan pada diriku.
"Jadi kamu pilih Susanti?"
"Sudah saya bilang, akan saya pikirkan dulu."
"Kamu nggak bakal nyesel kalau pilih dia. Kamu tahu kan, Susanti juga suka sama kamu, tapi kamu juga harus tahu ... saya pasti sakit sekali jika kamu memilih dia," ucapku lirih.
***
Untuk kesekian kalinya aku merasa disakiti. Ternyata cowok alim sekali pun tak bisa menjamin kebahagian. Aku jelas kalah, apalagi ketika kudengar kabar dari ibu dan bapak yang bilang bahwa Susanti akan segera dilamar seseorang. Aku yakin itu Ustadz Zaki.
Dua kali hari minggu aku tidak menampakkan diri di pengajian. Memilih menghindar dari Ustadz Zaki, juga Susanti. Sudah lama juga aku tak mendengar kabar dari keduanya. Beberapa kali Ustadz Zaki menghubungi, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Hatiku pecah meski hanya mendengar suaranya. Aku membayangkan, mungkin mereka sedang sibuk mempersiapkan pernikahan.
Namun, hari ini, lagi-lagi aku mendapat kabar mengejutkan dari ibu. Pria yang diancang-ancang akan melamar Susanti membatalkan rencana lamarannya. Ibu bilang, Susanti sangat terluka karena hal itu.
Aku senang, tapi juga miris akan apa yang menimpa sepupuku. Hari itu juga aku bertolak ke rumah Susanti. Dia sedang mengaji saat aku tiba, dan segera menyelesaikan bacaannya ketika melihat kedatanganku.
"Aku turut menyesal atas apa yang terjadi," kataku. Susanti diam saja. Matanya menatap lurus ke depan, memerhatikan tirai gorden yang melambai-lambai ditiup angin.
"Aku dengar dari ibu, katanya kamu--"
"Aku menyesal atas apa yang terjadi pada kita, Sel. Seharusnya ini nggak perlu terjadi," potongnya cepat. Menatapku, lalu menyentuh punggung tanganku dengan lembut.
Aku merasakan kehangatan Susanti yang dulu. Kubalas senyum yang terlanjur tumpah di wajahnya, lalu memeluknya. Memberikan seluruh rasa aman dan nyaman yang bisa kuberikan.
"Aku bersalah. Ustadz Zaki tidak pernah punya niat untuk melamarku, tapi aku terus memaksa ayah untuk bicara dengan orangtua Ustadz Zaki untuk melamarku. Aku malu Sel. Aku telah merendahkan diriku sendiri." Napasnya tersengal. Susanti sesenggukan di dalam pelukanku. Jadi, selama dua minggu ini, tidak ada apa pun yang terjadi antara Susanti dan Ustadz Zaki.
Sepulangnya dari rumah Susanti, aku menyempatkan diri untuk bertandang ke tempat tinggal Ustadz Zaki. Mempertaruhkan harga diri. Setelah melihat keadaan Susanti tadi, aku jadi ingin tahu, apa alasan Ustadz Zaki menolak Susanti.
Dia terkejut ketika melihatku, dan langsung mempersilakanku duduk di kursi di teras depan rumahnya. Kami saling beramah tamah. Menanyakan kabar satu sama lain. Dia juga menanyakan alasanku tidak hadir di pengajian dua pekan itu, dan aku malah menjawabnya dengan kebohongan bahwa ada kesibukan lain.
"Susanti terluka," kataku pada akhirnya, membuka point utama percakapan itu.
Ustadz Zaki tak berkomentar. Dia menatapku sebentar, lalu cepat mengalihkan pandangannya lagi. Kedua tangannya saling tertaut dan napasnya terdengar teratur.
"Saya sudah menyampaikan permintaan maaf berkali-kali. Dia wanita yang sangat ideal untuk dijadikan seorang istri, tapi masalahnya ... saya tidak punya perasaan apa pun padanya. Saya pernah bilang, jodoh adalah orang yang akan menghabiskan sisa usianya bersama kita. Jadi, kita harus benar-benar mencari jodoh yang tepat, tidak hanya baik tapi juga haruslah orang yang kita cintai agar tidak menyesal di kemudian hari."
Khidmat aku mendengarkan penjelasan Ustadz Zaki. Dia bicara seolah sedang berceramah seperti yang biasa ia lakukan di pengajian.
"Jadi, apa yang kamu lakukan selanjutnya?" tanyaku setelah Ustadz Zaki menyelesaikan penjelasannya.
"Selvi, saya akan berdosa jika mengatakan ini, tapi seperti yang kamu tahu ... hati ini milikmu. Saya masih menyayangimu, bahkan saya hampir gila karena tidak bertemu denganmu dua pekan ini."
Darahku mengalir deras, jantungku memompa kencang, wajahku panas meradang, dan tenggorokanku terasa sakit bagai ada tulang yang menusuknya.
Kurasakan mataku memanas, berkaca-kaca kemudian pecah ... membentuk dua aliran air kecil di kedua pipi.
"Tapi Susanti ... saya nggak sanggup kalau harus melukai Susanti," kataku lirih.
"Saya minta maaf, Sel, tapi saya sudah memutuskan untuk tidak memilih siapa pun."
Keningku terangkat. Kuseka air mata, dan menatapnya dengan mata yang disipitkan.
"Saya memikirkan perasaanmu jika saya menikah dengan Susanti, juga memikirkan perasaan Susanti jika menikah denganmu. Kamu cukup tahu saja, bahwa yang ada di hati saya cuma kamu, tapi saya tetap tidak bisa memilih. Lebih baik seperti ini saja."
"Tapi kita semua akan tersakiti," timpalku.
"Ya, tapi lebih baik seperti ini. Apa bedanya sakit sekarang dan sakit besok. Toh judulnya sama-sama sakit, jadi pilih mana? Sakit sekarang atau sakit nanti?"
Aku kehabisan kata-kata. Dia memang benar. Akan ada yang terluka jika dia memilih salah satu di antara kami. Dan itu tidak adil. Agar adil, biarlah kami semua tersakiti.
"Lusa, saya akan berangkat ke Kairo. Saya mohon doamu, Sel."
Terkadang, takdir memang kejam. Mempertemukan tapi tak menyatukan. Seseorang pernah berkata, jika dia jodohmu, sejauh apa pun dia pergi, di manapun dia berada ... Tuhan pasti akan mempersatukan.
Selama masa penantian ini, yang perlu aku lakukan hanyalah memantaskan diri, memperbaiki diri, dan mengisinya dengan segala sesuatu yang bermanfaat agar masa penantian ini tidak menjadi sia-sia.
Seperti Susanti yang menemukan jodohnya. Seorang teman lama yang pernah dia kenal sewaktu SMA. Mereka menikah dan dikarunia seorang anak perempuan. Mereka pasangan serasi dan selalu bahagia. Kadang aku iri melihat kebahagian kecil yang dicecapnya, dan menagih kepada Tuhan, kapan kebahagiaan itu Ia kadokan untukku?
Yang pasti, saat aku melibatkan Tuhan dalam setiap impianku, aku percaya tidak ada yang tidak mungkin.

The End

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3