Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Sesuai janji saya kemarin, hari ini saya akan membahas tentang salah satu suku asli yang ada di Kalimantan Timur, tentunya selain Suku Dayak.
Saat mempelajari suku satu ini, saya baru tahu bahwa suku ini masih berhubungan erat dengan suku dayak. Mereka berasal dari leluhur yang sama, hanya saja sengaja memisahkan diri karena satu alasan, seperti kamu ... yang pergi meninggalkanku karena satu alasan. Eh, kok jadi curcol.

Okey, daripada makin ke sini makin ngelantur, lebih baik segera kita bahas ya, tapi terlebih dahulu kalian harus siapkan cola dan popcorn biar nggak ngantuk. Kenapa demikian? Karena penjelasannya lumayan panjang, dan teruntuk saya khususnya, biasanya suka mengantuk kalau membahas hal-hal yang berbau sejarah dan ilmu pengetahuan.

Okey, here we go

Ada salah saty suku asli Kalimantan Timur selain Suku Dayak, yaitu Suku Kutai.


Suku Kutai atau Urang Kutai adalah suku asli yang mendiami wilayah Kalimantan Timur yang mayoritas saat ini beragama Islam dan hidup di tepi sungai.
Suku Kutai merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak , khususnya dayak rumpun ot danum (Dayak Lawangan, Dayak Tunjung dan Suku Dayak Benuaq) yang kemudian dengan masuknya budaya melayu dan muslim menciptakan terbentuknya masyarakat Suku Kutai yang berbeda budaya dengan Suku Dayak.
Adat-istiadat lama Suku Kutai banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun ot danum (khususnya Tunjung-Benuaq) misalnya; Erau (upacara adat yang paling meriah), Belian (upacara tarian penyembuhan penyakit), dan mantra-mantra serta ilmu gaib seperti; parang maya, panah terong, polong, racun gangsa, perakut, peloros, dan lain-lain. Dimana adat-adat tersebut dimiliki oleh Suku Kutai dan Suku Dayak, bahkan hingga saat ini masih ada Suku Kutai di Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara yang menganut kepercayaan kaharingan sama halnya dengan kepercayaan Suku Dayak .
Pada awalnya Kutai bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat atau wilayah dan nama Kerajaan di mana ditemukannya prasasti Yupa oleh peneliti Belanda.
Seluruh masyarakat asli Kalimantan sendiri sebenarnya adalah Serumpun, antara Ngaju, Maanyan, Iban, Kenyah, Kayan, Kutai (Lawangan - Tonyoi - Benuaq), Banjar (Ngaju, Iban , maanyan, dll), Tidung, Paser, dan lainnya. Hanya saja Permasalahan Politik Penguasa dan Agama menjadi jurang pemisah antara keluarga besar ini.
Mereka yang meninggalkan kepercayaan lama akhirnya meninggalkan adatnya karena lebih menerima kepercayaan baru dan berevolusi menjadi Masyarakat Melayu Muda. Khususnya dalam Islam maupun Nasrani, hal - hal adat yang bertolak belakang dengan ajaran akan ditinggalkan. Sedangkan yang tetap teguh dengan kepercayaan lama disebut dengan Dayak.
Kutai menjadi nama suku akibat dari politik kepentingan penguasa saat itu yang berambisi menyatukan Nusantara yaitu Maharaja Kertanegara penerus Singasari yang berasal dari Jawa dengan tujuan untuk menahan perluasan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol. Di saat itu selama kekuasaan Kertanegara sebagian masyarakat asli Borneo yang biasa disebut dengan Masyarakat Dayak akhirnya bertransformasi menjadi Masyarakat Kutai saat berdiam di wilayah Kekuasaan Kerajaan Kertanegara dan diharuskan mematuhi peraturan penguasa. Yang menolak dan memiliki kesempatan melarikan diri akhirnya masuk ke pedalaman dan tetap menjadi masyarakat Dayak.
Versi lain menyebutkan bahwa istilah dayak juga bukan merupakan nama suku dulunya karena istilah dayak merupakan nama pemberian Belanda yang digunakan oleh para kolonial Belanda untuk menghina masyarakat dayak, yang berarti orang liar.

Bahasa
Suku Kutai ini terdiri dari beberapa sub-suku yang memiliki bahasa beragam. Sejumlah bahasa sub-suku yang sudah tidak digunakan lagi dan kemungkinan diperkirakan sudah punah adalah bahasa Baang Kelo, Umaa Luhaat, Umaa Palaa, Umaa Palog, Umaa Sam dan Umaa Wak.
Bahasa-bahasa itu pada masa dahulu lazim dituturkan oleh orang Kutai yang berada di hulu dan hilir sungai Mahakam. Sementara bahasa Kutai yang masih digunakan saat ini terbagi ke dalam empat dialek, yakni dialek Kutai Tenggarong, Kutai Kota Bangun, Kutai Muara Ancalong, dan Kutai Sengata atau Sangatta.

Sejarah Suku Kutai
Berkenaan dengan asal-muasal suku Kutai, teori yang paling terkemuka menyebutkan bahwa leluhur suku Kutai berasal dari provinsi Yunan, China, yang datang ke Kalimantan Timur dalam dua gelombang, yakni antara tahun 3000-1500 SM dan 500 SM. Para pendatang tersebut kemudian berasimilasi dengan para penduduk lokal yang sudah ada sebelumnya.
Dalam sejarahnya, di wilayah Kutai terdapat lima puak (suku), yakni Puak Pantun, Puak Punang, Puak Pahu, Puak Sendawar, dan Puak Melani. Berikut adalah nama-nama puak tersebut berikut wilayah persebarannya:
1. Puak Pantun, yakni kelompok masyarakat tertua di Kalimantan Timur yang juga merupakan puak yang paling tua di antara 5 puak Kutai lainya. Mereka adalah suku bangsa yang dahulu mendirikan kerajaan tertua di Nusantara, yakni kerajaan Kutai Martadipura pada abad ke-4 Masehi. Wilayah persebaran mereka mencakup sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Timur hari ini.
2. Puak Punang (Puak Kedang), yakni suku yang mendiami wilayah pedalaman. Puak punang ini tersebar di wilayah Kota Bangun, danau semayang, Muara Muntai, Sungai Belayan dan wilayah-wilayah di sekitarnya.
3. Puak Pahu, yakni suku yang mendiami wilayah Kedang Pahu dan wilayah sekitarnya.
4. Puak Sendawar, yakni suku yang mendiami wilayah Sendawar (Kutai Barat). Suku ini dulu mendirikan sebuah Kerajaan bernama Sendawar di wilayah Kutai Barat. Dalam perkembangannya, mereka bermigrasi meninggalkan tanah moyangnya dan membentuk kelompok sukunya masing-masing, yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian. Selain suku-suku tersebut, terdapat pula suku-suku lain, yaitu suku Dayak Kenyah, Basap, Kayan, dan Punan.
5. Puak Melani, yakni suku yang mendiami wilayah pesisir. Suku ini merupakan kelompok masyarakat yang termuda di antara puak –puak Kutai. Di dalam suku ini telah dimungkinkan juga telah terjadi “percampuran” antara suku kutai asli dengan beberapa suku pendatang seperti; Banjar, Melayu dan suku Jawa.
Dalam sejarahnya, puak Pantun, Punang, Pahu dan Melani kemudian berkembang menjadi suku Kutai yang masing-masing memiliki bahasa yang mirip tetapi berbeda secara dialek. Sebagian puak Sendawar yang tetap tinggal di wilayah pedalaman, dan oleh Peneliti Belanda kemudian disebut dengan sebutan “Orang Dayak”.
Di sinilah dikatakan sebagai awal dari terbaginya dua kelompok atau golongan dari suku asli di Tanah Kutai; Suku Dayak dan Suku Kutai. Oleh suku Dayak, suku Kutai disebut sebagai “haloq ”.
Haloq merupakan sebutan Suku Dayak atau “suku asli” Tanah Kutai yang keluar dari adat atau budaya dan atau kepercayaan nenek moyang. Mereka yang behaloq (meninggalkan adat lama) telah menerima dan berbaur dengan “budaya” pendatang.
Sebutan haloq dari sebagian puak mulai timbul ketika sejumlah puak lainnya banyak meninggalkan kepercayaan lama, salah satunya adalah dengan memeluk ajaran-ajaran pendatang, terutama Islam. Puak yang masih bertahan dengan adat atau kepercayaan lamanya adalah puak Sendawar, meskipun sebagian kecilnya ada juga suku yang berasal dari puak Sendawar yang telah
meninggalkan adat lama. Mungkin sejak saat itulah orang yang dinyatakan haloq dan orang yang bukan haloq telah terpisah kehidupannya, karena dinilai sudah berbeda adat istiadat. Perlahan namun pasti, kelompok yang tergolong haloq menyebut dirinya “Orang Kutai”, yang berarti mereka yang ada di tanah Kutai atau orang yang berasal dari wilayah Kerajaan Kutai.
Setelah masuknya Islam, terjadi perubahan secara drastis dalam tatanan kehidupan Suku Kutai, yang cukup signifikan menghapus jejak tradisi yang diwariskan leluhur mereka. Merebak secara luas kecenderungan yang menganggap bahwa kebudayaan Melayu yang masuk bersama Islam lebih “beradab”, sehingga “budaya Dayak” pada Suku Kutai mulai tersisih.
Akibatnya, hari ini banyak orang yang mengidentikan suku Kutai sebagai bagian ras Melayu (muda). Secara teoritis, para peneliti memberikan istilah “suku Dayak berbudaya Melayu” untuk mewakili keunikan suku Kutai tersebut.

Jadi kesimpulannya, Suku Kutai itu berawal dari Suku Dayak yang memisahkan diri dari adat istiadat ataupun budaya yang tidak sejalan dengan keyakinan yang mereka anut. Tak heran jika Suku Kutai asli menyebut Suku Dayak dengan istilah Densanak Tuha yang artinya Saudara Tua karena masih satu leluhur.

Tuh, panjang kan. Setelah membaca ulasan di atas tadi, ternyata kita tahu bahwa belajar sejarah memang memusingkan ya :)

Hehehe ... see u next post.




Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3