Cerita Rakyat Kalimantan Timur (Legenda Ikan Pesut)
Setiap kota, bahkan daerah memiliki cerita rakyat mereka masing-masing. Begitu pula dengan Kalimantan Timur. Ada banyak ceria rakyat yang menarik untuk dituliskan kembali dan dibaca oleh banyak orang agar mereka tahu legenda-legenda apa saja yang pernah terjadi di suatu daerah, terlepas dari itu benar atau tidak. Yang pasti, cerita rakyat wajib dilestarikan agar tidak hilang atau tergerus dengan cerita-cerita modern seperti teenlit, novel metropop, atau bacaan lainnya. Bukan saya mengatakan itu bacaan jelek, itu juga bagus kok ... namun, sebagai warga negara Indonesia tulen kita wajib tahu cerita-cerita rakyat yang ada di negara kita tercinta ini.
Selamat membaca.
Pagi itu, suasana di sebuah dusun—di Rantau Mahakam, Kalimantan Timur tampak berbeda dari biasanya. Begitu ramai—hiruk pikuk dengan orang-orang yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka bertandang untuk menyaksikan pagelaran pesta adat yang menampilkan pertunjukkan ketangkasan dan kesenian. Pagelaran itu selalu diselenggarakan oleh penduduk dusun tersebut setiap tahunnya untuk merayakan keberhasilan panen mereka—karena memang kebanyakan dari penduduk dusun itu bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam buah-buahan dan sayur-sayuran yang selalu tumbuh subur.
Begitu pula dengan salah satu penduduknya, Pak Usat. Sayur-sayuran yang ditanamnya selalu tumbuh subur, buahnya pun selalu manis dan enak. Tentu itu karena bantuan dari keluarga kecilnya yang selalu turun tangan dalam membantu pekerjaannya di kebun, terutama istrinya.
Istri Pak Usat adalah wanita yang sangat baik, ramah, pekerja keras, rajin, dan sayang pada putra putri mereka. Ya, mereka punya sepasang anak putra dan putri yang diberi nama Jalung dan Asung. Keduanya juga merupakan anak yang baik. Mereka selalu akur sebagai saudara, saling tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga keduanya begitu disayangi oleh orangtua mereka.
Pagi itu mereka menikmati suasana pesta adat yang sedang berlangsung. Tawa selalu menghiasi wajah semuanya. Mereka memang keluarga yang rukun dan bahagia, jarang sekali terjadi pertengkaran. Sesekali ada saja masalah kecil yang terjadi, namun selalu bisa diselesaikan dengan damai tanpa harus menjadi besar.
***
Tak disangka, cobaan menimpa keluarga tersebut. Istri Pak Usat tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang membuat sarapan. Asung, putri kecil mereka yang kebetulan sedang membantu ibunya begitu terkejut melihat tubuh ibunya tersungkur di lantai dapur.
“Ibu …!!!” teriaknya panik.
Pak Usat dan Jalung yang sedang berada di luar langsung panik dan berlarian ke arah dapur saat mendengar teriakan Asung. Kepanikan semakin menjadi saat Pak Usat melihat istrinya tak sadarkan diri di lantai dapur.
“Kenapa dengan ibumu, Nak?” tanyanya dengan raut wajah panik.
Dengan tersedu-sedu Asung menjawab, “Asung tidak tahu, Yah. Tiba-tiba ibu langsung terjatuh di lantai begitu saja. Ayah … Asung takut sesuatu terjadi pada ibu,” rengeknya.
Jalung yang lebih tua bisa bersikap lebih tenang dari adiknya. Dia tidak mau menambah kepanikan ayahnya.
“Ayah, kita bawa saja Ibu ke kamar,” sarannya.
“Iya, Nak, tolong kamu bantu Ayah membawa Ibu ke kamar.”
Setelah membaringkan istrinya di kamar, Pak Usat ijin kepada kedua anaknya untuk mencari tabib—memeriksa keadaan istrinya. Tak lama setelah itu dia datang kembali sambil membawa seorang tabib. Tak menunda banyak waktu, tabib itu pun langsung memeriksa keadaan istri Pak Usat.
“Maafkan saya, Pak Usat, tapi saya tidak tahu penyakit apa yang dialami istri Pak Usat. Mungkin sebaiknya Pak Usat mencari tabib yang lebih bagus dari saya,” ucap tabib itu menyerah, karena dia memang tidak tahu penyakit yang diidera istri Pak Usat dan tak mampu menyembuhkannya.
Tak berhenti di situ, Pak Usat pun mulai mencari tabib lain, tapi sayang semuanya mengatakan hal yang sama. Pak Usat mulai bingung, apalagi ketika ia memerhatikan kedua anaknya. Mereka begitu sedih melihat keadaan ibunya, terutama Asung, dia tak berhenti menangis.
Keesokan harinya, Pak Usat mencoba mencari tabib lain di dusun sebelah. Beberapa orang tabib didatangkan langsung olehnya, tapi hasilnya sama saja, nihil. Tetap tak ada yang dapat menyembuhkan penyakit sang istri.
Hari demi hari berlalu dengan keadaan yang terus sama seperti itu. Pak Usat pun sudah mulai putus asa. Sudah banyak tabib yang didatangkannya dari berbagai daerah, tapi tak ada satu pun yang bisa menyembuhkan istrinya. Hingga pada suatu hari akhirnya sang istri tutup usia.
“Ibuuuu, bangun, Bu …!!! Jangan tinggalin kami,” teriak kedua anaknya histeris sambil menangis dengan raut wajah yang sangat sedih karena tak ingin ditinggalkan ibunya.
Pak Usat begitu terpukul dengan kematian istrinya. Ia begitu larut dalam kesedihan. Dia sangat menyayangi istrinya, tentu berat baginya untuk bisa menerima semua itu.
Sepeninggal istrinya, kehidupan Pak Usat dan kedua anaknya berubah. Kehidupan mereka sangat berantakan dan tak terurus lagi. Pak Usat menjadi pemurung dan suka bermalas-malasan, sedangkan kedua anaknya terlihat bingung—tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kebun mereka tak lagi terurus, kering dan tandus. Sayur-mayur dan buah-buahan mati, Jalung dan Asung pun kadang dibiarkan saja kelaparan tanpa diberi makan. Melihat kondisi yang seperti itu, sesepuh-sesepuh dusun pun turun tangan berusaha membujuk Pak Usat agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang teramat dalam. Para sesepuh menasihatinya agar Pak Usat mau berkebun lagi dan mengurusi anak-anaknya.
“Sudahlah, Pak Usat. Tak ada gunanya kau berlarut dalam kesedihan. Hilangkanlah kesedihanmu itu dan kembalilah berkebun seperti biasanya. Lihatlah kedua anakmu itu! Mereka terlihat semakin kurus dan tak terurus,” kata salah satu sesepuh dusun tersebut.
Bukannya mengikuti nasihat para sesepuh, Pak Usat terus saja bertahan dengan kesedihannya. Nasihat itu seolah-olah tak berarti, dan hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
***
Waktu terus berputar, namun itu tak sanggup mengubah ataupun menghilangkan duka dan kesedihan yang selalu menyelimuti Pak Usat. Dan musim panen pun tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para penduduk dusun tersebut kembali melakukan pesta adat yang diisi dengan beranekaragam pertunjukkan ketanggkasan dan kesenian yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Salah satu penduduk mencoba mengajak Pak Usat untuk menghadiri acara tersebut, tapi kelihatannya Pak Usat tidak begitu tertarik. Entah mengapa, semua hal berubah menjadi tak berarti di matanya.
“Pak Usat, datanglah untuk menyaksikan pertunjukkan pesta adat. Di sana ada seorang penari cantik, pandai, dan gemulai. Ia menari untuk mengisi acara,” hasut salah satu penduduk yang lainnya, berharap itu akan menarik minat Pak Usat yang sudah terlampau lama menduda.
“Benarkah?” responnya sungguh tak terduga.
“Iya, benar, Pak. Ayo, kita sama-sama pergi ke acara pesta adat!”
Akhirnya, dengan penuh semangat Pak Usat pun berjalan mendekati tempat pertunjukkan di mana gadis itu akan menari. Dia sengaja berdiri paling depan agar biasa menyaksikan tarian serta wajah gadis itu dengan jelas.
Tak berapa lama kemudian, gadis itu pun tampil. Gerakkan tubuhnya yang lemah lembut dan gemulai benar-benar mengundang kekaguman para penonton. Lain halnya dengan Pak Usat yang hanya sesekali saja tersenyum. Pandangan matanya senantiasa tertuju kepada wajah cantik gadis itu tanpa bergeming sedikitpun.
Sebaliknya, pandangan gadis itu tertuju pada Pak Usat sambil melemparkan senyum manisnya. Saat itu jantung Pak Usat berdegup kencang, rupanya dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, dan begitu pula sebaliknya.
Setelah usai pertunjukkan, Pak Usat menghampiri gadis itu dan mengajaknya berkenalan.
“Apa kabar, Dik? Aku Usat,” katanya dengan malu-malu, bahkan kedua pipinya menyemburatkan rona merah.
“Baik, Bang. Aku Lung,” jawab gadis itu, dengan malu-malu juga.
“Tarian kamu bagus sekali, Dik,” katanya lagi sambil tersenyum penuh arti.
“Terimakasih, Bang,” sahut Lung, masih tersipu malu.
“Sepanjang tadi, Abang menyaksikan tarian Dik, dan Abang sangat kagum sampai-sampai jatuh hati,” akunya secara gamblang.
Merasa cintanya tak sepihak, Lung pun langsung mengomentari, “Sama, Bang. Sebenarnya Lung juga jatuh hati pada Abang saat melihat Abang tadi.”
Pak Usat merasa bahagia. Tidak disangka ternyata perasaannya disambut dengan baik oleh Lung.
“Terimakasih, Dik. Tapi, apa kau tidak takut menyesal telah jatuh hati padaku—seorang duda beranak dua?” tanyanya memastikan.
Tanpa terkejut sedikitpun, Lung menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia sama sekali tidak menyesal.
Hubungan keduanya pun semakin dekat, dan Pak Usat pun memberanikan diri meminta restu kepada sesepuh dusun untuk menikahi Lung.
Pak Usat pun menikah. Setelah menikah, Pak Usat mulai melakukan perubahan pada hidupnya yang dulu kelam. Kini, ia rajin berkebun lagi. Dia juga tidak pernah terlihat murung dan sedih lagi. Anak-anaknya pun kini sudah terurus dengan baik di tangan Lung. Kehidupan keluarga mereka kembali seperti dulu, rukun dan bahagia.
Namun, beberapa bulan berlalu. Lung berubah. Dia yang awalnya begitu baik, perhatian, dan penyayang kini menjadi kasar dan suka memarahi Jalung dan Asung jika keduanya melakukan kesalahan, bahkan kesalahan kecil sekalipun. Tidak hanya itu, keduanya pun diberi makan hanya jika ada makanan sisa.
Pak Usat tahu bagaimana perlakuan istri keduanya itu kepada anak-anaknya, tapi ia diam saja dan tak melakukan apa-apa. Dia terlalu takut istrinya itu akan pergi meninggalkannya, karena dia begitu sangat mencintai Lung.
Keadaan berubah semakin parah. Seluruh kendali dalam rumah tangga sepenuhnya berada di tangan Lung. Ibu tiri itu tak henti-hentinya menyiksan Jalung dan Asung. Dia bahkan tak segan-segan menyuruh kedua anak itu untuk melakukan pekerjaan berat—yang diluar kemampuan mereka.
Pada suatu hari, Sang ibu tiri tersebut menyuruh kedua anak itu mencari kayu bakar di hutan.
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi,” perintahnya. “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya terkumpul banyak. Mengerti?”
“Tapi, Bu …” jawab Jalung, “Untuk apa kayu sebanyak itu? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau hampir habis barulah kami mencarinya lagi.” Jalung mencoba bernegosiasi.
“Apa!? Kalian sudah berani membantah, ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu kalau kamu pemalas,” kata si Ibu tiri dengan marahnya.
Keduanya pun pergi ke hutan mencari kayu bakar. Satu demi satu mereka kumpulkan dahan-dahan pohon yang patah. Akhirnya, ketika senja menjelang dan garis merah menyebar di cakrawala, Jalung dan Asung berhasil mengumpulkan banyak kayu bakar, tapi tetap tidak lebih banyak dari yang kemarin.
“Bagaimana ini, Kak? Kayu yang kita kumpulkan belum sebanyak kemarin,” keluh Asung. “Ibu pasti akan marah sama kita, dan dia tidak akan memperbolehkan kita pulang.”
“Tenang saja, Asung. Sebentar lagi malam, memang sepertinya kita tidak akan bisa pulang, jadi malam ini kita tidur di hutan ini saja,” komentar Jalung menenangkan adiknya.
Karena takut pulang dan dimarahi, maka terpaksa kedua kakak beradik itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Mereka menyusuri hutan hingga menemukan sebuah pondok dan memutuskan untuk bermalam di sana.
Pagi menjelang, Jalung dan Asung terbangun dengan kondisi kelaparan. Sejak kemarin kedua kakak beradik itu belum makan, dan tidak ada apapun yang bisa mereka makan saat ini.
“Kak Jalung, Asung lapar,” ujar Asung mengeluh seraya memegangi perutnya yang keroncongan.
Jalung hanya terdiam dan berpikir sebentar.
“Tenanglah, Asung. Bagaimana kalau kita melanjutkan mencari kayu bakar sampai banyak agar kita bisa pulang dan ibu akan memberi kita makan,” sarannya.
Asung mengangguk setuju, dan mereka pun kembali mengumpulkan kayu bakar lagi. Matahari bersinar semakin terik, sinarnya menyengat siap saja yang ada di bawahnya. Jalung sudah mulai kelelahan, tidak hanya lapar tapi dia juga kehausan, demikian pula dengan Asung. Karena lelah dan tak kuat lagi, akhirnya kedua kakak beradik itu pingsan.
***
Jalung bermimpi buruk. Dia bermimpi ibunya tak mengijinkan dia dan Asung untuk kembali ke rumah mereka, pun dengan sang ayah. Dalam mimpinya, Jalung melihat kedua orangtuanya itu meninggalkan dia dan adiknya, karena ketakutan dia terbangun sambil berteriak histeris.
“Ayah … Ibu … jangan tinggalkan Jalung!!!”
Begitu sadar bahwa ternyata itu hanya mimpi, Jalung langsung bernapas lega. Ia mengusap-usap dadanya, namun sejurus kemudian ia terlihat kebingungan.
Jalung tidak tahu apa yang terjadi padanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ketika dia dan Asung pingsan. Namun, sekarang dia berada di sebuah gubuk, juga dengan adiknya, Asung yang masih terlelap.
Seorang nenek tua muncul dari balik pintu rumah tersebut. Wajahnya penuh dengan kerutan, dan ia tersenyum ke arah Jalung. Bersamaan pada saat itu, Asung pun terbangun. Sama seperti Jalung, dia juga kebingungan. Asung sedikit terkejut ketika dilihatnya ada seorangg nenek tua bersama mereka.
“Ka- kami di mana?” tanya Asung terbata-bata.
“Tenang saja, Cu. Kalian ada di gubukku. Tadi siang aku menemukan kalian pingsan di dalam hutan. Sebenarnya kalian ini siapa? Apa yang kalian lakukan di hutan ini berdua saja? Dan, dari mana kalian berasal?” tanya Sang Nenek menginterogasi.
“Nama satya Asung, dan ini kakak saya Jalung. Kami sedang mencari kayu bakar. Dari kemarin kami telah berada di hutan ini, dan kami juga belum makan dan minum sedikitpun, Nek. Kami disuruh ibu tiri kami untuk mencari kayu bakar tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya, jika semuanya belum terkumpul maka kami tidak boleh pulang ke rumah. Namun, sampai sekarang kami belum mendapatkan kayu bakar yang banyak.” Asung menceritakannya dengan sedih.
Sang Nenek merasa iba setelah mendengar cerita Asung, hatinya tergerak untuk menolong kedua bocah itu.
“Kasihan sekali kalian cucuku. Kalau begitu sebaiknya kalian pergi ke arah rerimbunan pohon itu, karena di sana ada banyak buah-buahan. Makanlah buah itu sepuas-puasnya hingga kalian kenyang dan kembali segar. Tapi ingat, janganlah dicari lagi keesokkan harinya karena akan sia-sia saja,” ujar Nenek.
Alung dan Asung berterimakasih atas kebaikan sang Nenek. Mereka pun berpamitan dan pergi menuju rerimbunan pohon itu berada. Sesampainya di sana, ternyata memang ada banyak sekali buah-buahan yang segar dan enak. Ada buah durian, nangka, cempedak, mangga, dan papaya yang berserakkan di tanah. Jalung dan Asung memakan banyak sekali buah-buahan itu hingga kenyang.
Setelah merasa kenyang dan segar kembali, mereka pun kembali mencari kayu bakar. Akhirnya, sebelum senja tiba, kayu bakar yang berjumlah banyak itu berhasil mereka kumpulkan. Mereka bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menyusun kayu bakar yang mereka dapatkan di kolong rumah, mereka segera naik ke rumah dan ingin melapor kepada Ibu tiri. Namun, betapa terkejutnya mereka mendapati seluruh rumah itu kosong.
“Asung, adikku. Ayah dan Ibu telah meninggalkan kita. Lihatlah, mereka membawa semua harta benda yang ada di rumah,” ujar Jalung dengan perasaan terkejut dan bingung.
“Kenapa mereka bisa setega itu dengan kita, Kak? Kenapa ayah tak sedikitpun merasa kasihan dengan kita?” isak Asung.
Tak berapa lama kemudian para tetangga pun berdatangan untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.
“Kenapa kalian berdua menangis, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya salah satu tetangga.
“Ayah dan Ibu tiri kami telah pergi meninggalkan kami, mereka membawa semua harta benda. Sekarang, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan,” jawab Jalung sambil menangis.
“Sudahlah, kalian berdua tinggal lah dulu di rumahku untuk sementara waktu,” bujuk tetangganya.
“Tidak, Bu, terimakasih. Kami takut nantinya hanya akan merepotkan Ibu,” tolak Jalung secara halus.
“Lalu, apa yang akan kalian lakukan setelah ini, Nak?” tanya tetangganya yang lain.
Jalung berpikir sebentar, lalu menjawab, “Kami akan berusaha mencari kedua orangtua kami.”
***
Keesokan harinya Jalung dan Asung berpamitan dengan para tetangga untuk memulai perjalanan mereka mencari orangtua mereka. Para tetangga yang merasa kasihan memberikan mereka bekal berupa makanan. Setelah berterimakasih, Jalung dan Asung pun pergi.
Sudah dua hari keduanya berjalan menyusuri hutan dan menyeberangi sungai. Namun, belum juga menemukan orangtua mereka. Pada hari ketiga, tibalah mereka di tebi Sungai Mahakam. Mereka melihat asap api mengepul di sebuah pondok yang terletak di tepi sungai. Setibanya di sana, mereka mendapati seorang nenek duduk di depan pondok.
“Maaf, Nek, boleh kami bertanya?” sapa Jalung sambil memberi hormat.
Nenek itu memerhatikan mereka.
“Apa yang bisa kubantu, Cu?” tanyanya dengan suara yang pelan.
“Maaf, Nek! Kami sedang mencari kedua orangtua kami. Apakah nenek pernah melihat seorang lelaki setengah baya dan seorang perempuan yang masih muda lewat sini?” tanya Asung
Sang nenek terdiam sesaat, pandangannya menerawang ke udara—mencoba mengingat-ingat.
“Hmmm … beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami istri yang lewat di tempat ini dan membawa banyak barang. Bahkan, mereka sempat mampir ke gubuk nenek untuk meminta air minum karena kehausan. Apakah mereka itu yang kalian cari?” jawab Nenek itu diakhiri dengan pertanyaan.
Jalung dan Asung menganggukkan kepalanya—membenarkan ucapan si nenek.
“Apakah Nenek tahu ke mana mereka pergi?” tanya Jalung kali ini.
“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang ingin menetap di seberang sana dan hendak membuat pondok serta perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana!” jelas Nenek itu.
“Terimakasih atas bantuannya, Nek. Tapi, bisakah nenek mengantarkan kami menyeberangi sungai?” pinta Asung.
Sang Nenek menolak. “Nenek ini sudah tua, mana kuat lagi mendayung perahu. Kalau kalian mau menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada di tepi sungai itu,” ujar si Nenek sambil menunjuk sebuah perahu yang terikat di tepi sungai.
“Terimakasih, Nek, karena telah begitu baik hati mau menolong kami.”
“Ya, sama-sama.”
Setelah itu, Jalung dan Asung menaiki perahu tersebut dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena begitu senang akan segera bertemu dengan orangtua mereka lagi. Akhirnya, setibanya mereka di seberang, mereka langsung menambatkan perahu di tepi sungai.
Setelah melewati dua hari perjalanan lagi, barulah mereka tiba di ujung sebuah dusun yang jarang penduduknya. Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang terlhat baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu dan memerhatikan keadaan sekitarnya.
“Aku yakin, ini pasti rumah Ayah dan Ibu,” ucap Jalung.
“Kakak benar, lihat saja baju yang dijemur di samping pondok itu! itu baju Ayah yang dulu pernah aku jahit.
Tanpa ragu lagi, keduanya langsung menaiki beranda pondok itu.
“Ayah … Ibu … kami datang!”
Berkali-kali mereka memanggil, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya mereka memberanikan diri memasuki pondok itu dan alangkah senangnya hati mereka karena ternyata barang-barang yang terdapat di dalam pondok itu adalah milik ayah mereka.
Melihat asap yang masih mengepul di dapur, Jalung segera memeriksanya karena mengira kedua orangtua mereka sedang memasak di dapur. Namun, ketika masuk ke dapur, dia hanya mendapati sebuah periuk berisi nasi yang sudah menjadi bubur di atas tungku api. Sepertinya orangtua mereka terburu-buru saat meninggalkan pondok hingga lupa mengangkat periuknya.
Karena kelaparan, Jalung langsung melahap nasi bubur yang masih panas tersebut. Tak lama kemudian, Asung menyusul dan ikut melahap nasi bubur tersebut hingga tandas.
Tak lama setelah itu, Jalung dan Asung langsung merasakan sesuatu yang aneh. Suhu badan mereka tiba-tiba meningkat dan rasanya panas sekali bagaikan terbakar api. Dengan panik mereka berlari mencari air. Semua air di tempayan habis mereka gunakan, tapi suhu badan mereka justru semakin tinggi.
“Panas … panas …” erang Jalung kepanasan.
Mereka pun berlarian keluar. Setiap pohon pisang yang mereka jumpai mereka peluk untuk mendinginkan badan, tetapi malah pohon pisang itu yang menjadi layu, kering.
“Kakak, apa yang terjadi pada kita? Panas … tolong …!!!” tanya Asung diiringi dengan teriakan minta tolongnya.
“Tolong …!!!” teriak Jalung juga.
Mereka pun kembali berlarian hingga tiba di pinggiran sungai, dan mereka langsung terjun ke dalam air. Tak berapa lama kemudian, kedua anak itu menjelma menjadi dua ekor ikan yang kepalanya menyerupai kepala manusia.
Sementara itu, orangtua kedua anak itu baru saja pulang ke pondoknya sehabis dari kebun. Betapa terkjeutnya sang Ayah ketika masuk dan melihat keadaan di dalam pondoknya. Dia menemukan sebuah bungkusan dan dua buah Mandau milik anaknya. Sementara sang Ibu tiri terkejut mendapati periuknya yang telah kosong.
“Bukankah ini Mandau milik Jalung dan Asung?”
Tanpa berpikir panjang, ia bergegas turun dari pondok untuk mencari kedua anaknya.
Sang Ayah terheran-heran melihat beberapa pohon pisang yang tampak kering dan layu, karena penasaran, ia pun mengikuti jejak pohon pisang tersebut yang pada akhirnya membawanya ke pinggiran sungai.
Dari pinggiran sungai, ia melihat dua ekor ikan yang bergerak kesana-kemari di tengah sungai sambil sesekali muncul ke permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya.
“Makhluk apa itu? Aku baru pertama kali ini melihatnya,” ucap Pak Usat kebingungan.
Dia pun kembali pulang untuk memberitahukan hal itu kepada istrinya, tapi ternyata istrinya malah menghilang secara gaib. Akibatnya, lelaki setengah baya itu pun sadar bahwa istri barunya itu bukanlah manusia biasa. Sang istri memang tidak pernah menceritakan asal usulnya. Pak Usat pun menyesal karena telah menelantarkan kedua anaknya sehingga berubah menjadi ikan.
“Aku menyesal … aku menyesal. Maafkan Ayah wahai anak-anakku,” tangisnya sambil memandangi kedua ekor ikan tersebut.
Beberapa penduduk yang mendengar tangisannya pun berbondong-bondong ke tepi Sungai Mahakam untuk menyaksikan apa yang terjadi. Para penduduk melihat ada dua ekor ikan dengan bentuk kepalanya yang menyerupai kepala ikan. Dari lubang di atas kepalanya, kedua ikan yang merupakan perwujudan dari Jalung dan Asung itu pun menyemburkan air, dan air yang disemburkannya sangat panas sehingga membuat ikan-ikan kecil yang ada di sekitarnya jadi mati.
The End
Selamat membaca.
Legenda Ikan Pesut
Pagi itu, suasana di sebuah dusun—di Rantau Mahakam, Kalimantan Timur tampak berbeda dari biasanya. Begitu ramai—hiruk pikuk dengan orang-orang yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka bertandang untuk menyaksikan pagelaran pesta adat yang menampilkan pertunjukkan ketangkasan dan kesenian. Pagelaran itu selalu diselenggarakan oleh penduduk dusun tersebut setiap tahunnya untuk merayakan keberhasilan panen mereka—karena memang kebanyakan dari penduduk dusun itu bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam buah-buahan dan sayur-sayuran yang selalu tumbuh subur.
Begitu pula dengan salah satu penduduknya, Pak Usat. Sayur-sayuran yang ditanamnya selalu tumbuh subur, buahnya pun selalu manis dan enak. Tentu itu karena bantuan dari keluarga kecilnya yang selalu turun tangan dalam membantu pekerjaannya di kebun, terutama istrinya.
Istri Pak Usat adalah wanita yang sangat baik, ramah, pekerja keras, rajin, dan sayang pada putra putri mereka. Ya, mereka punya sepasang anak putra dan putri yang diberi nama Jalung dan Asung. Keduanya juga merupakan anak yang baik. Mereka selalu akur sebagai saudara, saling tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga keduanya begitu disayangi oleh orangtua mereka.
Pagi itu mereka menikmati suasana pesta adat yang sedang berlangsung. Tawa selalu menghiasi wajah semuanya. Mereka memang keluarga yang rukun dan bahagia, jarang sekali terjadi pertengkaran. Sesekali ada saja masalah kecil yang terjadi, namun selalu bisa diselesaikan dengan damai tanpa harus menjadi besar.
***
Tak disangka, cobaan menimpa keluarga tersebut. Istri Pak Usat tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang membuat sarapan. Asung, putri kecil mereka yang kebetulan sedang membantu ibunya begitu terkejut melihat tubuh ibunya tersungkur di lantai dapur.
“Ibu …!!!” teriaknya panik.
Pak Usat dan Jalung yang sedang berada di luar langsung panik dan berlarian ke arah dapur saat mendengar teriakan Asung. Kepanikan semakin menjadi saat Pak Usat melihat istrinya tak sadarkan diri di lantai dapur.
“Kenapa dengan ibumu, Nak?” tanyanya dengan raut wajah panik.
Dengan tersedu-sedu Asung menjawab, “Asung tidak tahu, Yah. Tiba-tiba ibu langsung terjatuh di lantai begitu saja. Ayah … Asung takut sesuatu terjadi pada ibu,” rengeknya.
Jalung yang lebih tua bisa bersikap lebih tenang dari adiknya. Dia tidak mau menambah kepanikan ayahnya.
“Ayah, kita bawa saja Ibu ke kamar,” sarannya.
“Iya, Nak, tolong kamu bantu Ayah membawa Ibu ke kamar.”
Setelah membaringkan istrinya di kamar, Pak Usat ijin kepada kedua anaknya untuk mencari tabib—memeriksa keadaan istrinya. Tak lama setelah itu dia datang kembali sambil membawa seorang tabib. Tak menunda banyak waktu, tabib itu pun langsung memeriksa keadaan istri Pak Usat.
“Maafkan saya, Pak Usat, tapi saya tidak tahu penyakit apa yang dialami istri Pak Usat. Mungkin sebaiknya Pak Usat mencari tabib yang lebih bagus dari saya,” ucap tabib itu menyerah, karena dia memang tidak tahu penyakit yang diidera istri Pak Usat dan tak mampu menyembuhkannya.
Tak berhenti di situ, Pak Usat pun mulai mencari tabib lain, tapi sayang semuanya mengatakan hal yang sama. Pak Usat mulai bingung, apalagi ketika ia memerhatikan kedua anaknya. Mereka begitu sedih melihat keadaan ibunya, terutama Asung, dia tak berhenti menangis.
Keesokan harinya, Pak Usat mencoba mencari tabib lain di dusun sebelah. Beberapa orang tabib didatangkan langsung olehnya, tapi hasilnya sama saja, nihil. Tetap tak ada yang dapat menyembuhkan penyakit sang istri.
Hari demi hari berlalu dengan keadaan yang terus sama seperti itu. Pak Usat pun sudah mulai putus asa. Sudah banyak tabib yang didatangkannya dari berbagai daerah, tapi tak ada satu pun yang bisa menyembuhkan istrinya. Hingga pada suatu hari akhirnya sang istri tutup usia.
“Ibuuuu, bangun, Bu …!!! Jangan tinggalin kami,” teriak kedua anaknya histeris sambil menangis dengan raut wajah yang sangat sedih karena tak ingin ditinggalkan ibunya.
Pak Usat begitu terpukul dengan kematian istrinya. Ia begitu larut dalam kesedihan. Dia sangat menyayangi istrinya, tentu berat baginya untuk bisa menerima semua itu.
Sepeninggal istrinya, kehidupan Pak Usat dan kedua anaknya berubah. Kehidupan mereka sangat berantakan dan tak terurus lagi. Pak Usat menjadi pemurung dan suka bermalas-malasan, sedangkan kedua anaknya terlihat bingung—tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Kebun mereka tak lagi terurus, kering dan tandus. Sayur-mayur dan buah-buahan mati, Jalung dan Asung pun kadang dibiarkan saja kelaparan tanpa diberi makan. Melihat kondisi yang seperti itu, sesepuh-sesepuh dusun pun turun tangan berusaha membujuk Pak Usat agar tidak terlalu larut dalam kesedihan yang teramat dalam. Para sesepuh menasihatinya agar Pak Usat mau berkebun lagi dan mengurusi anak-anaknya.
“Sudahlah, Pak Usat. Tak ada gunanya kau berlarut dalam kesedihan. Hilangkanlah kesedihanmu itu dan kembalilah berkebun seperti biasanya. Lihatlah kedua anakmu itu! Mereka terlihat semakin kurus dan tak terurus,” kata salah satu sesepuh dusun tersebut.
Bukannya mengikuti nasihat para sesepuh, Pak Usat terus saja bertahan dengan kesedihannya. Nasihat itu seolah-olah tak berarti, dan hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
***
Waktu terus berputar, namun itu tak sanggup mengubah ataupun menghilangkan duka dan kesedihan yang selalu menyelimuti Pak Usat. Dan musim panen pun tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para penduduk dusun tersebut kembali melakukan pesta adat yang diisi dengan beranekaragam pertunjukkan ketanggkasan dan kesenian yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.
Salah satu penduduk mencoba mengajak Pak Usat untuk menghadiri acara tersebut, tapi kelihatannya Pak Usat tidak begitu tertarik. Entah mengapa, semua hal berubah menjadi tak berarti di matanya.
“Pak Usat, datanglah untuk menyaksikan pertunjukkan pesta adat. Di sana ada seorang penari cantik, pandai, dan gemulai. Ia menari untuk mengisi acara,” hasut salah satu penduduk yang lainnya, berharap itu akan menarik minat Pak Usat yang sudah terlampau lama menduda.
“Benarkah?” responnya sungguh tak terduga.
“Iya, benar, Pak. Ayo, kita sama-sama pergi ke acara pesta adat!”
Akhirnya, dengan penuh semangat Pak Usat pun berjalan mendekati tempat pertunjukkan di mana gadis itu akan menari. Dia sengaja berdiri paling depan agar biasa menyaksikan tarian serta wajah gadis itu dengan jelas.
Tak berapa lama kemudian, gadis itu pun tampil. Gerakkan tubuhnya yang lemah lembut dan gemulai benar-benar mengundang kekaguman para penonton. Lain halnya dengan Pak Usat yang hanya sesekali saja tersenyum. Pandangan matanya senantiasa tertuju kepada wajah cantik gadis itu tanpa bergeming sedikitpun.
Sebaliknya, pandangan gadis itu tertuju pada Pak Usat sambil melemparkan senyum manisnya. Saat itu jantung Pak Usat berdegup kencang, rupanya dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama, dan begitu pula sebaliknya.
Setelah usai pertunjukkan, Pak Usat menghampiri gadis itu dan mengajaknya berkenalan.
“Apa kabar, Dik? Aku Usat,” katanya dengan malu-malu, bahkan kedua pipinya menyemburatkan rona merah.
“Baik, Bang. Aku Lung,” jawab gadis itu, dengan malu-malu juga.
“Tarian kamu bagus sekali, Dik,” katanya lagi sambil tersenyum penuh arti.
“Terimakasih, Bang,” sahut Lung, masih tersipu malu.
“Sepanjang tadi, Abang menyaksikan tarian Dik, dan Abang sangat kagum sampai-sampai jatuh hati,” akunya secara gamblang.
Merasa cintanya tak sepihak, Lung pun langsung mengomentari, “Sama, Bang. Sebenarnya Lung juga jatuh hati pada Abang saat melihat Abang tadi.”
Pak Usat merasa bahagia. Tidak disangka ternyata perasaannya disambut dengan baik oleh Lung.
“Terimakasih, Dik. Tapi, apa kau tidak takut menyesal telah jatuh hati padaku—seorang duda beranak dua?” tanyanya memastikan.
Tanpa terkejut sedikitpun, Lung menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia sama sekali tidak menyesal.
Hubungan keduanya pun semakin dekat, dan Pak Usat pun memberanikan diri meminta restu kepada sesepuh dusun untuk menikahi Lung.
Pak Usat pun menikah. Setelah menikah, Pak Usat mulai melakukan perubahan pada hidupnya yang dulu kelam. Kini, ia rajin berkebun lagi. Dia juga tidak pernah terlihat murung dan sedih lagi. Anak-anaknya pun kini sudah terurus dengan baik di tangan Lung. Kehidupan keluarga mereka kembali seperti dulu, rukun dan bahagia.
Namun, beberapa bulan berlalu. Lung berubah. Dia yang awalnya begitu baik, perhatian, dan penyayang kini menjadi kasar dan suka memarahi Jalung dan Asung jika keduanya melakukan kesalahan, bahkan kesalahan kecil sekalipun. Tidak hanya itu, keduanya pun diberi makan hanya jika ada makanan sisa.
Pak Usat tahu bagaimana perlakuan istri keduanya itu kepada anak-anaknya, tapi ia diam saja dan tak melakukan apa-apa. Dia terlalu takut istrinya itu akan pergi meninggalkannya, karena dia begitu sangat mencintai Lung.
Keadaan berubah semakin parah. Seluruh kendali dalam rumah tangga sepenuhnya berada di tangan Lung. Ibu tiri itu tak henti-hentinya menyiksan Jalung dan Asung. Dia bahkan tak segan-segan menyuruh kedua anak itu untuk melakukan pekerjaan berat—yang diluar kemampuan mereka.
Pada suatu hari, Sang ibu tiri tersebut menyuruh kedua anak itu mencari kayu bakar di hutan.
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi,” perintahnya. “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya terkumpul banyak. Mengerti?”
“Tapi, Bu …” jawab Jalung, “Untuk apa kayu sebanyak itu? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau hampir habis barulah kami mencarinya lagi.” Jalung mencoba bernegosiasi.
“Apa!? Kalian sudah berani membantah, ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu kalau kamu pemalas,” kata si Ibu tiri dengan marahnya.
Keduanya pun pergi ke hutan mencari kayu bakar. Satu demi satu mereka kumpulkan dahan-dahan pohon yang patah. Akhirnya, ketika senja menjelang dan garis merah menyebar di cakrawala, Jalung dan Asung berhasil mengumpulkan banyak kayu bakar, tapi tetap tidak lebih banyak dari yang kemarin.
“Bagaimana ini, Kak? Kayu yang kita kumpulkan belum sebanyak kemarin,” keluh Asung. “Ibu pasti akan marah sama kita, dan dia tidak akan memperbolehkan kita pulang.”
“Tenang saja, Asung. Sebentar lagi malam, memang sepertinya kita tidak akan bisa pulang, jadi malam ini kita tidur di hutan ini saja,” komentar Jalung menenangkan adiknya.
Karena takut pulang dan dimarahi, maka terpaksa kedua kakak beradik itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Mereka menyusuri hutan hingga menemukan sebuah pondok dan memutuskan untuk bermalam di sana.
Pagi menjelang, Jalung dan Asung terbangun dengan kondisi kelaparan. Sejak kemarin kedua kakak beradik itu belum makan, dan tidak ada apapun yang bisa mereka makan saat ini.
“Kak Jalung, Asung lapar,” ujar Asung mengeluh seraya memegangi perutnya yang keroncongan.
Jalung hanya terdiam dan berpikir sebentar.
“Tenanglah, Asung. Bagaimana kalau kita melanjutkan mencari kayu bakar sampai banyak agar kita bisa pulang dan ibu akan memberi kita makan,” sarannya.
Asung mengangguk setuju, dan mereka pun kembali mengumpulkan kayu bakar lagi. Matahari bersinar semakin terik, sinarnya menyengat siap saja yang ada di bawahnya. Jalung sudah mulai kelelahan, tidak hanya lapar tapi dia juga kehausan, demikian pula dengan Asung. Karena lelah dan tak kuat lagi, akhirnya kedua kakak beradik itu pingsan.
***
Jalung bermimpi buruk. Dia bermimpi ibunya tak mengijinkan dia dan Asung untuk kembali ke rumah mereka, pun dengan sang ayah. Dalam mimpinya, Jalung melihat kedua orangtuanya itu meninggalkan dia dan adiknya, karena ketakutan dia terbangun sambil berteriak histeris.
“Ayah … Ibu … jangan tinggalkan Jalung!!!”
Begitu sadar bahwa ternyata itu hanya mimpi, Jalung langsung bernapas lega. Ia mengusap-usap dadanya, namun sejurus kemudian ia terlihat kebingungan.
Jalung tidak tahu apa yang terjadi padanya. Hal terakhir yang ia ingat adalah ketika dia dan Asung pingsan. Namun, sekarang dia berada di sebuah gubuk, juga dengan adiknya, Asung yang masih terlelap.
Seorang nenek tua muncul dari balik pintu rumah tersebut. Wajahnya penuh dengan kerutan, dan ia tersenyum ke arah Jalung. Bersamaan pada saat itu, Asung pun terbangun. Sama seperti Jalung, dia juga kebingungan. Asung sedikit terkejut ketika dilihatnya ada seorangg nenek tua bersama mereka.
“Ka- kami di mana?” tanya Asung terbata-bata.
“Tenang saja, Cu. Kalian ada di gubukku. Tadi siang aku menemukan kalian pingsan di dalam hutan. Sebenarnya kalian ini siapa? Apa yang kalian lakukan di hutan ini berdua saja? Dan, dari mana kalian berasal?” tanya Sang Nenek menginterogasi.
“Nama satya Asung, dan ini kakak saya Jalung. Kami sedang mencari kayu bakar. Dari kemarin kami telah berada di hutan ini, dan kami juga belum makan dan minum sedikitpun, Nek. Kami disuruh ibu tiri kami untuk mencari kayu bakar tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya, jika semuanya belum terkumpul maka kami tidak boleh pulang ke rumah. Namun, sampai sekarang kami belum mendapatkan kayu bakar yang banyak.” Asung menceritakannya dengan sedih.
Sang Nenek merasa iba setelah mendengar cerita Asung, hatinya tergerak untuk menolong kedua bocah itu.
“Kasihan sekali kalian cucuku. Kalau begitu sebaiknya kalian pergi ke arah rerimbunan pohon itu, karena di sana ada banyak buah-buahan. Makanlah buah itu sepuas-puasnya hingga kalian kenyang dan kembali segar. Tapi ingat, janganlah dicari lagi keesokkan harinya karena akan sia-sia saja,” ujar Nenek.
Alung dan Asung berterimakasih atas kebaikan sang Nenek. Mereka pun berpamitan dan pergi menuju rerimbunan pohon itu berada. Sesampainya di sana, ternyata memang ada banyak sekali buah-buahan yang segar dan enak. Ada buah durian, nangka, cempedak, mangga, dan papaya yang berserakkan di tanah. Jalung dan Asung memakan banyak sekali buah-buahan itu hingga kenyang.
Setelah merasa kenyang dan segar kembali, mereka pun kembali mencari kayu bakar. Akhirnya, sebelum senja tiba, kayu bakar yang berjumlah banyak itu berhasil mereka kumpulkan. Mereka bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, mereka langsung menyusun kayu bakar yang mereka dapatkan di kolong rumah, mereka segera naik ke rumah dan ingin melapor kepada Ibu tiri. Namun, betapa terkejutnya mereka mendapati seluruh rumah itu kosong.
“Asung, adikku. Ayah dan Ibu telah meninggalkan kita. Lihatlah, mereka membawa semua harta benda yang ada di rumah,” ujar Jalung dengan perasaan terkejut dan bingung.
“Kenapa mereka bisa setega itu dengan kita, Kak? Kenapa ayah tak sedikitpun merasa kasihan dengan kita?” isak Asung.
Tak berapa lama kemudian para tetangga pun berdatangan untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.
“Kenapa kalian berdua menangis, Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya salah satu tetangga.
“Ayah dan Ibu tiri kami telah pergi meninggalkan kami, mereka membawa semua harta benda. Sekarang, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan,” jawab Jalung sambil menangis.
“Sudahlah, kalian berdua tinggal lah dulu di rumahku untuk sementara waktu,” bujuk tetangganya.
“Tidak, Bu, terimakasih. Kami takut nantinya hanya akan merepotkan Ibu,” tolak Jalung secara halus.
“Lalu, apa yang akan kalian lakukan setelah ini, Nak?” tanya tetangganya yang lain.
Jalung berpikir sebentar, lalu menjawab, “Kami akan berusaha mencari kedua orangtua kami.”
***
Keesokan harinya Jalung dan Asung berpamitan dengan para tetangga untuk memulai perjalanan mereka mencari orangtua mereka. Para tetangga yang merasa kasihan memberikan mereka bekal berupa makanan. Setelah berterimakasih, Jalung dan Asung pun pergi.
Sudah dua hari keduanya berjalan menyusuri hutan dan menyeberangi sungai. Namun, belum juga menemukan orangtua mereka. Pada hari ketiga, tibalah mereka di tebi Sungai Mahakam. Mereka melihat asap api mengepul di sebuah pondok yang terletak di tepi sungai. Setibanya di sana, mereka mendapati seorang nenek duduk di depan pondok.
“Maaf, Nek, boleh kami bertanya?” sapa Jalung sambil memberi hormat.
Nenek itu memerhatikan mereka.
“Apa yang bisa kubantu, Cu?” tanyanya dengan suara yang pelan.
“Maaf, Nek! Kami sedang mencari kedua orangtua kami. Apakah nenek pernah melihat seorang lelaki setengah baya dan seorang perempuan yang masih muda lewat sini?” tanya Asung
Sang nenek terdiam sesaat, pandangannya menerawang ke udara—mencoba mengingat-ingat.
“Hmmm … beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami istri yang lewat di tempat ini dan membawa banyak barang. Bahkan, mereka sempat mampir ke gubuk nenek untuk meminta air minum karena kehausan. Apakah mereka itu yang kalian cari?” jawab Nenek itu diakhiri dengan pertanyaan.
Jalung dan Asung menganggukkan kepalanya—membenarkan ucapan si nenek.
“Apakah Nenek tahu ke mana mereka pergi?” tanya Jalung kali ini.
“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang ingin menetap di seberang sana dan hendak membuat pondok serta perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana!” jelas Nenek itu.
“Terimakasih atas bantuannya, Nek. Tapi, bisakah nenek mengantarkan kami menyeberangi sungai?” pinta Asung.
Sang Nenek menolak. “Nenek ini sudah tua, mana kuat lagi mendayung perahu. Kalau kalian mau menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada di tepi sungai itu,” ujar si Nenek sambil menunjuk sebuah perahu yang terikat di tepi sungai.
“Terimakasih, Nek, karena telah begitu baik hati mau menolong kami.”
“Ya, sama-sama.”
Setelah itu, Jalung dan Asung menaiki perahu tersebut dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena begitu senang akan segera bertemu dengan orangtua mereka lagi. Akhirnya, setibanya mereka di seberang, mereka langsung menambatkan perahu di tepi sungai.
Setelah melewati dua hari perjalanan lagi, barulah mereka tiba di ujung sebuah dusun yang jarang penduduknya. Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang terlhat baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu dan memerhatikan keadaan sekitarnya.
“Aku yakin, ini pasti rumah Ayah dan Ibu,” ucap Jalung.
“Kakak benar, lihat saja baju yang dijemur di samping pondok itu! itu baju Ayah yang dulu pernah aku jahit.
Tanpa ragu lagi, keduanya langsung menaiki beranda pondok itu.
“Ayah … Ibu … kami datang!”
Berkali-kali mereka memanggil, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya mereka memberanikan diri memasuki pondok itu dan alangkah senangnya hati mereka karena ternyata barang-barang yang terdapat di dalam pondok itu adalah milik ayah mereka.
Melihat asap yang masih mengepul di dapur, Jalung segera memeriksanya karena mengira kedua orangtua mereka sedang memasak di dapur. Namun, ketika masuk ke dapur, dia hanya mendapati sebuah periuk berisi nasi yang sudah menjadi bubur di atas tungku api. Sepertinya orangtua mereka terburu-buru saat meninggalkan pondok hingga lupa mengangkat periuknya.
Karena kelaparan, Jalung langsung melahap nasi bubur yang masih panas tersebut. Tak lama kemudian, Asung menyusul dan ikut melahap nasi bubur tersebut hingga tandas.
Tak lama setelah itu, Jalung dan Asung langsung merasakan sesuatu yang aneh. Suhu badan mereka tiba-tiba meningkat dan rasanya panas sekali bagaikan terbakar api. Dengan panik mereka berlari mencari air. Semua air di tempayan habis mereka gunakan, tapi suhu badan mereka justru semakin tinggi.
“Panas … panas …” erang Jalung kepanasan.
Mereka pun berlarian keluar. Setiap pohon pisang yang mereka jumpai mereka peluk untuk mendinginkan badan, tetapi malah pohon pisang itu yang menjadi layu, kering.
“Kakak, apa yang terjadi pada kita? Panas … tolong …!!!” tanya Asung diiringi dengan teriakan minta tolongnya.
“Tolong …!!!” teriak Jalung juga.
Mereka pun kembali berlarian hingga tiba di pinggiran sungai, dan mereka langsung terjun ke dalam air. Tak berapa lama kemudian, kedua anak itu menjelma menjadi dua ekor ikan yang kepalanya menyerupai kepala manusia.
Sementara itu, orangtua kedua anak itu baru saja pulang ke pondoknya sehabis dari kebun. Betapa terkjeutnya sang Ayah ketika masuk dan melihat keadaan di dalam pondoknya. Dia menemukan sebuah bungkusan dan dua buah Mandau milik anaknya. Sementara sang Ibu tiri terkejut mendapati periuknya yang telah kosong.
“Bukankah ini Mandau milik Jalung dan Asung?”
Tanpa berpikir panjang, ia bergegas turun dari pondok untuk mencari kedua anaknya.
Sang Ayah terheran-heran melihat beberapa pohon pisang yang tampak kering dan layu, karena penasaran, ia pun mengikuti jejak pohon pisang tersebut yang pada akhirnya membawanya ke pinggiran sungai.
Dari pinggiran sungai, ia melihat dua ekor ikan yang bergerak kesana-kemari di tengah sungai sambil sesekali muncul ke permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya.
“Makhluk apa itu? Aku baru pertama kali ini melihatnya,” ucap Pak Usat kebingungan.
Dia pun kembali pulang untuk memberitahukan hal itu kepada istrinya, tapi ternyata istrinya malah menghilang secara gaib. Akibatnya, lelaki setengah baya itu pun sadar bahwa istri barunya itu bukanlah manusia biasa. Sang istri memang tidak pernah menceritakan asal usulnya. Pak Usat pun menyesal karena telah menelantarkan kedua anaknya sehingga berubah menjadi ikan.
“Aku menyesal … aku menyesal. Maafkan Ayah wahai anak-anakku,” tangisnya sambil memandangi kedua ekor ikan tersebut.
Beberapa penduduk yang mendengar tangisannya pun berbondong-bondong ke tepi Sungai Mahakam untuk menyaksikan apa yang terjadi. Para penduduk melihat ada dua ekor ikan dengan bentuk kepalanya yang menyerupai kepala ikan. Dari lubang di atas kepalanya, kedua ikan yang merupakan perwujudan dari Jalung dan Asung itu pun menyemburkan air, dan air yang disemburkannya sangat panas sehingga membuat ikan-ikan kecil yang ada di sekitarnya jadi mati.
The End

Comments
Post a Comment