Hantu Banyu
Cerpen ini pernah dimuat di harian Kaltim Post edisi Minggu, 09 Agustus 2015, dan saat itu juga masih pakai nama asli saya, bukan nama pena ini. Hihihi ... selamat membaca.
Hantu Banyu
Aku tergopoh-gopoh lari ke rumah Iwan. Kudengar kabar dari kawan-kawan, Iwan meninggal karena suatu kecelakaan yang terjadi padanya malam tadi di atas jembatan saat ia memancing. Tak kusangka, secepat itu Izrail menjemputnya, padahal dia masih muda, 20 tahun dan aku hanya setahun lebih tua darinya.
Ketika tiba di rumahnya, aku tak kuasa menahan diri. Air mata jatuh bersimbahan. Iwan sahabatku, dan dia telah tiada.
***
Semua orang di kampung tahu, Iwan sangat pandai berenang.Beberapa bulan yang lalu, cucu Nek Ipah yang masih berusia 5 tahun jatuh ke sungai, dan Iwan-lah yang menyelamatkannya. Iwan juga pernah menjadi juara pertama lomba renang yang kami adakan dulu bersama teman-teman saat masih kanak-kanak. Karena kepandaiannya itu, jadi rasanya aneh bila Iwan tewas tenggelam.
Desas-desus warga kampung mulai santer terdengar. Semua mengisahkan tentang kematian Iwan yang dirasa janggal, pun denganku. Sebagai sahabat terbaiknya, yang mengenal sosoknya luar dalam tentu aku tak habis pikir dengan hal itu.
Ada yang mengatakan Iwan terpeleset dan kepalanya terhantup penyangga jembatan yang terbuat dari ulin, sehingga ia pingsan sebelum akhirnya meninggal. Mungkin iya, mengingat ada lebam di dahinya. Ada pula yang mengatakan Iwan ditarik Hantu Banyu, karena belakangan ini di kampung sebelah banyak warganya yang mati di sungai, dan Hantu Banyu pun jadi dikait-kaitkan dengan kejadian itu. Entahlah, aku tak tahu mana yang benar, apalagi tak ada saksi mata saat kejadian itu, tahu-tahu mayatnya sudah mengapung di sungai.
“Zaman sudah modern, mana ada lagi yang namanya Hantu Banyu,” ujarku diplomatis, saat aku dan beberapa kawan sedang berkumpul di acara haul di rumah Iwan.
“Zaman modern nggak menjamin Hantu Banyu lenyap begitu saja dari peredaran. Biar bagaimana pun, sosoknya tetap ada. Kamu harus percaya itu!” ucap Imah menampik pernyataanku.
Jujur, tak ada niat apapun mengatakan hal demikian. Bukannya aku tidak mau memercayai keberadaannya, hanya saja sulit bagiku untuk bisa menerima sahabat terbaikku tewas oleh sesuatu yang gaib.
Mendengar warga kampung mengisahkan tentang Hantu Banyu, aku pun punya gambaran sendiri tentang sosoknya. Nenekku pernah menceritakannya dulu, sewaktu aku masih kecil. Nenek menceritakan mengenai sosok itu hanya untuk menakut-nakuti cucu-cucunya agar tidak terlalu lama mandi di sungai, karena dulu mandi di sungai adalah suatu rutinitas yang menyenangkan. Tidak pernah bisa kulupakan betapa menakjubkannya kehidupan masa kecilku, kala aku dan Iwan melompat jumpalitan dari atas jembatan hingga tubuh kami terhempas ke dalam air.
Nenek bilang Hantu Banyu itu badannya berwarna hitam, kalau disentuh sangat licin seperti lumut. Jari-jarinya sebesar pisang ambon, gerakkannya gesit seperti ikan yang berenang. Entah, aku tak tahu pasti benarkah demikian sosok Hantu Banyu yang dikisahkan nenekku?
***
Dua minggu setelah kematian Iwan, warga kampung di tempatku tinggal kembali digemparkan dengan berita mencengangkan yang dibawa Rani. Dia lari terbirit-birit selepas dari sungai. Kepada warga kampung Rani bercerita, bahwa ia melihat penampakan Hantu Banyu saat sedang buang hajat di jamban yang ada di sungai.
Rani bilang, selepas keluar dari jamban ia bermaksud ingin membasuh kaki, tapi di tengah sungai ia melihat sosok seseorang yang sedang berenang dengan posisi terlentang. Karena penasaran, Rani pun menyorotkan lampu senter yang dibawanya ke arah sosok itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat mata yang merah menyala mendelik kepadanya. Tak pikir panjang, ia pun langsung hengkang dari sungai.
Setelah mendengar kisah Rani, ramai warga kampung berduyun-duyun turun ke sungai. Mereka ingin melihat sendiri sosok itu, meskipun rasanya tidak mungkin “Hantu Banyu” itu masih ada di sana.
Pak Rudi, tetanggaku datang ke rumah dan mengabari bapakku tentang berita itu. Dia mengajak turun ke sungai, di sebelah tangannya ia membawa sebuah senter karena memang jalan menuju sungai tidak ada penerangan satu pun. Karena penasaran, bapak pun ikut turun ke sungai bersama Pak Rudi.
“Jangan turun ke sungai malam-malam, Nak. Bahaya, kalau aja Hantu Banyu betulan ada,” larang ibu saat ia melihatku bersiap beranjak dari rumah.
“Aku nggak ke sungai, Bu. Aku cuma mau duduk di jembatan dengan teman-teman.” Aku menyahuti diiringi dengan langkah yang berayun pergi meninggalkan rumah.
Berita mengenai penampakan sosok Hantu Banyu mungkin memang menarik, tapi tak menarik perhatianku sedikitpun. Daripada pergi ke sungai seperti kebanyakan orang—guna melihat sosok yang mungkin sudah tidak ada, aku lebih memilih untuk berkumpul bersama beberapa teman di atas jembatan. Sesampainya di sana, ternyata teman-temanku tidak ada, sepertinya mereka lebih tertarik untuk pergi ke sungai seperti yang lainnya.
Jembatan inilah yang dulu menjadi tempat bermainku bersama Iwan. Dari atas jembatan kayu setinggi dua meter ini, kami berlompatan. Dan, di jembatan inilah terakhir kalinya aku melihat Iwan sedang memancing, sebelum akhirnya ia tenggelam dan meninggal.
Saat siang, jembatannya akan terlihat lebih tinggi dari biasanya, karena air sedang surut. Dan ketika malam, air sungai yang meluap membuat volume air jadi lebih banyak dari biasanya, jembatan ini pun jadi tidak begitu tinggi.
Aku berdiri di pinggiran jembatan, bersandar pada kayu penyangganya yang mulai rapuh karena termakan usia. Dari atas jembatan, aku bisa melihat ke arah jamban yang berada kira-kira 100 meter dari lokasiku sekarang. Di sana sedang ramai sekali orang, bersamaan dengan puluhan lampu senter mereka yang membanjiri permukaan air sungai dengan cahaya.
Mereka sangat penasaran dengan sosok Hantu Banyu, padahal belum tentu yang dilihat Rani itu benaran Hantu Banyu atau bukan. Bagaimana jika itu hanya orang yang sedang berenang? Walaupun aneh kenapa ia harus berenang malam-malam.
Sambil berpikir, aku pun memutuskan untuk duduk di atas jembatan dengan kaki yang terjulur ke bawah. Ujung jari kakiku bisa merasakan sentuhan air sungai yang dingin. Pikiranku bermain ke mana-mana, memikirkan, siapakah gerangan yang dilihat oleh Rani?
“Mungkin Padil, karena dari dulu dia memang suka usil sama Rani,” gumamku seorang diri, entah kenapa tiba-tiba aku memikirkan hal aneh. “Atau … hantu Iwan, atau …,”
Pikiranku buyar saat kurasakan ujung jari jempol kakiku bergesekan dengan sesuatu yang licin. Saat aku mencondongkan tubuh ke depan dan mengintip ke bawah, jantungku tiba-tiba berhenti berdegup. Aku melihat mata yang merah menyala, entah iya atau bukan … yang pasti untuk pertama kalinya aku merasa berada dalam bahaya dan tak bisa menghindar.
“Hantu Banyu ???” lirihku.
THE END
Comments
Post a Comment