Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3

Enggak tahu kenapa akhir-akhir ini saya lagi malas banget nulis. Fokus saya teralihkan oleh 10 buku yang saya beli bulan lalu dan belum saya baca. Sampai ini baru 2 buku yang saya tamatkan. Makanya, setiap hari saya harus baca minimal tiga bab novel, 2 buah cerpen, dan banyak bab novel salah satu teman di website gratis novel nusantara (bukan iklan)

Okey, sebelum saya melanjutkan membaca novel Rumah di Seribu Ombak, saya harus lunasi janji terlebih dahulu. Melanjutkan tulisan mengenai suku asli Kalimantan Timur.

Di ulasan lalu saya menulis tentang suku Dayak Kenyah, suku di mana ceweknya cantik-cantik kayak China, karena setelah mempelajri asal usulnya, mereka memang berasal dari sana. Nah, untuk tahu suku Dayak Kayan berasal dari mana, mari kita bahas panjang lebar di  sini.

SUKU DAYAK KAYAN


Suku Dayak Kayan (Apau Kayan), adalah suatu masyarakat dayak yang bermukim di sepanjang sungai Kayan. Sedangkan sungai Kayan merupakan anak sungai yang bermuara ke Sungai Melawi. Bagian hulunya berada di kampung Gemare, Tebidah di kecamatan Kayan Hulu. Populasi suku Kayan diperkirakan berjumlah 30.000 orang.

Menurut legenda pada masyarakat Dayak Kayan, orang Kayan merupakan cikal bakal dari semua suku-suku kecil dayak yang berada di sepanjang sungai Kayan, yang terdiri dari suku Papak, suku Tebidah, suku Paya’, suku Goneh, suku Nanga, suku Kebahan dan suku Barai. Semua suku-suku kecil dayak tersebut adalah keturunan suku Kayan, dan tergabung dalam rumpun Kayan, kecuali suku Dayak Lebang saja yang tidak berasal dari suku Kayan ini.

Orang-orang pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, terdiri dari Apang Isai, Indai Isai, Madung Panjang, Madung Penda', Mambang Tobing Kumpang, dan Mia Balon Sasa'. Dari mereka semua ini lah yang menurunkan suku Kayan. Mereka semua bermukim di Tapang Sungai Emas.

Temenggung pertama yang memimpin orang Kayan adalah Temenggung Mangku, yang berasal dari Topan. Setelah itu dipimpin oleh Temenggung Tukut dari Lintang Tambuk dan Temenggung Sadu dari Nanga Masau.
Waktu memasuki daerah ini, mereka tidak langsung bermukim di daerah hulu, tetapi mereka mendirikan perkampungan di daerah Nanga Kayan. Setelah tinggal beberapa waktu, lalu pindah ke arah hulu Nanga Kayan, yaitu di wilayah sungai Kayan. Kemudian mereka pindah lagi ke arah bagian hilir Nanga Mau. Lalu periode berikutnya mereka pindah lagi ke arah hulu Nanga Mau. Dari daerah bagian hulu Nanga Mau, lalu mereka pindah lagi ke arah dekat Nanga Tebidah dan pada akhir perjalanan, mereka menetap di Nanga Tebidah.

Masyarakat suku Kayan menyadari, mereka bukan berasal dari sungai Kayan itu sendiri. Menurut mereka, bahwa mereka berasal dari luar daerah mereka sekarang, ketika para leluhur memasuki wilayah sungai Kayan, yang pada awalnya daerah ini masih belum berpenghuni.

Ada sebuah pemikiran yang mengatakan bahwa nenek moyang suku Kayan kemungkinan berasal dari daerah Kalimantan Tengah, tepatnya dari daerah sungai Kahayan. Diperkirakan mereka memiliki hubungan dengan suku Dayak Ngaju. Lagi pula bila dilihat dari nama-nama orang Kayan pertama yang membentuk komunitas suku Kayan, nama-nama tersebut mendekati kepada nama-nama dari suku Dayak Ngaju. Sedangkan para peneliti berpendapat, suku Kayan adalah bagian dari rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari Sarawak. Pada awalnya ketika memasuki wilayah Kalimantan Timur, mereka menetap di daerah Apau Kayan yang berada di daerah aliran sungai Kayan. Tetapi karena pada saat itu terjadi perang antara suku-suku dayak, mereka pun mencari daerah yang lebih aman, subur dan terisolir. Suku Kayan meninggalkan daerah Apau Kayan yang telah mereka tempati selama 300 tahun. Mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih maju agar dapat lebih berkembang kehidupannya. Saat ini mereka menetap di daerah aliran sungai Wahau yang telah dihuni oleh suku Dayak Wehea di kabupaten Kutai Timur terutama di Desa Miau Baru sejak tahun 1969. Diperkirakan pada zaman Kerajaan Kutai Martadipura (Kutai Mulawarman), suku Kayan belum memasuki Kalimantan Timur. Suku Kayan diperkirakan termasuk salah satu suku yang belakangan memasuki pulau Kalimantan, yang diperkirakan berasal dari pulau Formosa (Taiwan).

Suku Dayak Kayan (Apau Kayan), terdiri 10 suku kecil, yaitu:

Uma Pliau
Uma Samuka
Uma Puh
Uma Paku
Uma Bawang
Uma Naving
Uma Lasung
Uma Daru
Uma Juman
Uma Leken

Sebenarnya selain 10 kecil di atas, ada 3 suku kecil lain yang ditambahkan ke dalam rumpun Kayan (Apau Kayan), yang terdapat di kabupaten Kapuas Hulu provinsi Kalimantan Barat, yaitu:

Uma’ Aging
Uma’ Pagung
Uma’ Suling.

Tetapi hal ini menjadi perdebatan bagi ke 3 kelompok suku kecil yang berada di sekitar sungai Mendalam, kabupaten Kapuas Hulu ini, mereka tidak setuju bila dimasukkan ke dalam kelompok Kayan. Mereka lebih suka disebut sebagai kelompok Kayaan. Bagi ke 3 suku kecil ini, penulisan Kayan, tidak menunjukkan kepada diri mereka, karena mereka tidak merasa sebagai Kayan. Jadi mereka adalah Kayaan, bukan Kayan. Mereka menyebut diri mereka sebagai suku Kayaan Mendalam.

Menurut sejarah suku Kayan, pada sekitar tahun 1863, suku Dayak Iban bermigrasi dan memasuki daerah hulu sungai Saribas dan sungai Rejang, dan menyerang suku Kayan yang berada di daerah hulu sungai. Perang dan serangan pengayauan menyebabkan suku-suku dayak lain juga terusir dari wilayahnya.

Di daerah Empakan terdapat beberapa sandung dan temaduk . Ada juga 12 buah adau’ atau sumur air asin yang bernama Dayang Iyang, Semanuk, Jabai, Gelagas, Pendak, Kenek, Engkabang, Baru, Engkudu, Batu Babi, Rangkupm dan Dapuh.

Orang Dayak Kayan mengenal suatu tradisi lisan seperti kana dan cara menceritakannya disebut bekana . Tradisi ini adalah cerita tentang kepahlawanan dan percintaan yang diceritakan dengan alunan yang khas. Di samping itu juga mereka mengenal kebiasaan begurau di dalam pesta atau sewaktu minum. Selain itu pada suku Kayan juga memiliki beberapa tarian yang selalu mereka tarikan setiap melaksanakan upacara adat, maupun dalam menyambut para tamu. Selain itu seni budaya suku Kayan juga sering ditampilkan di pentas nasional maupun internasional, sehingga suku Kayan beserta budayanya sangat populer di dunia Internasional.

Mata Pencaharian Suku Dayak Kayan

Mata pencaharian masyarakat ini adalah bercocok tanam di ladang dengan sistem tebang bakar. Sekarang sebagai mata pencaharian tambahan mereka juga menyadap karet atau mengumpulkan berbagai macam hasil hutan lain yang bisa menghasilkan uang. Tanaman pokoknya adalah padi ladang, selain itu mereka juga menanam jagung, ubi kayu, ubi jalar, sayur, kelapa dan pisang. Jenis tanaman keras yang sudah banyak mereka kembangkan adalah karet, kopi, tengkawang, dan cengkeh.

Suku-suku bangsa Dayak di Kalimantan Barat telah mengenal tanaman karet sejak awal tahun 1900-an. Tidak heran jika kini hampir setiap keluarga memiliki kebun karet sendiri.

Kelompok Kekerbatan suku Dayak Kayan

Kelompok kekerabatan orang Kayan yang terkecil adalah keluarga inti yang disebut putung. Beberapa putung bergabung dengan keluarga lausnya (pawaat) dan hidup dalam satu rumah tangga (amin). Mereka menarik garis hubungan keturunan secara bilateral yaitu mengkaitkan hubungan kekerabatan seseorang baik kepada pihak ayah, maupun kepada pihak ibu.
Bentuk perkawinan yang ideal atau yang diharapkan menurut adat Kayan adalah antara dua orang bersaudara sepupu derajat ketiga (paharian ketelo). Sebaliknya, perkawinan antara dua orang sepupu derajat kesatu dan kedua dianggap tabu (tepang perah). Perkawinan yang juga dilarang adalah antara orang yang berlainan generasi, misalnya antara seorang laki-laki dengan bibinya (ine). Bila itu terjadi dikiaskan sebagai "anak menyusui ibunya" (nuso' hinan na'). 

Pada masa sekarang bentuk perkawinan orang Kayan sudah lebih banyak mengacu kepada ajaran agama Katolik yang dianut oleh sebagian besar masyarakat ini.

Ketentuan adat Kayan menyatakan bahwa anak laki-laki atau perempuan tertua mendapat hak pertama menjadi pemegang dan pemelihara harta pusaka keluarga (dayan pesaka), dengan syarat ia harus tetap tinggal di tempat asalnya. 

Harta pusaka tersebut antara lain berupa gong, tempayan kuno, canang, manik-manik kuno dan pedang mandau kuno (malaat una'). Apabila ia merasa tidak mampu atau karena kawin dan menetap di rumah keluarga pihak isteri/suaminya, maka hak atas harta pusaka itu dialihkan kepada saudara laki-lakinya yang lebih muda. Apabila saudara laki-lakinya juga merasa tak mampu, maka hak tersebut dapat diserahkan kepada salah seorang saudara perempuannya yang dianggap cakap.

Pekerjaan berat-berat seperti menebang hutan, membakar dan membersihkan lahan yang bakal dijadikan perladangan, atau membuat perahu, mencari kayu bakar, membangun pondok di ladang, berburu, menoreh karet, atau menjala ikan adalah tugas kaum laki-laki dewasa. Sedangkan kaum perempuan bertugas menyelenggarakan kebutuhan makan keluarga sehari-hari, menyemai padi, menyiangi ladang, menuai padi, membuat barang anyaman dari rotan atau daun pandan, memelihara ternak babi dan ayam.

Pada masa lampau pemerintahan adat di desa-desa Kayan dipimpin oleh seorang Temenggung. Pada masa sekarang kepala desa yang diangkat oleh pemerintah masih tetap didampingi oleh Temenggung, yang dapat dipandang sebagai penasehat di bidang adat-istiadat masyarakat setempat. 

Temenggung sekarang lebih berperan sebagai pemimpin informal di bidang adat istiadat. Ia dipilih masyarakat karena dinilai cakap dan mengerti masalah yang terkait dengan adat istiadat Kayan. Orang Kayan mulai mengenal agama Katolik dan pendidikan formal sejak akhir abad kesembilan belas.

sumber:

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1