Adelia Simpson

Pixabay/Ryszard_Andrzejowski

Adelia Simpson
Oleh: Mega Ayu Rullysha

Dua puluh meter lebih sedikit dari simpang tiga jalan Jeferson, tepatnya di depan rumah kedua di jalan itu. Di sana terparkir sebuah ambulan, mobil Sheriff, dan segerombolan orang yang suka ingin tahu. 

Berbeda dengan segerombolan orang itu, aku merasa lebih nyaman dan aman menonton dari kursi malas di teras rumahku. Orang-orang itu berkumpul menyaksikan evakuasi atas temuan mayat seorang wanita muda yang mati setelah menenggak racun di kamar tidurnya. Namanya Adelia Simpson.

Aku mengenalnya empat bulan yang lalu, tepat saat hari pertama sekolah dimulai setelah libur musim panas. Saat itu dia berkunjung ke rumahku, ktanya, dia baru seminggu pindah dari kota H yang besar ke kota kecil ini. Dia mengenalkan diri sebagai guru pengganti Nyonya Baverly yang harus cuti melahirkan.

"Di mana suami Anda, Nyonya?" Saat itu dia bertanya demikian.

"Sudah dua tahun kami berpisah. Aku hanya tinggal berdua dengan anakku."

"Maaf, tidak seharusnya saya menanyakan hal itu."

Kunjungan Adelia ke tempat tinggalku tak lain karena ia adalah guru anakku, dan dia ingin bertemu dengan semua orangtua murid untuk menjalin keakraban. Saat kutanya untuk apa dia melakukan itu, katanya hanya salah satu program kerjanya. Menjalin keakraban kurasa hanyalah modus. Aku bisa melihat dari pancaran matanya yang menumpahkan rasa ingin diperhatikan.

Adelia wanita yang baik dan sangat ramah, menurut sebagian orang. Dari pengamatanku, Adelia memiliki satu kebiasan yang jarang sekali dilakukan oleh orang-orang kota ini. Ia selalu menyapa dan tersenyum pada siapa saja yang berpapasan dengannya. Dalam sekejap dia menjadi akrab dengan hampir seluruh warga kota, khususnya sepanjang jalan Jeferson, dan hingga beberapa blok setelah itu. Sikapnya yang supel dan periang membuat orang-orang gembira berada di dekatnya. 

Penampilannya sangat nyentrik untuk seorang wanita yang bekerja sebagai guru di kota kecil. Setiap bertemu dengannya, baik saat kunjungan ke rumah maupun di jalan, aku selalu melihatnya mengenakan rok sepan dan kemeja ketat yang membentuk lekuk tubuhnya. Menurutku penampilan itu terlalu seksi untuk seorang guru di kota kecil. Pekerjaan sebagai resepsionis, atau sekretaris di perkantoran kota besar sepertinya lebih cocok untuknya. Tak salah rasanya jika aku menaruh sangka bahwa Adelia sedang cari muka.

Tidak hanya itu, ada satu bukti lagi yang menguatkan sangkaanku. Saat itu senja, langit kota sudah menyemburatkan sinar jingganya dengan ganas. Adelia berdiri menyandarkan sisi tubuh bagian kanan di ambang pintu rumah sewaannya. Dia mengenakan setelan santai berwarna biru muda yang sangat manis di tubuh jenjangnya. Ia menyapa dan melambaikan tangan padaku yang kebetulan lewat. Aku membalasnya agar tidak dikira sombong. 

La Muna yang dekil dengan ingus kental menjulur di kedua lubang hidung berlalu laju mendahuluiku sambil menggelindingkan ban bekas. Aku tersentak, kemudian anak itu berbalik dan nyengir ke arahku. Aku bergidik ngeri melihat lendir hijau itu bergelantungan di sana. Seolah lendir itu ingin jatuh, namun juga enggan, jadi ia betah bergelantungan di situ berhari-berhari, atau mungkin berbulan-bulan. 

Sebuah gundukan kecil akibat dari akar pohon Ek yang menyembul di atas trotoar luput dari perhatian La Muna, dan ia terjatuh. La Muna menangis jejengkalan melihat lututnya yang memuntahkan darah. Kedua telapak tangannya juga terluka. Matanya bercucuran air mata. Liur dan ingus berkolaborasi jadi satu paduan yang menjijikan. Aku mengumpat dalam hati, sungguh jika dia anakku, akan kusikat seluruh tubuh dekilnya dengan sikat kawat, dan kesedot ingusnya dengan penghisap debu.  

Adelia bergegas menuruni tangga rumah. Dengan gesit ia menggendong La Muna yang mungil dan membawa ke teras rumahnya. Saat itu aku baru sadar bahwa Alex, pemuda blesteran Jerman-Inggris pemilik dari rumah yang disewa Adelia, baru saja memarkirkan mobilnya. 

Alex bertanya apa yang terjadi, dan aku menjelaskan, tetapi Adelia memotong kalimatku. Wanita itu buru-buru masuk, kemudian keluar lagi membawa sebaskom kecil air, cairan antisetik, dan perban. Ia membersihkan dan mengobati luka La Muna seolah ia seorang dokter. Dia juga menghadiahi La Muna beberapa bungkus permen. Anak itu berhenti menangis, kemudian berpamitan pulang tanpa mengucapkan terima kasih.

"Untung ada Anda, Nona Simpson," kata Alex menaruh kagum padanya.

Adelia mengerlingkan kedua matanya dan tersenyum malu-malu. Mungkin dia mengagumi Alex, dan itu bukan hal aneh karena pemuda itu memang tampan, bersahaja, sekaligus kaya.

"Kasihan anak itu," kata Adelia iba, namun pancaran matanya menyorotkan kebanggaan pada dirinya sendiri.

"Tidak apa-apa, Nona Adelia. Anak-anak terjatuh ketika bermain itu hal biasa," sahutku.

Dia menaikkan sebelas alis, kemudian mengangguk tipis. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Alex yang ternyata datang untuk mengambil uang sewa, aku berpamitan pulang. Adelia titip salam untuk anakku. 

Saat sudah cukup jauh meninggalkan rumah Adelia, sesuatu berbisik agar aku menoleh ke belakang. Kulihat Alex pergi setelah menerima pembayaran, dan di teras rumah kulihat Adelia membersihkan kedua telapak tangannya dengan cairan anti septik banyak-banyak. Dari raut wajahnya tampak jelas bahwa ia sedang membunuh sesuatu. Apa dia takut diserang kuman dari tubuh La Muna yang jorok setelah menolong anak itu? Hal itu membuatku tertawa. Lalu aku menyadari sesuatu. Saat di mana La Muna terjatuh, Alex tidak ada, dan saat Adelia melihat mobil Alex berbelok di pertigaan--dia tahu pemuda itu akan datang--ia segera menolong La Muna. Jika Alex tidak datang, dan aku tidak melalui rumahnya sore itu, apa mungkin dia akan menolong La Muna? Kupersepsikan bahwa tindakannya tersebut bukan berlandaskan kebaikan, melainkan cari perhatian.

***

Pagi sebelum sorenya ia ditemukan mati, aku melihat tukang pos mengantar surat ke rumah Adelia. Dia membaca surat itu di teras. Ada sesuatu dalam surat itu yang membuatnya takut, kemudian gegas melarikan diri ke dalam rumah. Namun tak lama kemudian Adelia kembali keluar sambil menenteng tas tangannya. Ia berlari cepat-cepat. Kuduga dia akan menuju stasiun karena ia berlari ke arah rumahku yang hanya terpisah beberapa blok dari stasiun. Aku mencegat langkahnya. Dia berhenti, dan sebelum Adelia menyapukan tangan ke wajahnya, aku sudah lebih dulu menangkap bulir bening di matanya.

Aku membawa Adelia ke teras rumah. Entah apa yang menuntunkan melakukan hal tersebut, tapi kelihatannya dia memang butuh bantuan. Aku menuntunnya duduk di kursi teras, dan kurasakan tubuhnya kaku dan dingin seperti es. Wajahnya pucat seperti mayat. 

"Ada apa, Nona Adelia? Kenapa kau berlari seperti orang ketakutan?"

"Saya harus kembali ke kota H." Lalu dia menceritakan segalanya padaku. 

Aku tidak ingat peristiwa apa yang membuat kami jadi akrab. Aku juga tidak pernah meminta agar ia menceritakan apa yang terjadi, tapi dia melakukannya. Dia juga menceritakan rahasia terbesarnya padaku. Alasan Adelia pindah dari kota H ke kota kecil ini, karena di sana ada begitu banyak orang yang membencinya. Semua kenalannya mengenal Adelia Simpson sebagai pribadi egois, penjilat, congkak, dan tukang rebut kekasih orang.

Dulu dia bekerja di perusahaan saham ternama. Tanpa sepengetahuan siapa pun ia menjalin hubungan dengan atasannya yang sudah beristri. Suatu hari Adelia tertangkap basah oleh istri atasannya yang murka dan melayangkan tuntutan pada Adelia. Dia dipenjara karena hal itu, dan apa pun yang ia dapatkan di penjara telah memberinya ganjaran. Dia bertekad akan berubah, dan setelah bebas ia pun pindah ke kota kecil ini dan menata kehidupannya yang baru.
Namun di tengah proses yang sedang dilaluinya saat ini, tiba-tiba ia mendapat surat dari kerabatnya di kota H yang mengabarkan bahwa atasannya yang dulu pernah menjadi kekasihnya tewas dibunuh oleh istrinya sendiri. Saat kutanya kenapa istri mantan kekasihnya melakukan hal itu, dia menjawab.

"Sebenarnya aku masih berhubungan dengannya, tapi hubungan kami tidak seperti dulu. Dia hanya membantuku, dan sepertinya istrinya sangat cemburu. Ini salahku."

Aku mengatakan itu bukan salahnya. Aku juga menasihati bahwa apa yang dilakukannya sudah benar, meski tak sepenuhnya benar. Seharusnya dia tidak berhubungan lagi dengan lelaki itu. Semua orang pasti pernah jatuh ke dalam lubang terkelam kehidupannya, dan hanya sedikit yang bisa kembali merangkak naik. 

Aku juga pernah mengalami hal demikian, namun itu bukan kesalahanku, melainkan suamiku. Namun akibat yang ditimbulkannya berdampak sangat buruk bagiku. Aku pernah dirawat dua minggu di rumah sakit karena kebodohanku. Orang-orang datang mengasihani dan memberiku semangat untuk bangkit lagi, dan aku berhasil bangkit. Dia juga harus bisa bangkit dan naik. Jadi kuberikan kepadanya sesuatu yang kusebut pil penenang, dan memintanya pulang.

"Berbahaya jika Anda kembali ke sana. Memangnya apa yang bisa Anda lakukan?" kataku. Dia menurut dan pulang. 

Setelah mendengar ceritanya barulah aku mengerti untuk apa sikap ramah tamah, kebaikan dan semua perhatiannya. Semua itu untuk mengubur wajah masa lalunya dengan wajah yang baru. Wajah yang penuh tipu muslihat. Keburukan yang dibungkus dengan kebaikan. Memangnya dia pikir aku akan dengan mudah melupakan wajahnya. Tidak, meski dua tahun telah berlalu.

Aku bisa membayangkan, pagi tadi Adelia meminum obat penenang yang kuberikan, lalu berbaring di tempat tidurnya. Mungkin tenggorokannya akan sedikit panas setelah beberapa saat menelan pil penenang itu, lalu tubuhnya kejang-kejang, kemudian mulutnya memuntahkan buih menjijikan.

***

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3