Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 2


Halo.

Setelah sekian hari libur menulis dikarenakan kesibukan yang sengaja dibuat-buat sendiri, akhirnya hari ini saya punya waktu senggang untuk kembali menulis di blog.

Di tulisan saya sebelumnya, saya sudah mengupas habis tentang suku Kutai, yang juga merupakan salah satu suku asli di Kalimantan Timur, maka ada baiknya untuk kesempatan kali ini saya akan mengulas panjang lebar mengenai suku asli Kalimantan Timur lainnya. Pasti sudah pada tahu kan? Pastinya dong. Yup, saya akan mengulas tentang suku Dayak.


Kalimantan Timur , merupakan salah satu provinsi yang memiliki sejarah panjang tentang masyarakat suku Dayak. Beberapa kerajaan tertua di wilayah ini diduga merupakan kerajaan suku Dayak di masa lalu.

Selain itu di provinsi Kalimantan Timur juga terdapat lebih dari 40 suku Dayak yang berbeda antara satu dengan lainnya, pun dengan tradisi dan budaya masing-masing. Beberapa suku Dayak di wilayah ini menyebut dirinya bukan Dayak (seperti saya), karena telah memeluk agama Islam. Tapi secara tradisi, budaya dan bahasa tidak dapat disangkal karena mereka tetaplah orang Dayak.

Di Kalimantan Timur khususnya terdapat 46 sub suku Dayak, tapi saya tidak akan membahas semuanya karena nanti ulasan ini akan jadi sangat panjang. Saya hanya akan mengulas empat sub suku Dayak yang saya ketahui atau cukup familiar untuk saya, yaitu: Kenyah, Kayan, Benuaq, dan Tunjung.

KENYAH

Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk dalam rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur melalui sungai Iwan, di Sarawak, dan terpecah menjadi dua. Sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian lagi menuju daerah Bahau.

Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda . Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Suku Kenyah merupakan 2,4% penduduk Kutai Barat. Suku Kenyah terbagi menjadi Kenyah Dataran Rendah dan Kenyah Dataran Tinggi /Usun Apau Kenyah.

Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur. Bukan hanya seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup mereka.

Klan besar Dayak Kenyah, konon, berasal dari keturunan para pedagang Cina dan suku Barunai (Brunai Darussalam). “Kami berasal dari Sungai Baram, wilayah suku Barunai,” ujar Labu Usad, kepala desa Nawang Baru. Karena sering berperang dengan suku Barunai lainnya, akhirnya berpencar menjadi empat wilayah. Satu diantaranya mendiami Dataran Apau Kayan. Dalam perkembangannya, Klan ini terbagi lagi menjadi 30 sub suku, yang memiliki nama tersendiri dan masing-masing memiliki kepala adat. Tak jelas, sejak kapan terjadi perpecahan dalam Klan besar ini. Namun, mengapa sampai terjadi perpecahan, itu hanya dapat diterangkan dengan “kata Sahibul Hikayat”.

Alkisah, Batang Laing--salah seorang kepala suku--menugaskan delapan warganya--empat lelaki dan empat wanita--untuk membuat Yunan (alat peras tebu). Yunan adalah syarat meminta restu kepada Dewa Peselong Loan. “Tum ta mita tan ya leka - Tolonglah kami mencari tanah subur.”

Seorang dukun yang memimpin upacara kesurupan, sembari berkata, “A Untana ya suk tana Lurah Tana ya leka ya bileng – Ada tanah yang subur dan luas di lembah lurah yang jauh.”

Petunjuk untuk menemukan “tanah perjanjian” itulah yang memunculkan perbedaan pendapat. Klan besar Dayak Kenyah mengalami pemencaran, sesuai dengan penafsiran masing-masing tentang letak tanah yang dimaksud, sampai kemudian membentuk kelompok menjadi 20-30 sub suku. Meski tempat tinggal antar sub suku ini berpisah, tapi tetap berada dilembah yang sama, yaitu membujur sepanjang Apau Kayan--Dataran Tinggi Kayan.

Masing-masing sub suku mempunyai “swing-awing” (keputusan adat tersendiri). Setiap sub suku juga memiliki otonomi atas wilayah kerja tersendiri, misalnya atas daerah perburuan dan ladang sebagai hak ulayat masing-masing.

Dayak Kenyah yang mendiami pulau kalimantan/borneo, khususnya kalimantan timur, terdiri dari 22 Sub suku (yang dapat didata) . Setiap sub suku biasanya disebut lepoq/umaq, yaitu:

1. Lepoq Bakung
2. Uma Jalan,
3. Lebuk Kulit,
4. Lebuk Timai,
5. Lepoq Tukung,
6. Lepoq Bem,
7. Lepoq Ma'ut,
8. Uma Lasan,
9. Uma Lung,
10.Lepoq Tau,
11.Lepoq Kayan,
12.Lepoq Punan,
13.Lepoq Brusuq,
14.Uma Baka,
15.Uma Alim,
16.Lepoq Entang,
17.Lepoq Kei,
18.Lepoq Puaq,
19.Lepoq Tepu,
20.Lepoq Badeng,
21.Lepoq Merap,
22.Lepoq Kudaq.

Yang membedakan diantara sub suku Dayak Kenyah ini adalah mengenai cara pengucapan akhir kata, (setiap sub suku mempunyai ciri khas dialek/logat yang berbeda-beda).
Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur tersebar di seluruh kabupaten/kota madya, mereka biasanya hidup berkelompok di desa/kampung. Saat ini suku Dayak Kenyah mendiami sekitar 80 desa/kampung di kaltim.

Mata pencarian sebagian Orang Dayak Kenyah adalah pertanian (sistem berladang), berburu, sebagai karyawan di perusahaan kayu, perkebunan sawit, tambang batu bara, karet, ada juga yg berhasil menjadi PNS dan pejabat di provinsi dan kabupaten/kota.

#. Tempat tinggal


Rumah tinggal mereka masih khas. Uma Da’du atau Lamin adalah rumah asli peninggalan Dayak Kenyah yang masih utuh. Rumah adat ini dibuat dari kayu ulin, beratap sirap. Lamin di hiasi lukisan daun paku simetris dengan aneka warna. Bentuknya sebagian menyerupai tattoo di tangan kaum wanitanya . Mereka juga dikenal mahir membuat manik-manik dan pemahat handal patung Totem.

#. Hubungan kekerabatan
Hubungan kekerabatan mereka mengikuti garis keturunan patrilinial. Dalam satu lamin dapat dijumpai hidup beberapa keluarga, mulai dari orang tua, anak, cucu, sepupu hingga keponakan. Dahulu kala sebuah lamin malah dapat menampung lebih dari 100 KK, sehingga tidak ada bentuk keluarga batih mutlak.

Batih baru ada kalau sekiranya pasangan suami istri mau memisahkan diri dari lamin. Namun hal ini jarang dilakukan, karena pertimbangan ekonomi. Sebab, dengan memilih tinggal didalam lamin, segala persoalan dan kebutuhan sehari-hari menjadi tanggung jawab bersama. Hidup komunal demikian tentu ada resikonya. Kerahasiaan menjadi kosakata yang nyaris tak mereka kenal.

Kerahasiaan personal menjadi demikian tipis, agaknya hanyalah setebal kelambu. Namun demikian mereka tetap taat pada adat lamin yang sehari-hari dikendalikan oleh kepala adat. Di dalam lamin, kepala adat menempati kamar bagian tengah. Bagi mereka, kepala adat adalah orang yang dipilih menurut garis keturunan bangsawan, yang dapat melindungi dan berwawasan luas tentang adat setempat.

Dalam struktur masyarakat, posisi kepala adat berada dibawah kepala desa. Namun, dalam keseharian, kepala adat tampak lebih dihormati ketimbang kepala desa.

#. Kepercayaan
Suku dayak Kenyah yang menjadi penduduk asli Apau Kayan, sebagian besar beragama Kristen dan Katolik. Sebagian kecil, terutama orang tua masih ada yang animisme. Belakangan, seiring dengan masuknya para pendatang ke daerah ini, pemeluk islam sudah mulai bermunculan.

#. Kesenian Tradisional


Warga Dayak Kenyah tetap mempertahankan budaya leluhurnya seperti menenun, mengukir, dan membuat aneka kerajinan tangan. Bagi para wisatawan yang ingin membeli souvenir, di Desa Pampang banyak orang yang menjajakan berbagai pernak pernik dari yang kecil hingga yang besar seperti gantungan kunci dan patung kayu.

Dayak kenyah juga sangat terkenal dengan seni tari tradisionalnya seperti : tari datun julut, kanjet pepatei/tari perang, Kancet Punan Lettu, Kancet Nyelama Sakai, Hudog, Manyam, Pamung Tawai, Burung Enggang, tari Leleng, dll.

Mereka memiliki alat musik yg sangat unik, yaitu sejenis gitar, yang biasa disebut sambeq, jatung utang (kolintang), kedirek, uding, gong, dsb.
Adapula upacara adat di Kenyah, yaitu adat tahunan “Pelas Tahun” atau disebut juga Alaq Tau. Pelas Tahun ini merupakan kegiatan pengucapan rasa terima kasih kepada Tuhan setelah panen raya yang jatuh setiap Juni, namun tanggalnya berbeda-beda tergantung hari baik.

#. Bahasa Pengantar
Suku Kenyah adalah klan besar suku dayak- diantara klan Dayak di Kalimantan, Serawak, dan Sabah di Malaysia. Sebagai pengantar sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Kenyah, yang mengenal 14 dialek. Belakangan, munculnya generasi muda suku Kenyah yang mendiami Apau Kayan, Bahasa Indonesia mulai dikenal.

#. Adat Kelahiran Dayak Kenyah
Jika ada istri dari Suku Dayak Kenyah melahirkan, maka bunyi-bunyian gong dan gendang terus dikumandangkan. Tujuannya agar jangan sampai tangisan anak itu terdengar oleh binatang-binatang di hutan, sebab itu adalah pantangan maka akan berkembang mitos “Anakmu akan sial sepanjang Zaman”.

#. Upacara Pemberian Nama Dayak Kenyah
Bagi keluarga yang baru saja mendapat momongan harus mengundang seluruh penduduk kampung yang berhak memberi nama. Antara lain nenek, ibu, atau perempuan lain yang berasal dari lingkungan keluarga mereka. Sedangkan laki-laki dan bahkan ayahnya sendiri sangat dipantangkan memberikan nama. Bila anak mereka laki-laki Ayam jantan harus dikorbankan. Darahnya diletakan di atas mandau (parang) dan lalu dioleskan ke tanah sebelah kanan bayi dan bersama itu mantra dibacakan “Berilah anak ini air kehidupan”.

#. Pengobatan Oleh Dayak Kenyah
Dukun dari suku dayak bernama Dayung. Dikenal bisa menyembuhkan sakit seseorang dengan cara, telur ayam di letakan di atas kepala dan Dayung pun mengucapkan mantra yaitu : Ni atau Sio diman, menyat tolong lait nyengau” diterimahkan” tolong berikan air yang dapat menghidupkan’. Kepada si sakit, ayam dibunuh lalu darahnya di teteskan ketubuhnya, kepada hantu-hantu, dan doa dipanjatkan, yaitu semoga penderita disembuhkan. Bila si penderita tidak dapat tertolong di pukullah gong sebagai pemberitahuan kepada penduduk yang ada di kampung atau di hutan bahwa sudah terjadi kematian. Lelaki warga kampung bersenjata membacoki dinding Rumah dan tiang-tiang sebagai tanda memerangi hantu-hantu yang mengakibatkan kematian.

#. Kematian Dayak Kenyah
Mayat di berikan di atas tikar, keluarga yang ditinggalkan berkumpul, menangis sambil menyanyikan syair-syair pujian atas jasa almarhum yang telah meninggal. Sementara itu, senjata-senjata perang harus diletakan di samping jenazah. Sungai terdekat dengan kampung disediakan untuk pedoman. Kaki mayat membujur ke hilir, kepala mengarah ke hulu, nengikuti arus aliran sungai. Peti mati/ Lungun jenazah diberi harta dan senjata perangnya. Empat hari empat malam mayat disemayamkan. Pemuda-pemuda membuat tekalong atau rumah-rumahan. Di atasnya duduk keluarga jenazah, di hadapan peti mati bertangis-tangisan, sementara itu kepala adat memberikan petuah kepada para pemikul rumah-rumahan.

#. Tabu Kematian Dayak Kenyah
Bila perempuan Dayak kenyah mati melahirkan satu kampung harus membiarkan, kalau ditolong membawa bencana, itulah perintah dari dewa-dewa. Penduduk kampung hanya membuatkan peti mati yang diletakan di atas kuburan sedangkan mayat hanya diurus suami sendiri atau saudara dari perempuan yang mati tersebut ke dalam “kiba” (kiba adalah sejenis keranjang berukuran tinggi. Kiba dibuat dari anyaman rotan. Kiba diusung di belakang dan diberi tali untuk diusungkan ke kedua ketiak). Pada saat membawa ke kuburan jangan melewati rumah orang karena seluruh kampung akan kena bencana sial atau kalah dalam perang, itulah peraturan yang diberikan oleh roh nenek moyang.

#. Setangis Dayak Kenyah
Dalam upacara setangis di situlah seluruh keluarga menagis pelan-pelan, peti mati dimasukan ke dalam kubur diiringi bunyi-bunyian kelentengan gong dan gendang. Setangis adalah upacara pemakaman yang diiringi kesenian JAMOK HARANG, main alu dan sabung Ayam. Dalam upacara setangis dihidangkan ketan hitam, roti-rotian, telur masak, dan segala macam makanan lainnya.

#. Rapat Adat Dayak Kenyah
Para peserta rapat harus berbaju kulit binatang dan bercawat kain hitam. Sebelum rapat dimulai para peserta rapat memakan bubur tepung beras sebagai lambang persatuan. Sebagai acara kedua para peserta rapat beramai-ramai meminum air “tapai” (tape) sambil menyanyikan lagu-lagu lama, acara ketiga kepala adat dipersilakan memayungi seekor babi sebagai lambang Perlindungan Tuhan Bunga Malan yang bisa memaafkan kesalahan semua orang. Acara keempat kepala adat dipersilahkan menghidangkan delapan gelas “jakan” (Minuman keras) kepada bangsawan tertinggi dan bila minuman sudah dihabisi barulah rapat boleh dimulai.

#. Tanda-Tanda Alam
Bungan Malan adalah nama tuhan mereka, yang menyampaikan perintah dan permintaan kepada manusia dan sebagai perantaranya adalah BALI UTUNG. Mereka percaya apabila mereka melihat burung pelatuk dan burung elang terbang berarti kebaikan akan datang, tapi apabila burung tersebut terbangnya menghalang atau melintang itu bertanda tibanya kecelakaan, karena itu bila mereka menempuh perjalanan di hutan sebaiknya cepat-cepat pulang karena itulah larangan tuhan mereka yang disampaikan dengan perantara binatang.

Mereka percaya apabila larangan itu tidak diajarkan, Bungan Malan akan murka lalu dikirim hantu-hantu untuk menyiksa manusia. Mereka percaya hantu masing-masing punya nama. Ada yang bernama Bali Meet, Bali Tenget, Bali Ketatang, Bali Li-it dan Bali Sakit. Hantu-hantu adalah piaraan Tuhan Bangun Malan yang bisa mencelakakan jiwa seseorang.

#. Upacara Agama Suku Dayak Kenyah
Agama nenek moyang mereka dinamakan Bungan Ibadat. Mereka beribadat hanya pada saat-saat yang perlu dengan sesajen melimpah-ruah, dan memakan waktu yang lama. Kadang mengadakan pesta, seperti:

1. Erau kepala adalah pesta memohon doa agar Bungan Malan dan Bali Utung memberikan kesuburan kepada tanah ladang yang baru dibuka.

2. Ukaw Mending adalah pesta yang dilakukan ketika kampung ditimpa bencana. Sebelum Ukaw Mending di mulai seluruh penduduk diberitahu untuk ber”tabu” selam tiga hari yaitu: jangan memancing, jangan berburu, jangan menumbuk padi, menjahit, keluar kampung dan jangan pula menerima tamu selama bertabu itu.
Penguasa pesta terus-menerus membaca mantera agar Bungan Malan melenyapkan malapetaka.

3. Erau Bunut adalah pesta pemberian nama yang dilaksanakan semeriah-meriahnya.

#. Filosofi Tato



Tato bagi masyarakat etnis dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.

Bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda. Banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung. Jangan bayangkan kampung tersebut hanya berjarak beberapa kilometer. Di kalimantan, jarak antar kampung bisa ratusan bahkan ribuan kilometer dan harus ditempuh menggunakan perahu menyusuri sungai lebih dari satu bulan. Karena itu, penghargaan pada perantau diberikan dalam bentuk tato.

Baik tato pada lelaki atau perempuan, secara tradisional dibuat menggunakan duri buah jeruk yang panjang, dan lambat laun kemudian berubah, menggunakan beberapa buah jarum sekaligus. Yang tidak berubah adalah bahan pembuatan tato yang biasanya menggunakan jelaga dari periuk yang berwarna hitam. Karena itu, tato yang dibuat warna – warni: hijau, kuning dan merah, pastilah bukan tato tradisional yang mengandung makna filosofis yang tinggi.

1. Tato untuk Bangsawan
Tato bisa pula diberikan kepada bangsawan. Di kalangan masyarakat dayak kenyah, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan (paren) adalah burung enggang (anggang) yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan. Bagi mereka burung enggang merupakan rajanya segala burung yang melambangkan sosok yang gagah perkasa, penuh wibawa, keagungan dan kejayaan. Sehingga tato motif jenis ini biasanya diperuntukan hanya untuk orang-orang tertentu saja.

2. Tato untuk Kaum Perempuan
Di suku Dayak Kenyah, pembuatan tato pada perempuan dimulai pada umur 16 tahun atau setelah haid pertama. Untuk pembuatan tato bagi perempuan, dilakukan dengan upacara adat di sebuah rumah khusus. Selama pembuatan tato, semua pria tidak boleh keluar rumah. Selain itu seluruh keluarga juga diwajibkan menjalani berbagai pantangan untuk menghindari bencana bagi wanita yang sedang ditato maupun keluarganya. Motif tato bagi perempuan lebih terbatas seperti gambar paku hitam yang berada di sekitar ruas jari disebut song irang atau tunas bambu. Adapun yang melintang di belakan buku jari disebut ikor. Tato di pergelangan tangan bergambar wajah macan disebut silong lejau. Adapula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan dayak memiliki tato di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bagian bawah betis. Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai silong lejau.

Perbedaanya dengan tato di bagian tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge. Tato sangat jarang ditemukan di bagian lutut. Meski demikian ada juga tato di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato dibadan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi – jadian atau disebut tuang buvong asu.

#. Filosofi Telinga Panjang Dayak Kenyah


Telinga Panjang menjadi ciri khas orang Dayak. Pada jaman dahulu hampir semua orang Dayak baik laki laki maupun perempuan bertelinga panjang. Menurut Amai Pebulung (seorang tetua suku Dayak kenyah), orang dayak dahulu banyak hidup di hutan, ingin membedakan antara manusia dengan monyet, “Jika telinganya pendek berarti dia itu monyet”. Untuk kaum wanita jika telinganya semakin panjang dan bandul telinganya semakin banyak maka dia semakin cantik. Untuk kaum lelakinya biasanya bandul telinganya dibuat ukir-ukiran.

#. Seni Tari


1. Tari Kancet Papatai/Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penarinya. Dalam tarian ini, penari mempergunakan pakaian tradisional suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tarian ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

2. Tari Kancet Ledo/Tari Gong
Jika tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya tarian Kancet Ledo menggambarkan kelemah-lembutan seorang gadis bagaikan sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup angin. Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisional suku Dayak Kenyah dan pada kedua belah tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Tarian ini biasanya ditarikan di atas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

3. Tari Pecuk Kina
Tarian ini menggambarkan perpindahan suku Dayak Kenyah yang berpindah dari daerah Apu Kayan (Kab. Bulungan) ke daerah Long Segar (Kab. Kutai Barat) yang memakan waktu bertahun-tahun.

4. Tari Kancet Lasan
Menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tarian Kancet Ledo, namun si penari tidak mempergunakan gong dan bulu-bulu burung Enggang dan juga si penari banyak mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh tanah/lantai. Tarian ini lebih menekankan pada gerakan burung Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.

5. Tarian Datun
Tarian ini merupakan tarian bersama gadis suku Dayak Kenyah dengan jumlah tak pasti, boleh 10 hingga 20 orang. Menurut riwayatnya, tari bersama ini diciptakan oleh seorang kepala suku Dayak Kenyah di Apau Kayan yang bernama Nyik Selung sebagai tanda syukur dan kegembiraan atas kelahiran seorang cucunya. Kemudian tari ini berkembang ke segenap daerah suku.

6. Tarian Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri ke dalam hutan. Tarian gadis suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.

7. Tari Hudoq Kita
Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita' dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya. 
Kostum penari Hudoq Kita' menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita', yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

#. Senjata Khas
Senjata khas yang di miliki suku Dayak Kenyah yang tidak di miliki oleh suku lainnya adalah mandau dan sumpit, sama halnya dengen suku-suku Dayak lain di Kalimantan.

1. Mandau


Senjata khas yang disebut mandau itu terbuat dari lempengan besi yang ditempa berbetuk pipih panjang seperti parang berujung runcing menyerupai paruh burung yang bagian atasnya berlekuk datar. Pada sisi mata diasah tajam sedang sisi atasnya sedikit tebal dan tumpul. Kebanyakan hulu mandau terbuat dari tanduk rusa diukir berbentuk kepala burung dengan berbagai motif seperti kepala naga, paruh burung, pilin dan kait. Sarung mandau terbuat dari lempengan kayu tipis, bagian atasnya dilapisi tulang berbentuk gelang, bagian bawah dililit dengan anyaman rotan.

2. Sumpit

Sumpit yaitu jenis senjata tiup yang dalamnya diisi dengan damak yang terbuat dari bambu yang diraut kecil dan tajam yang ujungnya diberi kayu gabus sebagai keseimbangan dari peluru sumpit. Kekuatan jarak tiup sumpit biasanya mencapai 30-50 meter. 
Sumpit terbuat dari kayu keras berbentuk bulat panjang menyerupai tongkat yang sekaligus merupakan gagang tombak dengan lubang laras sebesar jari kelilingking yang tembus dari ujung ke ujung. Pada ujung sumpit di lengkapi dengan mata tombak terbuat dari besi berbentuk pipih berujung lancip yang menempel diikat dengan lilitan rotan.

3. Telabang atau Perisai


Di samping kedua jenis senjata itu masuih terdapat satu peralatan yang disebut telabang atau perisai. Perisai ini terbuat dari kayu gabus dengan bentuk segi enam memanjang, keseluruhan bidang depannya beragam hias topeng (hudoq), lidah api dan pilin berganda.

Yup. Sepertinya cukup sekian dulu deh penjelasan dan pengenalan budaya serta adat istiadat suku Dayak Kenyah. Next time, saya bakal lanjut lagi dengan ulasan yang lebih asyik mengenai suku Dayak Kayan.

Okey, see you next time.


Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3