Grey dan Jejak Kelicikan yang Ditinggalkannya
Alkisah pada suatu hari yang kering kerontang, panas-panasan dikit bikin kulit terbakar, bertamulah seekor kucing dengan bulunya yang bermotif belang: hitam, abu rokok, dan sedikit putih. Kucing itu masuk lewat jendela dapur yang biasanya tidak pernah kubuka, namun entah malaikat mana yang merasuki, aku terdorong untuk membukanya. Oh ya, itu karena cuaca panas yang kurang ajar sekali, membuatku gerah dan memberangus tubuhku dengan keringat.
Kucing belang itu menatapku, dan aku balas menatapnya, cukup lama hingga membuat sesuatu di dalam hatiku mencelos keluar. Rasa iba.
Bagaimana aku tidak iba. Kucing itu menatapku dengan sorotnya yang ... entahlah, dia membuatku terenyuh dan merasa menjadi manusia paling kejam jika tidak mengacuhkannya. Seolah sorot mata itu mengatakan sesuatu padaku, menerjemahkan bahasa "meong-meong" yang tidak bisa kumengerti meski aku ikut kursus pelajaran bahasa hewan sekalipun.
"Permisi, minta sedekahnya, Bu." Mungkin begitulah katanya.
Aku bukan pecinta kucing, bukan pula pembenci kucing. Perasaanku pada hewan berbulu dan manja itu biasa saja, itulah sebabnya aku mengambil seekor ikan goreng di atas meja makan yang tertutup tudung saji, dan menghidangkannya dengan tambahan satu centong nasi dan kuah sayur.
Kucing belang itu langsung memburuku, seolah ada sesuatu di antara kami yang membuat aku dan kucing belang itu bisa menahami pikiran masing-masing. Dia berputar-putar di kakiku, menggesekkan bulunya di kulitku, yang sesekali membuatku geli, sesekali membuatku kaget, dan sesekali membuatku jengkel hingga rasanya ingin sekali menendang, tapi tidak kulakukan. Aku masih punya rasa perikehewanan.
Lekas aku menghidangkan makan siangnya di dapur kotor (tempat cuci piring), dan kucing belang tersebut langsung menyambarnya. Kucing itu makan dengan lahap, tapi dia hanya memakan ikannya saja, dan menyisakan nasi. Setelah ikan di piring itu habis, kucing itu pun pergi melalui jendela di mana dia masuk.
Keesokan harinya kucing itu datang lagi. Kali ini dia masuk melalui jendela kamar, karena jendela dapur tidak aku buka. Tanpa merasa terbebani sedikit pun, aku memberinya makan lagi. Sama seperti kemarin, lagi-lagi kucing itu menyisakan nasi dan menghabiskan ikannya. Setelah itu dia pergi--kali ini lewat jendela dapur yang sengaja kubuka.
Keesokan harinya, kucing itu datang lagi, terus seperti itu setiap hari. Aku tetap memberinya makan, tapi tidak menghidangkan nasi lagi, hanya ikan. Dan, aku memutuskan harus memberinya nama agar tidak memanggilnya dengan panggilan "Cing", dan aku memanggilnya Grey, sesuai dengan bulunya lebih mendominasi dengan warna abu rokok.
Pada suatu hari membosankan, yang membuatku tak ingin beranjak ke mana pun selain uring-uringan di tempat tidur, Grey datang lagi. Entah dia masuk lewat mana, padahal jendela dapur dan jendela kamar tidak kubuka. Aku memburunya keluar karena tidak ada apa pun di dapur yang bisa kuberikan untuk ia makan, selain itu sebenarnya aku juga merasa sedikit jengkel pada Grey. Dia terus mengeong, berputar-putar di kakiku, dan mengikuti ke mana pun aku pergi. Itu sangat mengganggu. Aku bukan induk itik, yang ke mana-mana diikuti anak-anaknya. Aku bukan induk Grey.
Inilah jeleknya kucing, mereka terlalu manja. Diberi makan sekali, kemudian meminta lagi dan lagi. Aku bukannya pelit dan tidak mau berbagi rezeki pada Grey, tapi memang tidak ada apa pun yang bisa kuberikan hari itu, dan Grey terus mengeong, mengingatkanku pada kelakuan Azka yang merengek-rengek saat minta dibelikan permainan monopoli yang sebenarnya tidak bisa dia mainkan.
Satu lagi sifat kucing yang tidak aku suka selain sifat manjanya, yaitu ... kelancangan mereka mencuri dari orang yang sudah berbuat baik pada mereka.
Pada suatu hari senin yang lembap, aku baru selesai menggoreng beberapa potong ayam. Setelah selesai memasak, aku pergi ke ruang tengah dan membaca buku di sana. Dari arah dapur aku mendengar sedikit keributan dan "prang", sesuatu jatuh dan pecah. Buru-buru aku ke dapur dan mengecek keadaan, ternyata Grey--kucing belang itu--masuk tanpa sepengetahuanku dan mencari sendiri makan siangnya di meja makan.
Hari itu aku benar-benar jengkel pada Grey dan langsung mengusirnya. Esoknya dia datang lagi dan melakukan hal serupa. Dia mencuri seekor ikan goreng dan membawanya ke dapur kotor untuk dinikmati. Entah apa yang membuat Grey jadi sekurang ajar itu, akhirnya karena kesal aku menutup pintunya dan mengunci Grey di sana. Sorenya aku keluar untuk jogging, dan sekembalinya dari jogging, aku mendengar Grey mengeong dari arah dapur kotor.
Aku menepuk dahi, lupa kalau siang tadi mengunci Grey di sana. Aku segera membuka pintu dapur, melihat Grey mondar mandir kebingungan, kemudian segera membuka jendela dapur agar Grey bisa keluar. Sesudah Grey keluar, ada sesuatu yang ia tinggalkan, yaitu aroma yang lebih tajam dari besi samurai karatan dan lebih busuk dari masa lalu yang kelam. Mendadak perutku mual.
Aku mencari-cari asal bau itu; di belakang lemari dapur, di bawah lemari piring, di bawah meja kompor ... namun hasilnya nihil. Grey sangat pandai menyembunyikan "jejak kelicikan"nya, tapi "jejak kelicikan" itu tidak pandai menyembunyikan aromanya. Bahkan, hingga postingan ini kubuat pun, aku belum berhasil menemukan "jejak kelicikan" itu, dan baunya masih setia menggantikan aroma pewangi ruangan.
***
Kucing belang itu menatapku, dan aku balas menatapnya, cukup lama hingga membuat sesuatu di dalam hatiku mencelos keluar. Rasa iba.
Bagaimana aku tidak iba. Kucing itu menatapku dengan sorotnya yang ... entahlah, dia membuatku terenyuh dan merasa menjadi manusia paling kejam jika tidak mengacuhkannya. Seolah sorot mata itu mengatakan sesuatu padaku, menerjemahkan bahasa "meong-meong" yang tidak bisa kumengerti meski aku ikut kursus pelajaran bahasa hewan sekalipun.
"Permisi, minta sedekahnya, Bu." Mungkin begitulah katanya.
Aku bukan pecinta kucing, bukan pula pembenci kucing. Perasaanku pada hewan berbulu dan manja itu biasa saja, itulah sebabnya aku mengambil seekor ikan goreng di atas meja makan yang tertutup tudung saji, dan menghidangkannya dengan tambahan satu centong nasi dan kuah sayur.
Kucing belang itu langsung memburuku, seolah ada sesuatu di antara kami yang membuat aku dan kucing belang itu bisa menahami pikiran masing-masing. Dia berputar-putar di kakiku, menggesekkan bulunya di kulitku, yang sesekali membuatku geli, sesekali membuatku kaget, dan sesekali membuatku jengkel hingga rasanya ingin sekali menendang, tapi tidak kulakukan. Aku masih punya rasa perikehewanan.
Lekas aku menghidangkan makan siangnya di dapur kotor (tempat cuci piring), dan kucing belang tersebut langsung menyambarnya. Kucing itu makan dengan lahap, tapi dia hanya memakan ikannya saja, dan menyisakan nasi. Setelah ikan di piring itu habis, kucing itu pun pergi melalui jendela di mana dia masuk.
Keesokan harinya kucing itu datang lagi. Kali ini dia masuk melalui jendela kamar, karena jendela dapur tidak aku buka. Tanpa merasa terbebani sedikit pun, aku memberinya makan lagi. Sama seperti kemarin, lagi-lagi kucing itu menyisakan nasi dan menghabiskan ikannya. Setelah itu dia pergi--kali ini lewat jendela dapur yang sengaja kubuka.
Keesokan harinya, kucing itu datang lagi, terus seperti itu setiap hari. Aku tetap memberinya makan, tapi tidak menghidangkan nasi lagi, hanya ikan. Dan, aku memutuskan harus memberinya nama agar tidak memanggilnya dengan panggilan "Cing", dan aku memanggilnya Grey, sesuai dengan bulunya lebih mendominasi dengan warna abu rokok.
Pada suatu hari membosankan, yang membuatku tak ingin beranjak ke mana pun selain uring-uringan di tempat tidur, Grey datang lagi. Entah dia masuk lewat mana, padahal jendela dapur dan jendela kamar tidak kubuka. Aku memburunya keluar karena tidak ada apa pun di dapur yang bisa kuberikan untuk ia makan, selain itu sebenarnya aku juga merasa sedikit jengkel pada Grey. Dia terus mengeong, berputar-putar di kakiku, dan mengikuti ke mana pun aku pergi. Itu sangat mengganggu. Aku bukan induk itik, yang ke mana-mana diikuti anak-anaknya. Aku bukan induk Grey.
Inilah jeleknya kucing, mereka terlalu manja. Diberi makan sekali, kemudian meminta lagi dan lagi. Aku bukannya pelit dan tidak mau berbagi rezeki pada Grey, tapi memang tidak ada apa pun yang bisa kuberikan hari itu, dan Grey terus mengeong, mengingatkanku pada kelakuan Azka yang merengek-rengek saat minta dibelikan permainan monopoli yang sebenarnya tidak bisa dia mainkan.
Satu lagi sifat kucing yang tidak aku suka selain sifat manjanya, yaitu ... kelancangan mereka mencuri dari orang yang sudah berbuat baik pada mereka.
Pada suatu hari senin yang lembap, aku baru selesai menggoreng beberapa potong ayam. Setelah selesai memasak, aku pergi ke ruang tengah dan membaca buku di sana. Dari arah dapur aku mendengar sedikit keributan dan "prang", sesuatu jatuh dan pecah. Buru-buru aku ke dapur dan mengecek keadaan, ternyata Grey--kucing belang itu--masuk tanpa sepengetahuanku dan mencari sendiri makan siangnya di meja makan.
Hari itu aku benar-benar jengkel pada Grey dan langsung mengusirnya. Esoknya dia datang lagi dan melakukan hal serupa. Dia mencuri seekor ikan goreng dan membawanya ke dapur kotor untuk dinikmati. Entah apa yang membuat Grey jadi sekurang ajar itu, akhirnya karena kesal aku menutup pintunya dan mengunci Grey di sana. Sorenya aku keluar untuk jogging, dan sekembalinya dari jogging, aku mendengar Grey mengeong dari arah dapur kotor.
Aku menepuk dahi, lupa kalau siang tadi mengunci Grey di sana. Aku segera membuka pintu dapur, melihat Grey mondar mandir kebingungan, kemudian segera membuka jendela dapur agar Grey bisa keluar. Sesudah Grey keluar, ada sesuatu yang ia tinggalkan, yaitu aroma yang lebih tajam dari besi samurai karatan dan lebih busuk dari masa lalu yang kelam. Mendadak perutku mual.
Aku mencari-cari asal bau itu; di belakang lemari dapur, di bawah lemari piring, di bawah meja kompor ... namun hasilnya nihil. Grey sangat pandai menyembunyikan "jejak kelicikan"nya, tapi "jejak kelicikan" itu tidak pandai menyembunyikan aromanya. Bahkan, hingga postingan ini kubuat pun, aku belum berhasil menemukan "jejak kelicikan" itu, dan baunya masih setia menggantikan aroma pewangi ruangan.
***
Comments
Post a Comment