Penabur Kembang


Gambar: pixabay


Penabur Kembang
Oleh: Mega Ayu Rullysha

Lelaki itu datang lagi. Dia datang dengan membawa beberapa kantung kresek kembang kantil, kemudian menaburkannya ke beberapa makam. Seperti makam-makam di minggu sebelumnya, aku yakin dia juga tidak mengenal pemilik makam kali ini.

Pertama kali melihatnya sekitar dua bulan lalu, lelaki itu berjalan dengan langkah yang berat sambil mendorong sepeda motornya. Dia berhenti tepat di depan bengkel tambal ban milikku, dan meminta tolong agar aku menambalkan ban sepeda motornya. Saat itu kuduga dia sudah berjalan cukup jauh menyusuri jalan lintas luar kota ini. Terlihat dari kausnya yang basah oleh keringat dan bibirnya yang kering juga wajah lusuh.
Dia duduk di bangku yang memang kupersiapkan untuk pelanggan bengkel sambil menyelonjorkan kaki dan membuka helm-nya. Menuntaskan segala penat.

Kami terlibat obrolan kecil. Lelaki yang setelah kuperhatikan baik-baik ternyata memiliki bekas cacar di wajahnya itu bercerita bahwa ia sudah mendorong sepeda motornya berkilo-kilo meter. Entah berapa kilo tepatnya, dia tak menghitung. Kuduga sudah sejauh dua kilo ketika ia menyebutkan patokan tempat di mana ia mulai menyadari ban sepeda motornya bocor. Sepanjang jalan itu dia tidak melihat satu pun bengkel motor atau warung, padahal dia begitu haus dan lelah karena siang itu matahari memang begitu terik.

Aku mengasihaninya dalam hati. Kupanggil istriku dan memintanya membawakan segelas air dingin. Lelaki itu tersenyum lebar dan mengucap terima kasih ketika melihat istriku datang dengan segelas air es yang diberikan kepadanya. Langsung saja ia menuntaskan dahaga yang sejak tadi mengungkung.

Aku tidak tahu lelaki itu datang dari mana dan hendak ke mana, dan sepertinya lelaki yang kuduga berusia sekitar awal tiga puluhan itu baru pertama kali melewati jalan ini. Jika dia pernah melewatinya sebelumnya, tentu dia tahu bahwa dari sepanjang jalan yang ia lalui tidak akan ia jumpai bengkel motor ataupun warung selain bengkel kecilku. Kecuali jika sudah melewati Kilo 50. Di sana ada sebuah perkampungan yang memiliki dua bengkel yang cukup memadai dan beberapa warung makan juga toilet umum.

Dia bertanya kepadaku mengenai pemakaman umum di seberang jalan. Kubilang pemakaman itu sudah lama terbengkalai. Sudah jarang sekali orang yang mau menguburkan mayat kerabatnya ke sana. Selain jaraknya yang sangat jauh dari perkampungan, juga tidak ada pengurus makam yang membuat orang enggan dan akhirnya memilih pemakaman lain.

Kebanyakan warga kampung merasa lebih nyaman jika harus menguburkan jenazah kerabat mereka di pemakaman umum yang baru buka tidak jauh dari perkampungan, meski harus merogoh biaya besar untuk membeli sepetak tanah kuburan di sana. Bagi mereka tak apa mahal, yang penting dekat dan ada pengurus makamnya. Jadi mereka tak perlu bolak-balik setiap minggu atau bulan untuk membersihkan makam. Paling banter ketika menjelang ramadhan dan hari raya, ketika mereka mengunjungi makam kerabat, mereka akan cukup lega jika melihat makam-makam itu bersih dan terurus.

Lain lagi dengan warga kampung ekonomi lemah, mereka akan tetap memilih menguburkan jenazah kerabat di pemakaman ini karena harga jual untuk sepetak tanahnya sangat murah. Masalahnya, sejak ditemukannya batu bara di dekat perkampungan beberapa tahun lalu, sudah sangat jarang sekali ditemui warga kampung berekonomi lemah.

Lalu lelaki itu bertanya kenapa aku tidak bekerja di tambang batu bara juga? Kubilang, sama seperti anak dan menantu Nek Piah yang berjualan kembang di dekat gerbang pemakaman, kami tak bisa karena tidak memiliki pendidikan dan skill. Lagipula, aku bukan warga kampung sana.

Sepintas kemudian lelaki itu berdiri dan menyeberang jalan. Aku memerhatikannya sekilas. Dia membeli beberapa kantung kresek kembang kantil dari Nek Piah. Entah apa yang akan ia lakukan. Aku memilih untuk tidak peduli karena itu memang bukan urusanku.
Sekitar dua puluh menit kemudian lelaki itu kembali. Wajahnya tampak bersinar dengan senyum yang mengembang. Ban sepeda motornya juga sudah selesai kutambal. Dia terlihat puas dengan hasil kerjaku. Sekadar basa-basi aku bertanya apa yang tadi dilakukannya di pemakaman, dan dia bilang hanya sedang menabur kembang. Saat kutanya apa ada kerabatnya di sana? Dia jawab tidak ada.

"Lalu?"

"Hanya ingin."

Kupikir, mungkin dia hanya salah satu dari sekian jumlah orang baik di muka bumi.

***

Hari itu bukan yang pertama dan terakhir aku melihatnya. Satu minggu kemudian dia datang lagi. Lelaki itu menyapaku dari gerbang pemakaman. Dia melambaikan tangan. Aku hampir sudah tidak mengenalinya, sampai ia menghampiriku. Kami berbincang-bincang sebentar, dan saat kutanya apa yang ia lakukan di pemakaman, dia menjawab, "menabur kembang".

Minggu-minggu berikutnya dia kembali datang dan menabur kembang ke makam siapa pun yang ia inginkan. Setiap kali lelaki itu datang aku selalu mengamatinya. Hari ini pun ia melakukan hal yang sama.

Mataku mengawasi gerak-geriknya yang memerhatikan beberapa makam. Dia tampak menimbang-timbang, makam siapa lagi yang kali ini akan ditaburi kembang. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Apa yang dia harapkan dari melakukan hal itu? Kebaikan tentu salah satu pemicunya, tapi tentu ada hal lain. Seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa sebab.

"Mungkin dia kasihan melihat makam-makam yang nggak terurus itu," sahut istriku yang juga ikut mengamati.

"Tapi nggak harus setiap minggu, kan? Ini rutin lho. Bisa-bisa semua makam dia taburin kembang nanti."

"Ya Alhamdulillah, akhirnya dagangan kembang Nek Piah kan jadi ada yang beliin."

Sejenak aku tercenung. Benar juga kata istriku. Semenjak orang-orang kampung memilih memakamkan kerabatnya di pemakaman baru itu, dagangan kembang Nek Piah sepi pembeli. Biasanya setiap hari Jumat pasti ada dua atau tiga orang yang datang mengunjungi makam kerabat. Tapi sekarang sudah tidak seperti dulu. Entahlah, orang-orang itu jadi lebih sibuk dari biasanya, dan lokasi yang jauh selalu menjadi alasan utama. Tak ayal nenek tua itu selalu pulang dengan dompet hampa tanpa membawa sepeser pun rupiah hasil dari penjualan kembang. Kadang Nek Piah menaburkan kembang-kembangnya yang hampir layu ke makam suaminya yang ada di pemakaman itu.

Nek Piah tinggal tidak jauh dari tempatku. Dia hidup bersama anak dan menantunya beserta seorang cucu perempuan berusia lima setengah tahun di rumah peninggalan suaminya yang sudah reyot. Pekerjaan menantunya berkebun. Singkong dan pisang, itulah yang dijual anak dan menantunya di pinggir jalan lintas luar kota ini. Dengan kondisinya yang sudah tua seharusnya Nek Piah cukup berdiam diri saja di rumah, tapi dia malah ikut berjualan untuk membantu perekonomian keluarga.

Pernah beberapa hari berturut-turut tidak ada yang membeli kembangnya. Aku meminta istriku untuk memberi Nek Piah uang, tapi nenek itu menolak. Katanya, dia bukan pengemis. Istriku jadi tak enak hati mendengar jawaban itu dan berlalu pulang dengan muka masam.

***

Suara seorang lelaki mengucap salam dari luar. Aku menyahut sambil berjalan menuju asal suara. Lelaki itu datang lagi. Aneh, rasanya belum seminggu sejak kedatangannya yang terakhir. Seharusnya dia datang besok lusa.

"Eh, Mas, mau nabur kembang lagi?"

"Nggak, Mas, mau tambal ban. Bocor lagi," jawabnya.

Sejak tadi lelaki itu memerhatikan pemakaman, tapi ada gurat tanya di keningnya yang memaksaku untuk mencari tahu. Ternyata dia bingung, kemana nenek yang biasa berjualan kembang di dekat pemakaman itu?

"Oh, Nek Piah. Meninggal mas, kemarin lusa. Ditabrak mobil waktu nyeberang jalan mau pulang."

"Inalillahi!"

"Orangnya yang nabrak langsung kabur. Nggak tanggung jawab."

"Sudah dilaporkan ke polisi?"

"Mau dilaporkan gimana? Lihat nomor plat-nya juga nggak. Habisnya waktu itu kita semua panik. Pikiran ya cuma nyelamatin Nek Piah aja dulu, tapi beliau malah meninggal di tempat, dan anaknya juga sudah mengikhlaskan. Memang sudah waktunya."

Lelaki itu mengangguk tipis. Aku melihatnya yang kembali memerhatikan pemakaman. Kupikir mungkin dia akan ke sana untuk mencari makam Nek Piah, ternyata tidak. Setelah ban sepeda motornya usai kutambal, lelaki itu langsung berpamitan.

Kupikir, jika bukan hari ini, mungkin besok lusa dia akan ke pemakaman itu dan akan menemukan makam Nek Piah yang masih merah. Mungkin saja ia akan menaburkan kembang ke makam Nek Piah, namun esok lusanya lelaki itu tidak datang. Begitu pula dengan minggu-minggu berikutnya. Lelaki penabur kembang itu tidak pernah datang lagi.

***

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur

Mengenal Beberapa Suku Asli di Kalimantan Timur Part 1

Mengenal Suku Asli Kalimantan Timur Part 3